Jumat, 19 Februari 2016

Tetap mencoba, terus berjuang!

Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i)
***

Sekuat apa mesti berjuang?
Sekuat mungkin, dengan seluruh daya dan upaya yang dimiliki.
Kejar apa yang ingin dikejar.
Raih apa yang ingin diraih.
Selanjutnya, serahkan semua hasil akhirnya pada Dia yang Mahakuasa.

Jangan sampai ketika di usia 40, 50, 60 tahun dan seterusnya, kita menyesal, meratapi nasib, dan memaki diri sendiri,
"Seandainya ketika di usia 25 tahun saya dapat sedikit lebih bersabar terhadap usaha keras yang telah saya telah lakukan, mungkin keadaan akan jauh berbeda".

"Seandainya di usia 22 tahun saya berani untuk melakukan itu, mungkin kehidupan saya lebih baik dari saat ini".

Berhasil atau gagal adalah konsuekuensi dari usaha.
Keberhasilan adalah buah manis dari usaha. Sementara kegagalan adalah guru yang memberi banyak pengalaman dan pelajaran. Mencoba namun gagal adalah lebih baik ketimbang hanya diam karena takut gagal.

Hargai orang-orang yang menyayangi kita; ibu, ayah, kakak, adik, kerabat dan sahabat. Kita tidak akan pernah tahu akan meraih sukses di usia berapa, sebagaimana kita tidak tahu usia kita ataupun usia orangtua kita. Jangan sampai ketika impian tercapai, yang ada hanya sesal karena tidak memperhatikan mereka selagi mereka ada.

Bandung yang lagi Mendung,
2 Februari 2016
***
#dipersimpangan #bimbang #degdegan #berharap #doa  #pasrah #MencobaTenang

#KamitidaktakutGagal
#takutDikitSih
#CumaKarenaSeringGagal
#YaMauGimanaLagi

Kamis, 18 Februari 2016

Tentang Pengabdian

Ada doa yang selalu saya panjatkan setiap kali saya berdoa pada Sang Khalik. Doanya sederhana, "Ya Allah, jadikanlah saya orang yang dapat bermanfaat bagi orang banyak". Terdengar sederhana, klise, dan bagi sebagian orang mungkin terlihat bullshit. Tapi ini sangat penting bagi saya. Mengapa ini penting? Karena hingga kini, saya percaya bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Cerita kali ini bukan tentang saya, melainkan cerita mengenai orang yang saya temui ketika saya mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK) 55 LPDP beberapa waktu lalu. Sangat inspiratif! Cerita mereka semakin membuat saya yakin bahwa masih banyak orang-orang yang bekerja tanpa pamrih demi orang lain. 

Namanya Deddy Riangga Simanjuntak, Orang Batak kelahiran Jakarta. Karena sukunya, Saya memanggilnya Bang Deddy, seperti halnya panggilan yang saya sematkan kepada orang lain begitu saya mengtahui bahwa yang bersangkutan adalah orang dari Sumatera. Bang Deddy adalah seorang dokter lulusan Universitas Indonesia. Pertama kali saya berinteraksi dengan bang Deddy adalah melalui aplikasi obrolan Telegram. Ketika itu, saya terlibat dalam tugas PK di Bidang Pelayanan Kesehatan sebagai asisten dokter yang tugasnya adalah memastikan perlengkapan tersedia saat hari H.    

Orangnya baik dan ramah. Sikap yang meruntuhkan persepsi saya tentang orang-orang lulusan kedokteran. Sebenarnya bukan hanya karena bang Deddy, ada juga dr. Adit, dr. Levana, dan dokter-dokter lain penerima beasiswa dokter spesialis LPDP yang seangkatan dengan saya. Stereotipe bahwa semua lulusan kedokteran itu kaku, hedon, dan angkuh, langsung pupus seketika saat bertemu mereka. Cerita tentang teman inspiratif lainnya insyaaAllah akan saya tulis di kesempatan yang berbeda.

Saat saya menulis ini, bang Deddy tengah tugas di Papua, tepatnya Kabupaten Mamberamo Tengah. Sebuah daerah terpencil di ujung timur Indonesia. Ada cerita menarik dari beliau ketika sedang mengerjakan tugas Pra-PK. Tugas Pra-PK sendiri adalah tugas bejibun yang harus diselesaikan sebelum mengikuti PK. Tugasnya ada banyak, terlalu banyak bagi saya pribadi. Terlebih bagi yang sedang bekerja. Yang harus curi-curi waktu di sela jam kerja, atau terpaksa mengurangi waktu istirahat di rumah demi selesainya tugas Pra-PK. Namun demikian, pada akhirnya kami sadar bahwa ternyata tugas Pra-PK itu akan sangat berguna ketika kelak mengikuti PK dan Pasca PK -salah satunya adalah untuk membuka rekening tabungan-. Tugas-tugas tersebut harus diselesaikan dengan tenggat waktu tertentu dan harus dikirim via surel.

Bang Deddy bertugas di salah satu puskesmas terpencil yang ditempuh kira-kira 2 jam perjalanan dari kantor Pemkab. Dengan kondisi demikian, bisa ditebak seperti apa keterbatasan akses terhadap dunia luar terutama internet. Selama mengerjakan tugas Pra-PK, Bang Deddy harus ke kantor Pemkab untuk mengunduh daftar tugas, lalu pulang ke mess untuk mengerjakan tugas, dan kembali lagi ke Kantor Pemkab untuk mengirim tugas. Ribet? tentu saja iya. Tapi jujur, saya merasa bersalah terhadap diri sendiri yang sering mengeluh ketika mengerjakan tugas Pra-PK, sementara dari segi aksesibilitas dan fasilitas, keadaan saya jauh lebih baik dari bang Deddy.

Suatu hal yang saya salut dari bang Deddy adalah niat dan tekadnya untuk mengabdi di Papua. Bayangkan, betapa mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan untuk lulus menjadi seorang dokter. Tapi setelah lulus, lantas pergi begitu saja. Pergi ke suatu tempat yang jika tujuan utamanya adalah untuk balik modal dalam waktu singkat merupakan sesuatu yang agak mustahil. Yang jelas, persepsi Saya sebelumnya mengenai orang-orang dengan profesi mulia ini terlalu berlebihan, karena Saya hanya membandingkan sedikit sampel yang sikap mereka sangat bertolak belakang dengan dokter-dokter baik yang saya temui. Sedikit sampel yang membuat saya mengeneralisasi secara keseluruhan, dan terbukti salah.

Saya bertanya kepada bang Deddy tentang alasan dia memilih jalan tersebut. Jawabannya sederhana, dia ingin mengabdi kepada orang-orang yang memang sangat membutuhkan tenaga kesehatan. Selain itu, jiwa petualang-nya mungkin ikut andil ketika dia mengambil keputusan tersebut. Saya kemudian bertanya tentang banyak hal; mengenai suka-duka, dan tanggapan keluarga. Perbincangan dengan dokter yang akan melanjutkan studi master di Johns Hopkins University di hari penutupan PK itu kemudian membuka pikiran saya mengenai arti pengabdian secara lebih luas. Kehidupan modern yang cenderung materialistis mungkin telah membutakan mata hati kita untuk melihat bahwa pada dasarnya masyarakat masih membutuhkan karya kita untuk membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik di bidang apapun sesuai dengan bidang keahlian kita. Sekecil apapun andil Kita terhadap masyarakat, tentu lebih baik ketimbang sekadar melakukan pencitraan di media sosial.

Masyarakat membutuhkan kerja nyata dari kita, kerja konkret yang manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka. Tidak banyak orang-orang yang mampu menempuh pendidikan hingga level universitas apalagi hingga lulus S2. Jika setelah lulus kuliah kita lebih memilih bekerja di perusahaan asing atau perusahaan apapun yang menawarkan gaji besar dan fasilitas yang serba wah, lantas kemana lagi saudara-saudara kita yang membutuhkan berharap? Mereka yang tidak bisa membayar kecuali dengan ucapan terima kasih dan doa yang tulus. Saya sama sekali tidak mempersalahkan apakah lebih baik bekerja di bidang A atau bekerja di bidang B, untuk C atau untuk D. Karena bagaimanapun hal tersebut adalah ranah pribadi. Semua orang pasti memiliki preferensi tersendiri terhadap pilihan mereka. Dan kembali lagi, semua pekerjaan itu baik selama tidak melanggar hukum agama dan negara. Namun yang jelas, di mana pun kita bekerja, pastikan karya kita dapat bermanfaat bagi orang banyak.


Bandung, 18 Februari 2016

Dari dokumentasi pribadi Bang Deddy





Kamis, 22 Oktober 2015

Menghadiri Resepsi Pernikahan Mbak Titik

Lendah, Kulon Progo. Sebuah daerah yang berada pada jalur Pengunungan Menoreh yang dikenal sebagai daerah karst. Lapisan tanah di sini sangat tipis, yang melapisi kapur tebal di bawahnya.
Di beberapa lokasi, lapisan kapur tesingkap. Beberapa anak (mungkin) jurusan geologi terlihat sedang melakukan penelitian.

Dengan kondisi demikian, maka dapat dipastikan bahwa daerah ini adalah daerah kering, apalagi di musim kemarau. Wajar jika di sini penduduknya sedikit dan aktivitas ekonomi tidak begitu menggeliat. Plang dan marka jalan di sini memperlihatkan bahwa tempat ini juga beberapa kali menjadi lokasi KKN mahasiswa UGM.

Namun demikian, orang-orang di sini ternyata punya optimisme tinggi. Meskipun di musim kemarau seperti sekarang, orang-orang di sini tetap bercocok tanam. Air yang digunakan untuk menyiram tanaman berasal dari sumur di tengah kebun/sawah. Di permukaan memang kering kerontang, tapi di kedalaman tertentu terdapat sungai bawah tanah yang mengalir.

Optimisme dan sikap pantang menyerah yang sama juga dimiliki oleh mbak yang akan saya temui di hari itu. Meskipun berasal dari daerah pelosok, jarak rumah tetangga sangat jauh dan sulit dijangkau oleh kendaraan umum, Mbak Titik, begitu saya memanggilnya, berhasil lulus dari Geofisika UGM, bekerja di BMKG, Cum laude S2 ITB, dan yang paling membahagiakan adalah menikah setelah lika-liku perjalanan cinta yang rumit.

Yogyakarta, 13 September 2015
Lendah, Kulonprogo. Bukit latar belakang adalah bukit kapur.

Jadi Orang Jawa, Hehehehe

Selasa, 21 Oktober 2014

Harus Pakai Kacamata

Hari itu akhirnya saya putuskan untuk periksa mata di Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo.

Sudah lama saya merasakan gangguan di penglihatan mata saya. Namun belakangan rasanya makin parah.  Selain benda yang terlihat membayang, saya juga sering mengalami sakit kepala. Apalagi saat sedang berada di Ciwalk Mall, lantainya yang bergaris makin membuat kepala saya nyut-nyutan. Oya sebelumnya saya juga merasa pusing setiap menyetrika kemeja yang berstrip garis.

Lantai Ciwalk. Setiap kali berjalan di sini kepala saya pening dan garis-garisnya seperti berdenyut.


Besar curiga saya bahwa mata saya sedang bermasalah. Sebenarnya saya ingin memeriksakan mata saya sejak saya duduk di bangku kuliah S1 dulu. Namun karena alasan biaya membuat kacamata yang cukup mahal untuk ukuran saya saat itu, maka niat tersebut saya urungkan. Mitos yang saya percayai bahwa orang yang berkacamata itu pintar membuat saya makin enggan mengenakan kacamata. Saya tidak pintar, jadi saya pikir, saya tidak perlu mengenakan kacamata. Kacamata hanya untuk orang-orang pintar, untuk orang-orang yang sering baca buku, dan orang-orang yang sering berkutat mengerjakan rumus-rumus  Hehehe.. mitos yang benar-benar menyesatkan.
Akhirnya suatu pagi ketika bangun tidur, entah dapat ilham dari mana yang jelas saya harus periksa mata. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat browsing-browsing mengenai tempat periksa mata dan harga kacamata. Dan seperti yang saya katakan di awal, Saya pun memutuskan untuk periksa mata di RS Mata Cicendo. Alasannya sederhana, pertama murah, dan yang kedua ditangani langsung oleh dokter mata. Saya belum berani periksa mata di optik. Karena yang memeriksa adalah pelayan toko yang belum tentu hasil diagnosisnya bagus. Bagi saya urusan mata bukanlah hal yang sepele.

Saya berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Karena berdasarkan artikel-artikel yang saya baca di internet, antriannya akan sangat mebludak. Bahkan beberapa orang sampai membatalkan pemeriksaannya gara-gara tidak tahan menunggu berjam-jam.

Saya tiba di rumah sakit pukul 07.14 dan langsung mengambil nomor antrian.  Dan Huffftt... saya dapat nomor antrian 109. Yah, akhirnya saya memang perlu menyiapkan kesabaran ekstra. Lagi pula saya sadar diri, tempat yang murah dan bagus pasti dikerubungi banyak orang. Jika ingin antriannya cepat ya harus daftar antrian VIP yang bayarannya lebih dari Rp 100ribu. -___- Saya hanya berdoa mudah-mudahan semuanya selesai sebelum Jumatan.

Nomor antrian.


Dua jam kemudian nama saya dipanggil. Setelah membayar uang pendaftaran sebesar Rp 25rb, saya pun diarahkan untuk ke ruang refraksi. Sesampainya di sana, saya pun  harus kembali menunggu kurang lebih setengah jam.

Dan ini dia, nama saya akhirnya dipanggil. Untuk pemeriksaan awal, mata saya diperiksa dengan alat yang biasa terdapat ada di optik. Karena mbak-mbak yang periksa mata saya itu masih newbie, akhirnya pemeriksaan dilakukan dua kali. Dan untuk yang kedua, pemeriksaan diawasi oleh perawat yang senior.

Setelah itu, saya pindah ke tempat lain. Di sana saya disuruh mengenakan kacamata yang lensanya dapat diganti-ganti. Selain itu, kacamatanya juga diberi lubang yang kecil untuk melihat. Dan astaghfirulloh.. saat yang mata kanan saya yang di tes, mata kanan saya sama sekali tak dapat membaca huruf-huruf yang ada di tembok. Huruf-huruf itu menjadi berbayang dan bayangannya tumpang tindih satu sama lain. Sehingga menciptakan bentuk baru yang tidak bisa dikenali.

Perlahan-lahan satu demi satu lensa pun diganti. Cukup sulit mencari lensa yang cocok. Dan setelah didapat lensa yang dirasa cocok, saya pun disuruh untuk berjalan dengan mengenakan kacamata ujicoba tersebut.

Setelah itu, saya pindah ke tempat dokter. Ada dua Dokter.Dokternya cowok dan masih muda. Mungkin mereka dokter internship atau semacamnya. Yah, tak apalah, yang penting dokter.Tapi entah menapa, saya kok tiba-tiba merasa hilang antusias. Tampang dokter laki-laki itu bikin saya kesal, bete dan eghhh.. sok ganteng. Hahahaha.. Sebenarnya saya cukup kecewa, karena saat di ruang tunggu pendaftaran, yang berseliweran adalah dokter-dokter wanita yang kurang lebih sebaya sama saya. Hehehe.. Tapi mengapa saat di ruangan malah jauh beda dari yang saya harapkan. Hmmm.. Ok.. Bagaimanapun pemeriksaan harus terus berlanjut.

Dokter memeriksa saya denga menyalakan semacam senter. Selain itu, dokter menggunakan semacam penggaris dan  alat satu lagi yang saya tidak tahu namanya.

Setelah pemeriksaan selesai, acara pun dilanjutkan dengan sesi konsultasi. Dari pemeriksaan yang dilakukan, akhirnya didapatkan hasil bahwa semua mata saya minus 1/4 dan mata kanan terdapat silinder 0.5 axis 170 derajat. Saya bertanya pada dokter apakah saya harus menggunakan kacamata. Si dokter menjawab, jika saya merasa terganggu dengan kondisi ini sebaiknya saya menggunakan kacamata. Kemudian saya bertanya lagi apakah jika tidak menggunakan kacamata minus dan silindernya akan bertambah. Dokter menjawab bahwa dengan mengenakan kacamata setidaknya akan memperlambat kenaikan minus atau silinder yang kita alami. Dan ada banyak pertanyaan lainnya yang saya tanyakan ke sang dokter.

Yah, akhirnya saya putuskan untuk membuat kacamata. Pertimbangannya, kelainan mata ini membuat saya terganggu. Selain sakit kepala yang sering muncul, saya juga sering dibilang sombong gara-gara setiap bertemu di jalan saya tak pernah menyapa  dan cenderung cuek padahal melihat orang itu duluan. Padahal, saya memang benar-benar tak lihat. :'(



Mata normal
Mata silinder.
Seperti inilah penglihatan saya dengan mata kanan tanpa kacamata. Objek tidak jelas karena berbayang


Alasan berikutnya, saya tak mau silinder saya bertambah-tambah. Apalagi dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Oya, terakhir saya periksa mata di optik saat kuliah S1 dulu adalah mata kanan minus 0.25 dan mata kiri normal. Itu artinya, ada perubahan yang cukup signifikan. Dengan silinder dan minus segini saja sudah membuat saya menderita. Apalagi kalau lebih tinggi lagi.. :'(

Dokter kemudian membuat resep yang kemudian akan saya serahkan di optik rumah sakit. Lensa dan frame nya cukup murah lho. Selain itu kualitasnya cukup bagus. (Setidaknya itu pendapat teman saya yang berkacamata saat melihat kacamata saya). Selain itu, kacamatanya jadi dalam waktu satu jam.

Well, sejak saat itu saya putuskan untuk mengenakan kacamata. Tiga hari saya pakai tanpa bongkar pasang. Hasilnya tidak ada gangguan. kecuali memang kepala yang terasa aneh gara-gara ada benda asing yang menempel. Dan penglihatan saya pun jernih. Saya benar-benar baru merasakan bahwa dunia ternyata lebih indah dari apa yang saya lihat selama ini.

Namun di hari ke empat, saya bongkar pasang kacamata terutama tiap bertemu orang-orang tertentu. Alasannya sih karena saya malu ketahuan berkacamata. Hasilnya, kepala saya benar benar sakit pada hari itu.

Yah, mungkin sudah jalannya harus pakai kacamata. Mudah-mudahan tak terlihat aneh atau semacamnya.

**
Update: Ternyata minusnya 1 untuk mata kiri-kanan.


Belajar PD pakai kacamata.



Jumat, 26 September 2014

Relaksasi Viskoelastik

Relaksasi viskoelastik adalah suatu konsep baru mengenai deformasi pelepasan energi yang berkaitan dengan gempa bumi.  Dalam teori relaksasi viskoelastik, deformasi dan pelepasan energi pasca gempa bumi akan terus terjadi bahkan hingga puluhan tahun. Hal ini berbeda dengan pandangan umum bahwa pasca gempa bumi, terjadi pelepasan energi hingga habis, kemudian terjadi akumulasi kembali, pelepasan dan seterusnya.

Gempa bumi yang terjadi akan memicu beberapa jenis deformasi, antara lain:
  1. After slip, yaitu slow slip yang terjadi setelah gempa bumi pada bidang sesar, baik di atas maupun di bawah.
  2. Relaksasi viskoelastik, merupakan deformasi yang terjadi akibat respons material viskos terhadap perubahan stress yang terkait dengan gempa bumi.
  3. Deformasi poroelastik, yang merupakan deformasi yang terjadi pada lapisan yang berongga dan secara umum bersifat lokal terhadap bidang sesar.
Saat ini masih terjadi perdebatan mengenai sifat dan dinamika yang terjadi pada wilayah yang aktif secara tektonik. Dua pendapat utama tersebut antara lain:
  1. Zona  deformasi merupakan suatu zona yang terdiri dari lempeng rigid homogen yang dibatasi oleh sesar dalam skala litosfer.
  2. Benua bersifat kontinum dan tidak homogen. Secara umum, teori ini membagi litosfer menjadi tiga lapisan yaitu litosfer atas yang bersifat keras, padat, dan memiliki sifat elastis; bagian tengah yang bersifat britle; dan lapisan terbawah yang bersifat ductile, karena terjadi kontak langsung dan terpengaruh oleh lapisan mantel. Dalam pendapat ini, terdapat pengaruh aliran material viskos di bagian litosfer yang bersifat lemah dan ductile terhadap lapisan litosfer secara keseluruhan.
Jika model blok rigid benar, maka deformasi diperkirakan akan terlokalisir di sepanjang zona shear yang ke zona seismogenik. Bahkan mungkin ke seluruh litosfer. Jika model kontinum benar, maka ductile creep diperkirakan berada pada beberapa bagian litosfer, dan mungkin akan terjadi decoupling pada kerak yang bersifat elastik brittle dari bagian mantel atas.

Jika model blok rigid benar, maka seharusnya prediksi gempa bumi akan lebih mudah. Karena mengikuti pola mengikuti model siklus gempa Reid. Baca disini. Namun kenyataannya, pola gempa bumi tidak beraturan, baik magnitudo maupun waktunya.
Pola Gempa bumi ideal menurut Reid

Pola gempabumi yang magnitudo maupun jeda waktu yang sulit diprediksi (Sieh dan Natawidjaja et al 2008).

Teori relaksasi viskoelaastis pada litosfer merupakan pengembangan dari teori viskoelastik yang berlaku pada material lainnya. Dalam teori ini, pola pemulihan/recovery suatu benda pasca mendapatkan gaya akan berbeda tergantung dari material yang dikandungnya. Contoh: Pemulihan pegas sangat berbeda dengan pemulihan yang terjadi pada dashpot atau benda yang bersifat plastis. Benda yang bersifat elastis akan kembali ke bentuk semula dengan cepat. Sementara benda yang bersifat plastis setelah mendapat gaya tidak ada proses pemulihan.

Untuk lebih jelas mengenai percobaan viskoelastik, silahkan lihat video berikut:



Pada litosfer, relaksasi viskoelastik juga terjadi. Hal ini dapat kita lihat dari pengamatan deformasi pasca gempa yang terekam oleh GPS.

Model Kontinum litosfer dan pengaruhnya terhadap pola deformasi

Deformasi yang terjadi pasca gempa bumi Arequipa (Perfettini, 2004)


Perbadingan pola deformasi dari beberapa postseismic deformation.
Pola siklus gempa menurut Perfettini, 2005.
Dari beberapa pola deformasi yang ada, Perfettini menyakini bahwa pola interseismik yang terjadi tidak pernah benar benar stasioner seperti yang dikemukakan oleh Reid.


Kamis, 25 September 2014

Siklus Gempabumi


Gempa  bumi  terjadi  akibat  adanya  bidang  temu  antar  lempeng  yang  terkunci  sehingga menghasilkan tekanan dan regangan yang sifatnya temporal dan spasial.  Akumulasi  energi  kompressional  dan  ekstensional  yang  telah  melewati  batas  elastisitas  batuan  akan  dilepaskan  sebagai  gelombang  gempa,  baik  dalam  arah  horizontal maupun vertikal.


Pergeseran tanah dan evolusi regangan di dekat sesar berdasarkan teori elastic rebound oleh Reid.


Gempa yang terjadi di waktu tertentu akan terulang lagi di masa yang akan datang dalam  periode  waktu tertentu, berlangsung  dalam  kurun  waktu  puluhan  hingga  ribuan  tahun.  Data  mengenai  siklus  gempa  bumi  pada  suatu  daerah  dapat  diperoleh  dari  catatan  sejarah  gempa  yang  didokumentasikan  atau  melalui penelitian  geologi,  seperti  penelitian  stratigrafi  batuan,  terumbu  karang,  paleotsunami, dan paleoseismologi.



Gempa  bumi  mempunyai  sifat  berulang, suatu gempa yang terjadi di waktu  tertentu akan terulang lagi di masa yang akan datang dalam periode waktu tertentu.  Istilah  perulangan  gempa  ini  dinamakan  siklus  gempa  bumi (Thatcher, 1984). Di  dalam  satu  siklus  gempa  bumi  terdapat  beberapa  tahapan  mekanisme  terjadinya  gempa  bumi  yang  disertai  dengan  terjadinya  deformasi  pada kerak bumi. Tahapan terjadinya gempa bumi ini biasa disebut dengan siklus  seismik  (seismic  cycle).  Secara  garis  besar,  siklus  seismik  dibagi  dalam  tiga  fase  yaitu:  inter-seismiccoseismic,  dan  postseismic. Siklus  ini  dapat  dilihat  dari  times  series  hasil  pengolahana  data  GPS  yang  terdapat  pada  gambar    berikut  ini

Siklus gempa bumi (Perfettini, 2004)


Tahapan  interseismik  merupakan  tahapan  awal  dari  suatu  siklus  gempa  bumi,  energi  dari  dalam  bumi  menggerakkan  lempeng  kemudian  terjadi  akumulasi  energi  di beberapa  bagian  lempeng  tempat  biasanya  terjadi  gempa  bumi  (batas  antar  lempeng  dan  sesar).  Tahapan  koseismik  adalah  tahapan  ketika  terjadinya  gempa  bumi.  Tahapan  poseismik  adalah  tahapan  ketika  sisa-sisa  energi  gempa  terlepaskan  secara  perlahan  dalam  kurun  waktu  yang  lama  sampai  kondisi  kembali ke tahap awal. 


Contoh siklus gempa mentawai berdasarkan studi terumbu karang. (Sieh & Natawidjaja et al 2008)


Artikel yang terkait dengan siklus gempa bumi: Relaksasi Viskoelastik



Selasa, 23 September 2014

Pendidikan dan pembentukan pola pikir




Heboh berita tentang berita yang tersebar secara viral di media sosial saat ini, membuat saya ingin ikut-ikutan komentar. Tapi di sini saya tidak ingin mengkritik melainkan berbagi pengalaman pribadi selama menimba ilmu di sekolah dasar.

Saya bukan anak pintar apalagi jenius. Bukan pula juara kelas kesayangan guru apalagi peraih medali emas olimpiade. Saya adalah golongan medioker. Golongan rata-rata. Golongan yang ada ataupun tidak ada tak akan berpengaruh terhadap kondisi kelas.

Ngomong-ngomong tentang perkalian, saya pertama kali menerima pelajaran itu ketika kelas 2 SD. Saat itu, kami dituntut untuk hafal perkalian 1 sampai 10. Teman-teman saya banyak yang berusaha menghafal, begitu juga saya. Apalagi ada ujian lisan perkalian di mana bagi yang tidak hafal akan mendapatkan hukuman. Minimal hukumannya adalah berdiri tegak di kelas.

Tapi, bagi yang berotak lemah seperti saya, menghafal adalah sesuatu yang mengerikan. Jadi, saya memutuskan berhenti untuk menghafal.

Dan bisa ditebak hasilnya, saya selalu kena hukum dan nilai matematika saya hancur. Hahahaha..

Perkalian yang saya hafal adalah perkalian 1, 2, 5, dan 10. Itupun bukan karena saya menghafal, melainkan karena hasilnya membentuk deret yg mudah untuk diingat. Contoh: perkalian 1 hasilnya 1,2,3,4,5,..,10.
Perkalian 5 hasilnya 5,10,15,20,.., 50.

Selanjutnya untuk perkalian 3,4,6,7,8,9 saya menggunakan logika sendiri yang didasarkan pada perkalian yg saya hafal.

Contohnya, jika ada soal 4 x 6 maka hasilnya adalah 4+4+4+4+4+4 =24.
Dan jika ada soal 6x4 hasilnya adalah 6x6x6x6=24.

Tidak praktis, rumit, dan bertele-tele. Hal itulah yang menyebabkan setiap kali ulangan, saya selalu telat mengumpulkan. Saya selalu menghitung penjumlahan tersebut di dalam otak saya. Hasilnya, beberapa kali konsentrasi saya buyar sehingga harus menghitung ulang dari awal. Tapi kabar baiknya, saya sedari awal tahu mengapa 6x4 hasilnya 24.

Setidaknya, cara seperti ini mengajari saya untuk berusaha berfikir objektif  ketika menghadapi berbagai macam permasalahan dan  menutut saya untuk mempelajari akar permasalahannya terlebih dahulu.

Perkembangan menyerap pelajaran saya lambat. Tapi tidak masalah. Toh saya tidak peduli dengan nilai. Saya juga tidak mengerti apa itu arti ranking 1. Sebagai catatan, saya mendaftar SD ketika usia saya baru saja menginjak 5 tahun. Dan kata ibu saya, saya termasuk anak yang telat bicara. Saya baru bisa bicara ketika menginjak usia 2 tahun.

Jadi, orang tua saya tidak marah ketika di raport saya ada tiga angka merah yang bertengger saat bagi raport kelas 1 catur wulan 1. Mereka cukup mahfum.

Saat saya kecil saya hanya akan melakukan sesuatu jika saya menyukainya.

Hal baik yang saya miliki ketika SD adalah saya bisa membaca selepas kelas 1 catur wulan 1. Jujur, dapat membaca adalah anugerah terindah dari tuhan bagi saya. Sejak itu beberapa buku saya baca. Itupun bukan buku pelajaran, melainkan cerita-cerita dongeng, majalah anak-anak, ataupun tentang kehidupan hewan. Kadang judul headline koran selalu saya baca. Selain itu, saya berhasil menamatkan komik misteri Petruk Gareng karya Tatang Suhenra sekali duduk.

Saya selalu membaca ketika saya bosan dengan pelajaran sekolah. Daripada saya frustasi karena saya sekolah hanya untuk membuktikan bahwa saya tidak bisa apa-apa dan juga selalu dihukum, maka lebih baik saya membaca.

Selain matematika, saya juga bodoh di pelajaran lain.

Saat pelajaran kesenian, Saya menggambar sebuah gunung dan mewarnainya dengan warna hitam. Padahal teman teman saya menggambar 2 buah gunung dengan matahari di tengahnya dan mewarnainya dengan warna biru. Dan kata mereka gambar saya jelek lagi salah. Mana ada gunung berwarna hitam.

Kadang saya menggambar mata, hidung & mulut saat menggambar matahari. Gambar yang selalu dicoret ibu guru dan beliau mengatakan bahwa gambar saya tidak masuk akal. Hasilnya, nilai terbaik saya di pelajaran kesenian adalah 6.

Pelajaran bahasa Indonesia juga sama, selalu dapat ponten kurang dari 7. Tata bahasa saya kacau & sulit dimengerti.

PPKN? Hahahaha.. nasibnya juga sama. Ceritanya ada soal pilihan ganda, saya lupa detilnya, tapi soalnya kurang lebih seperti ini:
Ibu pulang dari pasar dengan membawa banyak barang apa yang akan kamu lakukan?
A. Membantu ibu membawa barang.
B. Memanggil orang lain untuk membantu ibu.
C. Tidak melakukan apa-apa

Saya jawab B, karena yang saya tahu, setiap pulang dari pasar, belanjaan ibu cukup berat. Jadi saya akan memanggil kakak saya untuk membantu ibu, atau kakak sepupu saya yg sudah besar yang  saat itu tinggal menumpang di rumah kami.

Hasilnya, tentu jawaban saya salah besar karena jawaban yang benar adalah A.
***

Namun di balik apa yang saya ceritakan di atas, masih banyak hal menarik ketika SD dulu yang masih saya ingat. Walau dalam beberapa hal, ada juga momen yang tidak menyenangkan.

Saya tidak pernah mau menyalahkan guru. Guru-guru sudah mengajar dengan sangat baik [Semoga semua orang yang pernah mengajar saya mendapatkan pahala dan rahmat yang selalu mengalir dari Allah Subhanawataa'laa]. Hanya saja, saya berbeda dengan yang lain. Saya kurang pintar, jadi saya mencari jalan lain yang nyaman untuk saya.

Kadang jalan itu salah, dan kadang jalan  itu benar. Dan saya belajar untuk menerima apapun konsekuensi dari pilihan yang saya ambil. Saya pernah mengambil pilihan yang salah, yaitu menyontek dan langsung ketahuan. Saya pun menerima konsekuensi terburuk dari pilihan saya itu. Menghasilkan trauma yang membekas hingga kini. Saya sempat minder selama berbulan-bulan. Berjalan pun seperti anak babi yang berjalan tunduk. Saya mengurangi interaksi dengan orang lain, dan hanya bicara dengan sahabat-sahabat terdekat. Benar-benar  pelajaran yang berharga.

Pengalaman demi pengalaman yang saya alami membuat saya tidak terlalu memikirkan nilai. Keuntungan untuk tidak terikat dengan angka-angka adalah kita tidak takut untuk duduk di manapun ketika ujian. Jadi nilai saya sejak SD hingga kuliah selalu fluktuatif. Tergantung dari kemampuan saya menyerap pelajaran.

Saya pernah dapat nilai 4 di raport dan saya juga pernah dapat nilai 9. Saya pernah dapat nilai E, D, C, B dan A selama kuliah. Saya pernah dapat IP 2,3 dan saya juga pernah dapat IP nyaris 4.
--

Saya ingin mengatakan bahwa ada banyak hal-hal baik yang bisa kita dapatkan ketika kita menghargai sebuah proses. Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil ketika kita berjalan di jalan yang kita pilih. Dan tentu saja, dengan membaca akan memperluas cakrawala berpikir kita.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk menjadi taqwa.
1+1+1+0,6+0,2+0,2=4
2x2=4
2+2=4
3+2-1=4
((8÷2)^(1÷2))+ (sin(30))+((9^(1÷2))÷((100^(1÷2))÷(25^(1÷2)))) = 4

Banyak jalan. Dan jalan yang kita pilih tergantung dari kebutuhan kita.

Kita akan tahu kapan kita sebaiknya mengunakan 4x6 atau 6x4 saat kita membutuhkan hasil 24.

Dari keberagaman cara berpikir ini pula saya belajar untuk berani memiliki pendapat yang berbeda dan menghormati pendapat orang lain yang berbeda dari saya.

Proses demi proses itulah yang akhirnya akan membentuk idealisme dan kemandirian. Bagi saya prinsip hidup atau idealisme itu baik, selama tidak bertentangan dengan moral yang berlaku umum dan juga norma agama. Sementara, kemandirian membuat kita tidak ketergantungan dengan uluran tangan dan belas kasih orang lain.

Apa untungnya memiliki prinsip atau idealisme dan kemandirian?

Yang saya tahu idealisme dan kemandirian itu bukan faktor utama yang dapat menjadikan kita kaya, bukan penentu untuk membuat kita dapat diterima di perusahaan bonafit, tidak menjamin kita dapat naik jabatan, dan yang jelas akan membuat semakin banyak yang tidak menyukai kita.

Banyak yang mengatakan saya bodoh, kurang cekatan, lemah, tidak berguna, jelek, tidak gaul, sok alim, sok pintar, munafik, dll. Bahkan bagi yang merasa lebih kuat atau berkuasa, mereka mengatakannya langsung di depan wajah saya.

So what? Paling tidak saya masih punya kehidupan. Dan kehidupan saya tidak bergantung pada mereka. Hahahaha..

Yang jelas, beberapa keuntungan tidak bergantung pada orang lain adalah tidak akan ada yang bisa mengatur, menindas, atau membungkam kita secara sewenang-wenang.

Ketika ada orang yang coba mengintimidasi, maka kita masih punya pilihan untuk bersikap; lawan atau tinggalkan. Jangan pernah mau jadi korban intimidasi.

Ketika orang lain merebut  hak kita, maka kita masih ada usaha untuk merebut kembali. Bahkan saat di posisi kita lemah sekalipun.

Ketika disakiti, hati kita akan sakit. Tapi kita tidak akan dendam.

Hidup itu menyenangkan jika didasari pada prinsip saling menghormati, bukan karena saling berusaha mendominasi, pada prinsip sama rata  sama rasa, bukan karena salah satu takut terhadap yang lain.

Hanya kita yang tahu tentang diri kita sendiri. Sedangkan orang lain hanya menilai hasil akhir dari proses panjang yang kita jalani.

Dan yang pasti, ada  peran luar biasa dari  Yang Mahakuasa ketika kita berusaha dan dibarengi dengan doa yang tiada berputus.

Salam.

Senin, 27 Januari 2014

Diskusi Mengenai Gempa Kebumen

Berikut ini adalah penjelasan dari para ahli gempa mengenai mekanisme gempa di Kebumen 25 Januari 2014.
Tulisan ini saya copy dari diskusi para ahli gempa di status Facebook berikut komentarnya dari akun Pak Irwan Meilano, seorang ahli gempa ITB yang juga dosen saya. Mudah-mudah bermanfaat. :)



Gempa selatan Jawa Tengah (selatan Cilacap-Kebumen) Magnitude 6.5. Sumber gempa berjarak 40km dari garis pantai pada kedalaman 88km. 

Berdasarkan kedalamannya maka gempa berada pada bidang benioff. Mekanisme gempa yaitu thrusting (sesar naik) dan terkait dengan aktivitas subduksi. Karena lokasi gempanya cukup dalam, maka goncangan dirasakan di wilayah cukup luas, bahkan sampai pantai utara Jawa.
Irwan Meilano Maaf sedikit koreksi : mekanismenya bukan sesar naik tetapi sesar turun

Rovicky Dwi Putrohari Saya masih ga ngerti kenapa di benioff zone kok bisa sesar normal ? Bagaimana kinematikanya karena pikiran saya disitu compression zone, bukan extension. Cmiiw.

Awang Satyana Pak Rovicky Putrohari, bidang miring zone Benioff itu panjang, sekitar 700 km. Zona kompresi di Benioff zone hanya ada di tempat dangkal terutama di wilayah kontak/ intercept antara lempeng benua dan lempeng samudera di tempat terjadinya interlocking antarlempeng karena dalam posisi saling menekan. Lepas dari zona intercept ini, yang secara vertikal bisa sampai kedalaman sekitar 50 km bergantung kepada tebal kerak benua dan akresinya dan kemiringan subduksi, tak ada lagi dominasi compressive stress. Di kedalaman di bawah intercept itu justru bisa tension stress sebagai release tension atas compressive stress di intercept. Dan makin ke bawah Benioff, terutama lebih dalam dari 300 km justru normal faulting yang dominan, disebabkan: slab pull dari bawah Benioff zone, rigiditas lempeng litosfer yang berubah, dan gerak tunjaman downgoing plate serta extension yang dialaminya (implikasi rheology yang berubah).

Rovicky Dwi Putrohari Trimakasih penjelasannya pak Pak Awang, apakah gaya ini merupakan efek gravitasi juga sebagai gaya utamanya ? Kalau berada di downgoing yang kedalamannya sudah di bawah moho memang logis bila ada extension. tetapi kalau sangat dalam mengapa penyebarannya lebih luas ? bukannya "ray-path"-nya melalui mantel atas yang lunak justru gelombangnya terredam disitu. Jalur 1 atau 2 cmiiw.


Awang Satyana Pak Rovicky Putrohari, iya gravitasi oleh slab pull dan tension release adalah kinematika deformasi utamanya. Makin dalam pusat gempa bisa makin luas spektrum pengaruh getarannya secara regional, tetapi tidak bisa terlalu dalam karena harus mempertimbangkan rheology slab dan mantel sekelilingnya. Gelombang dari pusat gempa menengah atau dalam, yang terjadi di lempeng samudera (slab EQ) berpropagasi dengan dua cara (yang sudah digambarkan itu), cara no 2 adalah yang utama sebab rigiditas lempeng tetap lebih tegar dibandingkan astenosfer di sekeliling subducted slab. Cara no 1 terjadi melalui perambatan gelombang seperti berjalannya gelombang air di atas permukaan kolam ketika kita melemparkan batu ke dalam kolam. Ini merambat lebih lambat sebab rheology mantel lain dengan slab. Semakin dalam gempanya, semakin lemah cara no 1 ini. Gempa kemarin, dengan kedalaman 87 km sebenarnya di transisi antara gempa dangkal dan menengah. Sehingga, cara no. 2 adalah yang utama dan menyebabkan kerusakan puluhan rumah roboh di Jawa Tengah bagian selatan. Lalu cara no 1 meskipun lebih lambat tetap dirasakan oleh orang2 di Jakarta, Bandung, juga beberapa kota di pantura Jawa. Perjalanan gelombang dari media semi-rigid seperti astenosfer ke media rigid seperti kerak benua belum tentu teredam Pak, bisa saja malahan teramplifikasi kalau energi gelombang saat transfer dari media semi-rigid ke rigid masih cukup di atas nilai kritisnya untuk mengalami atenuasi.

Surono Mbah Rono Wah jika hanya krn gaya berat yg berperan, jarak titik gaya tertinggi thd pusat bumi sangat kecil, sangat tdk masuk akal bila menghasilkan energi besar hingga 6.3 SR lebih. Pasti ada gaya yg lbh besar dr gaya gravitasi, saya lbh percaya gaya dorong dr lempeng Australia. Resultante: gaya berat dan gaya dorong lempeng Australia dan cosinus sudut miring penunjaman tsb yg "pegang peran penting pemicu gempa Kebumen". Resultante tsb yg mirip "tarikan kebawah". Bagian yg lunak tdk meredam energi gelombanh, peran dia hanya memperlambat cepat rambat gelombang gempa "krn ada kontras impedansi yg tinggi yg merupaka perbandingan perkalisn rapat masa dan cepat rambat gelombang pd lapisan yg betbeda". Contras impedansi ini yg membuat gelombang langsung akan lbh lambat dibanding gelombang yg terefraksi antara bidang batas dua lapisan yg punya kontras impedansi yg tinggi". Krn kedalaman sumber gempa tsb; sehengga gempa tsb bersifat "far-fied" dirasakan meluas bukan "near-field". Semoga kengawuran ini menambah mumet di hari minggu yg cerah di Jkt. Salam he he he
Awang Satyana Mbah Rono, kengawuran yang bermanfaat he2.., paling tidak buat diskusi, sepakat untuk perambatan gelombang seismik di media dengan impedansi yang berbeda, hanya melambatkan bukan meredam. Sepakat juga dengan efek far field dan near field. Soal gravitasi dalam slab pull hanya gravitasi lokal di ruang litosfer dan mantel bagian atas saja, bukan gravitasi global dari surface ke inner core. Slab semakin masuk ke dalam subduction zone semakin tua dan berat, sehingga punya internal gravity yang lebih besar dibandingkan slab yang masih dangkal di litosfer. Jadi terdapat kesetimbangan gravitasi antara upper slab dan lower slab, yang manifestasinya extensional stress di intermediate slab berupa sesar2 normal. Kalau gaya dorong lempeng, yang kita kenal sebagai ridge push dari mid-oceanic ridge di tengah Samudera Hindia di batas antara Australia dan Antarktika saya pikir terlalu jauh dan ridge-push cenderung menghasilkan kompresi bukan ekstensi. Semoga tidak menambah mumet Mbah...
Rovicky Dwi Putrohari Gambar dibawah ini mungkin lebih proporsional dalam skala yg lebih tepat. Ini menunjukkan bila kedalaman gempa berada dibawah ketebalan kerak maka mungkin akan sangat berkurang efek kompresinya. Tapi saya tidak bisa memperkirakan seberapa jauh perubahan rezim kompresi ke rezim ekstensi ini. Saya sepakat pendapat Pak Surono bahwa efek kompresinya mungkin masih cukup besar karena episenternya belum terlalu dalam (~80 km). Gempa-gempa sangat dalam >300Km memang seringkali terjadi dengan kekuatan besar dengan hasil analisa tensor yg menunjukkan ekstensi. 
Dengan mengetahui posisi titik belok "raypath-2", yang masih dibawah laut ini mungkin akan membantu dalam memahami mengapa di pinggir pantai kerusakannya sangat hebat. Titik pusat kerusakan bisa jadi tidak harus di hiposenter-nya. cmiiw, ikutan ngawur hari minggu sambil nyruput teh 
Awang Satyana Ya Pak Rovicky Putrohari, bisa dilihat dari "beach ball" gempa ini, atau moment tensor solution/ focal mechanism solution- nya bahwa gempa kemarin tidak murni normal faulting, masih ada komponen kompresi nya dengan strike WNW-ESE. Saya pikir itu wajar saja sebab pusat gempa berada di posisi intermediate antara yang dominan kompresi di atasnya dengan yang dominan ekstensi di slab makin ke bawah. Kerusakan di hiposentrum hanya rupture, yang akan ditentukan oleh rigiditas batuan, sementara kerusakan di permukaan oleh propagasi ray path seismic wave akibat datangnya gelombang2 gempa yang berturut2 dari gelombang P, S, dan surface waves.

Irwan Meilano terimakasihi informasinya Awang Satyana, p Surono Mbah Rono, pRovicky Dwi Putrohari: gempa yang dihasilkan slab pull (down-dip extension) bisa menghasilkan gempa besar dan merusak seperti gempa chile M7.8 thn 1939 dengan korban 30ribu jiwa. Beberapa peneliti setuju bahwa down-dip extension merupakan indikasi bahwa terdapat strong-coupled di interface. Sehingga potensi gempa pada bidang yang lebih dangkal dari subduksi lebih besar. Sangat setuju bahwa geometri dari slab mengontrol mekanisme slab-pull atau slab-push (tension), perubahan arah dip ke yg lebih curam mendorong kemungkinan slab-pull lebih besar.