Tampilkan postingan dengan label Ada Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ada Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Tetap mencoba, terus berjuang!

Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i)
***

Sekuat apa mesti berjuang?
Sekuat mungkin, dengan seluruh daya dan upaya yang dimiliki.
Kejar apa yang ingin dikejar.
Raih apa yang ingin diraih.
Selanjutnya, serahkan semua hasil akhirnya pada Dia yang Mahakuasa.

Jangan sampai ketika di usia 40, 50, 60 tahun dan seterusnya, kita menyesal, meratapi nasib, dan memaki diri sendiri,
"Seandainya ketika di usia 25 tahun saya dapat sedikit lebih bersabar terhadap usaha keras yang telah saya telah lakukan, mungkin keadaan akan jauh berbeda".

"Seandainya di usia 22 tahun saya berani untuk melakukan itu, mungkin kehidupan saya lebih baik dari saat ini".

Berhasil atau gagal adalah konsuekuensi dari usaha.
Keberhasilan adalah buah manis dari usaha. Sementara kegagalan adalah guru yang memberi banyak pengalaman dan pelajaran. Mencoba namun gagal adalah lebih baik ketimbang hanya diam karena takut gagal.

Hargai orang-orang yang menyayangi kita; ibu, ayah, kakak, adik, kerabat dan sahabat. Kita tidak akan pernah tahu akan meraih sukses di usia berapa, sebagaimana kita tidak tahu usia kita ataupun usia orangtua kita. Jangan sampai ketika impian tercapai, yang ada hanya sesal karena tidak memperhatikan mereka selagi mereka ada.

Bandung yang lagi Mendung,
2 Februari 2016
***
#dipersimpangan #bimbang #degdegan #berharap #doa  #pasrah #MencobaTenang

#KamitidaktakutGagal
#takutDikitSih
#CumaKarenaSeringGagal
#YaMauGimanaLagi

Kamis, 22 Oktober 2015

Menghadiri Resepsi Pernikahan Mbak Titik

Lendah, Kulon Progo. Sebuah daerah yang berada pada jalur Pengunungan Menoreh yang dikenal sebagai daerah karst. Lapisan tanah di sini sangat tipis, yang melapisi kapur tebal di bawahnya.
Di beberapa lokasi, lapisan kapur tesingkap. Beberapa anak (mungkin) jurusan geologi terlihat sedang melakukan penelitian.

Dengan kondisi demikian, maka dapat dipastikan bahwa daerah ini adalah daerah kering, apalagi di musim kemarau. Wajar jika di sini penduduknya sedikit dan aktivitas ekonomi tidak begitu menggeliat. Plang dan marka jalan di sini memperlihatkan bahwa tempat ini juga beberapa kali menjadi lokasi KKN mahasiswa UGM.

Namun demikian, orang-orang di sini ternyata punya optimisme tinggi. Meskipun di musim kemarau seperti sekarang, orang-orang di sini tetap bercocok tanam. Air yang digunakan untuk menyiram tanaman berasal dari sumur di tengah kebun/sawah. Di permukaan memang kering kerontang, tapi di kedalaman tertentu terdapat sungai bawah tanah yang mengalir.

Optimisme dan sikap pantang menyerah yang sama juga dimiliki oleh mbak yang akan saya temui di hari itu. Meskipun berasal dari daerah pelosok, jarak rumah tetangga sangat jauh dan sulit dijangkau oleh kendaraan umum, Mbak Titik, begitu saya memanggilnya, berhasil lulus dari Geofisika UGM, bekerja di BMKG, Cum laude S2 ITB, dan yang paling membahagiakan adalah menikah setelah lika-liku perjalanan cinta yang rumit.

Yogyakarta, 13 September 2015
Lendah, Kulonprogo. Bukit latar belakang adalah bukit kapur.

Jadi Orang Jawa, Hehehehe

Selasa, 21 Oktober 2014

Harus Pakai Kacamata

Hari itu akhirnya saya putuskan untuk periksa mata di Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo.

Sudah lama saya merasakan gangguan di penglihatan mata saya. Namun belakangan rasanya makin parah.  Selain benda yang terlihat membayang, saya juga sering mengalami sakit kepala. Apalagi saat sedang berada di Ciwalk Mall, lantainya yang bergaris makin membuat kepala saya nyut-nyutan. Oya sebelumnya saya juga merasa pusing setiap menyetrika kemeja yang berstrip garis.

Lantai Ciwalk. Setiap kali berjalan di sini kepala saya pening dan garis-garisnya seperti berdenyut.


Besar curiga saya bahwa mata saya sedang bermasalah. Sebenarnya saya ingin memeriksakan mata saya sejak saya duduk di bangku kuliah S1 dulu. Namun karena alasan biaya membuat kacamata yang cukup mahal untuk ukuran saya saat itu, maka niat tersebut saya urungkan. Mitos yang saya percayai bahwa orang yang berkacamata itu pintar membuat saya makin enggan mengenakan kacamata. Saya tidak pintar, jadi saya pikir, saya tidak perlu mengenakan kacamata. Kacamata hanya untuk orang-orang pintar, untuk orang-orang yang sering baca buku, dan orang-orang yang sering berkutat mengerjakan rumus-rumus  Hehehe.. mitos yang benar-benar menyesatkan.
Akhirnya suatu pagi ketika bangun tidur, entah dapat ilham dari mana yang jelas saya harus periksa mata. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat browsing-browsing mengenai tempat periksa mata dan harga kacamata. Dan seperti yang saya katakan di awal, Saya pun memutuskan untuk periksa mata di RS Mata Cicendo. Alasannya sederhana, pertama murah, dan yang kedua ditangani langsung oleh dokter mata. Saya belum berani periksa mata di optik. Karena yang memeriksa adalah pelayan toko yang belum tentu hasil diagnosisnya bagus. Bagi saya urusan mata bukanlah hal yang sepele.

Saya berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Karena berdasarkan artikel-artikel yang saya baca di internet, antriannya akan sangat mebludak. Bahkan beberapa orang sampai membatalkan pemeriksaannya gara-gara tidak tahan menunggu berjam-jam.

Saya tiba di rumah sakit pukul 07.14 dan langsung mengambil nomor antrian.  Dan Huffftt... saya dapat nomor antrian 109. Yah, akhirnya saya memang perlu menyiapkan kesabaran ekstra. Lagi pula saya sadar diri, tempat yang murah dan bagus pasti dikerubungi banyak orang. Jika ingin antriannya cepat ya harus daftar antrian VIP yang bayarannya lebih dari Rp 100ribu. -___- Saya hanya berdoa mudah-mudahan semuanya selesai sebelum Jumatan.

Nomor antrian.


Dua jam kemudian nama saya dipanggil. Setelah membayar uang pendaftaran sebesar Rp 25rb, saya pun diarahkan untuk ke ruang refraksi. Sesampainya di sana, saya pun  harus kembali menunggu kurang lebih setengah jam.

Dan ini dia, nama saya akhirnya dipanggil. Untuk pemeriksaan awal, mata saya diperiksa dengan alat yang biasa terdapat ada di optik. Karena mbak-mbak yang periksa mata saya itu masih newbie, akhirnya pemeriksaan dilakukan dua kali. Dan untuk yang kedua, pemeriksaan diawasi oleh perawat yang senior.

Setelah itu, saya pindah ke tempat lain. Di sana saya disuruh mengenakan kacamata yang lensanya dapat diganti-ganti. Selain itu, kacamatanya juga diberi lubang yang kecil untuk melihat. Dan astaghfirulloh.. saat yang mata kanan saya yang di tes, mata kanan saya sama sekali tak dapat membaca huruf-huruf yang ada di tembok. Huruf-huruf itu menjadi berbayang dan bayangannya tumpang tindih satu sama lain. Sehingga menciptakan bentuk baru yang tidak bisa dikenali.

Perlahan-lahan satu demi satu lensa pun diganti. Cukup sulit mencari lensa yang cocok. Dan setelah didapat lensa yang dirasa cocok, saya pun disuruh untuk berjalan dengan mengenakan kacamata ujicoba tersebut.

Setelah itu, saya pindah ke tempat dokter. Ada dua Dokter.Dokternya cowok dan masih muda. Mungkin mereka dokter internship atau semacamnya. Yah, tak apalah, yang penting dokter.Tapi entah menapa, saya kok tiba-tiba merasa hilang antusias. Tampang dokter laki-laki itu bikin saya kesal, bete dan eghhh.. sok ganteng. Hahahaha.. Sebenarnya saya cukup kecewa, karena saat di ruang tunggu pendaftaran, yang berseliweran adalah dokter-dokter wanita yang kurang lebih sebaya sama saya. Hehehe.. Tapi mengapa saat di ruangan malah jauh beda dari yang saya harapkan. Hmmm.. Ok.. Bagaimanapun pemeriksaan harus terus berlanjut.

Dokter memeriksa saya denga menyalakan semacam senter. Selain itu, dokter menggunakan semacam penggaris dan  alat satu lagi yang saya tidak tahu namanya.

Setelah pemeriksaan selesai, acara pun dilanjutkan dengan sesi konsultasi. Dari pemeriksaan yang dilakukan, akhirnya didapatkan hasil bahwa semua mata saya minus 1/4 dan mata kanan terdapat silinder 0.5 axis 170 derajat. Saya bertanya pada dokter apakah saya harus menggunakan kacamata. Si dokter menjawab, jika saya merasa terganggu dengan kondisi ini sebaiknya saya menggunakan kacamata. Kemudian saya bertanya lagi apakah jika tidak menggunakan kacamata minus dan silindernya akan bertambah. Dokter menjawab bahwa dengan mengenakan kacamata setidaknya akan memperlambat kenaikan minus atau silinder yang kita alami. Dan ada banyak pertanyaan lainnya yang saya tanyakan ke sang dokter.

Yah, akhirnya saya putuskan untuk membuat kacamata. Pertimbangannya, kelainan mata ini membuat saya terganggu. Selain sakit kepala yang sering muncul, saya juga sering dibilang sombong gara-gara setiap bertemu di jalan saya tak pernah menyapa  dan cenderung cuek padahal melihat orang itu duluan. Padahal, saya memang benar-benar tak lihat. :'(



Mata normal
Mata silinder.
Seperti inilah penglihatan saya dengan mata kanan tanpa kacamata. Objek tidak jelas karena berbayang


Alasan berikutnya, saya tak mau silinder saya bertambah-tambah. Apalagi dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Oya, terakhir saya periksa mata di optik saat kuliah S1 dulu adalah mata kanan minus 0.25 dan mata kiri normal. Itu artinya, ada perubahan yang cukup signifikan. Dengan silinder dan minus segini saja sudah membuat saya menderita. Apalagi kalau lebih tinggi lagi.. :'(

Dokter kemudian membuat resep yang kemudian akan saya serahkan di optik rumah sakit. Lensa dan frame nya cukup murah lho. Selain itu kualitasnya cukup bagus. (Setidaknya itu pendapat teman saya yang berkacamata saat melihat kacamata saya). Selain itu, kacamatanya jadi dalam waktu satu jam.

Well, sejak saat itu saya putuskan untuk mengenakan kacamata. Tiga hari saya pakai tanpa bongkar pasang. Hasilnya tidak ada gangguan. kecuali memang kepala yang terasa aneh gara-gara ada benda asing yang menempel. Dan penglihatan saya pun jernih. Saya benar-benar baru merasakan bahwa dunia ternyata lebih indah dari apa yang saya lihat selama ini.

Namun di hari ke empat, saya bongkar pasang kacamata terutama tiap bertemu orang-orang tertentu. Alasannya sih karena saya malu ketahuan berkacamata. Hasilnya, kepala saya benar benar sakit pada hari itu.

Yah, mungkin sudah jalannya harus pakai kacamata. Mudah-mudahan tak terlihat aneh atau semacamnya.

**
Update: Ternyata minusnya 1 untuk mata kiri-kanan.


Belajar PD pakai kacamata.



Selasa, 23 September 2014

Pendidikan dan pembentukan pola pikir




Heboh berita tentang berita yang tersebar secara viral di media sosial saat ini, membuat saya ingin ikut-ikutan komentar. Tapi di sini saya tidak ingin mengkritik melainkan berbagi pengalaman pribadi selama menimba ilmu di sekolah dasar.

Saya bukan anak pintar apalagi jenius. Bukan pula juara kelas kesayangan guru apalagi peraih medali emas olimpiade. Saya adalah golongan medioker. Golongan rata-rata. Golongan yang ada ataupun tidak ada tak akan berpengaruh terhadap kondisi kelas.

Ngomong-ngomong tentang perkalian, saya pertama kali menerima pelajaran itu ketika kelas 2 SD. Saat itu, kami dituntut untuk hafal perkalian 1 sampai 10. Teman-teman saya banyak yang berusaha menghafal, begitu juga saya. Apalagi ada ujian lisan perkalian di mana bagi yang tidak hafal akan mendapatkan hukuman. Minimal hukumannya adalah berdiri tegak di kelas.

Tapi, bagi yang berotak lemah seperti saya, menghafal adalah sesuatu yang mengerikan. Jadi, saya memutuskan berhenti untuk menghafal.

Dan bisa ditebak hasilnya, saya selalu kena hukum dan nilai matematika saya hancur. Hahahaha..

Perkalian yang saya hafal adalah perkalian 1, 2, 5, dan 10. Itupun bukan karena saya menghafal, melainkan karena hasilnya membentuk deret yg mudah untuk diingat. Contoh: perkalian 1 hasilnya 1,2,3,4,5,..,10.
Perkalian 5 hasilnya 5,10,15,20,.., 50.

Selanjutnya untuk perkalian 3,4,6,7,8,9 saya menggunakan logika sendiri yang didasarkan pada perkalian yg saya hafal.

Contohnya, jika ada soal 4 x 6 maka hasilnya adalah 4+4+4+4+4+4 =24.
Dan jika ada soal 6x4 hasilnya adalah 6x6x6x6=24.

Tidak praktis, rumit, dan bertele-tele. Hal itulah yang menyebabkan setiap kali ulangan, saya selalu telat mengumpulkan. Saya selalu menghitung penjumlahan tersebut di dalam otak saya. Hasilnya, beberapa kali konsentrasi saya buyar sehingga harus menghitung ulang dari awal. Tapi kabar baiknya, saya sedari awal tahu mengapa 6x4 hasilnya 24.

Setidaknya, cara seperti ini mengajari saya untuk berusaha berfikir objektif  ketika menghadapi berbagai macam permasalahan dan  menutut saya untuk mempelajari akar permasalahannya terlebih dahulu.

Perkembangan menyerap pelajaran saya lambat. Tapi tidak masalah. Toh saya tidak peduli dengan nilai. Saya juga tidak mengerti apa itu arti ranking 1. Sebagai catatan, saya mendaftar SD ketika usia saya baru saja menginjak 5 tahun. Dan kata ibu saya, saya termasuk anak yang telat bicara. Saya baru bisa bicara ketika menginjak usia 2 tahun.

Jadi, orang tua saya tidak marah ketika di raport saya ada tiga angka merah yang bertengger saat bagi raport kelas 1 catur wulan 1. Mereka cukup mahfum.

Saat saya kecil saya hanya akan melakukan sesuatu jika saya menyukainya.

Hal baik yang saya miliki ketika SD adalah saya bisa membaca selepas kelas 1 catur wulan 1. Jujur, dapat membaca adalah anugerah terindah dari tuhan bagi saya. Sejak itu beberapa buku saya baca. Itupun bukan buku pelajaran, melainkan cerita-cerita dongeng, majalah anak-anak, ataupun tentang kehidupan hewan. Kadang judul headline koran selalu saya baca. Selain itu, saya berhasil menamatkan komik misteri Petruk Gareng karya Tatang Suhenra sekali duduk.

Saya selalu membaca ketika saya bosan dengan pelajaran sekolah. Daripada saya frustasi karena saya sekolah hanya untuk membuktikan bahwa saya tidak bisa apa-apa dan juga selalu dihukum, maka lebih baik saya membaca.

Selain matematika, saya juga bodoh di pelajaran lain.

Saat pelajaran kesenian, Saya menggambar sebuah gunung dan mewarnainya dengan warna hitam. Padahal teman teman saya menggambar 2 buah gunung dengan matahari di tengahnya dan mewarnainya dengan warna biru. Dan kata mereka gambar saya jelek lagi salah. Mana ada gunung berwarna hitam.

Kadang saya menggambar mata, hidung & mulut saat menggambar matahari. Gambar yang selalu dicoret ibu guru dan beliau mengatakan bahwa gambar saya tidak masuk akal. Hasilnya, nilai terbaik saya di pelajaran kesenian adalah 6.

Pelajaran bahasa Indonesia juga sama, selalu dapat ponten kurang dari 7. Tata bahasa saya kacau & sulit dimengerti.

PPKN? Hahahaha.. nasibnya juga sama. Ceritanya ada soal pilihan ganda, saya lupa detilnya, tapi soalnya kurang lebih seperti ini:
Ibu pulang dari pasar dengan membawa banyak barang apa yang akan kamu lakukan?
A. Membantu ibu membawa barang.
B. Memanggil orang lain untuk membantu ibu.
C. Tidak melakukan apa-apa

Saya jawab B, karena yang saya tahu, setiap pulang dari pasar, belanjaan ibu cukup berat. Jadi saya akan memanggil kakak saya untuk membantu ibu, atau kakak sepupu saya yg sudah besar yang  saat itu tinggal menumpang di rumah kami.

Hasilnya, tentu jawaban saya salah besar karena jawaban yang benar adalah A.
***

Namun di balik apa yang saya ceritakan di atas, masih banyak hal menarik ketika SD dulu yang masih saya ingat. Walau dalam beberapa hal, ada juga momen yang tidak menyenangkan.

Saya tidak pernah mau menyalahkan guru. Guru-guru sudah mengajar dengan sangat baik [Semoga semua orang yang pernah mengajar saya mendapatkan pahala dan rahmat yang selalu mengalir dari Allah Subhanawataa'laa]. Hanya saja, saya berbeda dengan yang lain. Saya kurang pintar, jadi saya mencari jalan lain yang nyaman untuk saya.

Kadang jalan itu salah, dan kadang jalan  itu benar. Dan saya belajar untuk menerima apapun konsekuensi dari pilihan yang saya ambil. Saya pernah mengambil pilihan yang salah, yaitu menyontek dan langsung ketahuan. Saya pun menerima konsekuensi terburuk dari pilihan saya itu. Menghasilkan trauma yang membekas hingga kini. Saya sempat minder selama berbulan-bulan. Berjalan pun seperti anak babi yang berjalan tunduk. Saya mengurangi interaksi dengan orang lain, dan hanya bicara dengan sahabat-sahabat terdekat. Benar-benar  pelajaran yang berharga.

Pengalaman demi pengalaman yang saya alami membuat saya tidak terlalu memikirkan nilai. Keuntungan untuk tidak terikat dengan angka-angka adalah kita tidak takut untuk duduk di manapun ketika ujian. Jadi nilai saya sejak SD hingga kuliah selalu fluktuatif. Tergantung dari kemampuan saya menyerap pelajaran.

Saya pernah dapat nilai 4 di raport dan saya juga pernah dapat nilai 9. Saya pernah dapat nilai E, D, C, B dan A selama kuliah. Saya pernah dapat IP 2,3 dan saya juga pernah dapat IP nyaris 4.
--

Saya ingin mengatakan bahwa ada banyak hal-hal baik yang bisa kita dapatkan ketika kita menghargai sebuah proses. Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil ketika kita berjalan di jalan yang kita pilih. Dan tentu saja, dengan membaca akan memperluas cakrawala berpikir kita.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk menjadi taqwa.
1+1+1+0,6+0,2+0,2=4
2x2=4
2+2=4
3+2-1=4
((8÷2)^(1÷2))+ (sin(30))+((9^(1÷2))÷((100^(1÷2))÷(25^(1÷2)))) = 4

Banyak jalan. Dan jalan yang kita pilih tergantung dari kebutuhan kita.

Kita akan tahu kapan kita sebaiknya mengunakan 4x6 atau 6x4 saat kita membutuhkan hasil 24.

Dari keberagaman cara berpikir ini pula saya belajar untuk berani memiliki pendapat yang berbeda dan menghormati pendapat orang lain yang berbeda dari saya.

Proses demi proses itulah yang akhirnya akan membentuk idealisme dan kemandirian. Bagi saya prinsip hidup atau idealisme itu baik, selama tidak bertentangan dengan moral yang berlaku umum dan juga norma agama. Sementara, kemandirian membuat kita tidak ketergantungan dengan uluran tangan dan belas kasih orang lain.

Apa untungnya memiliki prinsip atau idealisme dan kemandirian?

Yang saya tahu idealisme dan kemandirian itu bukan faktor utama yang dapat menjadikan kita kaya, bukan penentu untuk membuat kita dapat diterima di perusahaan bonafit, tidak menjamin kita dapat naik jabatan, dan yang jelas akan membuat semakin banyak yang tidak menyukai kita.

Banyak yang mengatakan saya bodoh, kurang cekatan, lemah, tidak berguna, jelek, tidak gaul, sok alim, sok pintar, munafik, dll. Bahkan bagi yang merasa lebih kuat atau berkuasa, mereka mengatakannya langsung di depan wajah saya.

So what? Paling tidak saya masih punya kehidupan. Dan kehidupan saya tidak bergantung pada mereka. Hahahaha..

Yang jelas, beberapa keuntungan tidak bergantung pada orang lain adalah tidak akan ada yang bisa mengatur, menindas, atau membungkam kita secara sewenang-wenang.

Ketika ada orang yang coba mengintimidasi, maka kita masih punya pilihan untuk bersikap; lawan atau tinggalkan. Jangan pernah mau jadi korban intimidasi.

Ketika orang lain merebut  hak kita, maka kita masih ada usaha untuk merebut kembali. Bahkan saat di posisi kita lemah sekalipun.

Ketika disakiti, hati kita akan sakit. Tapi kita tidak akan dendam.

Hidup itu menyenangkan jika didasari pada prinsip saling menghormati, bukan karena saling berusaha mendominasi, pada prinsip sama rata  sama rasa, bukan karena salah satu takut terhadap yang lain.

Hanya kita yang tahu tentang diri kita sendiri. Sedangkan orang lain hanya menilai hasil akhir dari proses panjang yang kita jalani.

Dan yang pasti, ada  peran luar biasa dari  Yang Mahakuasa ketika kita berusaha dan dibarengi dengan doa yang tiada berputus.

Salam.

Senin, 30 Desember 2013

Imajinasi; Dongeng Ayah



Kemarin, saya temukan panggung boneka ini dan iseng-iseng saya memainkannya, mencoba untuk menghidupkan boneka tersebut seperti apa yang ada dalam imajinasi saya. Kali ini, ceritanya tentang Meerkat Manoor versi saya. :D

Bicara mengenai imajinasi, Saya percaya, bahwa salah satu tujuan Tuhan menganugahkan kita otak adalah supaya kita bisa berimajinasi. Imajinasi mampu membuat kita menembus sebuah dimensi antah barantah, yang mungkin dimensi itu hanya ada di dalam imajnasi kita. Kita menjadi orang yang benar-benar merdeka ketika berimajinasi, dan kita pun bisa menjadi apa saja ketika kita berimajinasi. Namun, seperti anugrah tuhan lainnya, imajinasi adalah sebuah kenisbian, ia bisa membentuk seseorang, tergantung dari seperti apa pemilik imajinasi tersebut menggunakannya.

Imajinasi membuat kita mampu melampaui jauh dari keadaan kita sekarang. Film Star Trek yang muncul sejak tahun 60-an dan disusul sekuelnya pada tahun-tahun berikutnya adalah contoh betapa Imajinasi lebih dahulu memunculkan perangkat teknologi canggih seperti Ponsel, Ipad, teleconfrence, dan Google glass.

Ada sedikit cerita yang ingin saya bagikan mengenai imajinasi.
Ketika saya kecil dulu, Ayah saya, selalu memberikan cerita pengantar tidur kepada kami anak-anaknya. Dan kami, selalu antusias mendengarkan cerita dari Ayah. Menurut saya, ayah adalah seorang pendongeng terkeren sedunia. Cerita yang beliau bawakan adalah cerita rakyat, seperti si Kancil, si Mahmut, beruk jama labi-labi (Kera dan Kura-kura),  Kancil vs Raksasa Brumbumkuyung, Raksasa Gergasi, dan cerita-cerita lainnya.  Ketika ayah bercerita, kami pasti selalu meperhatikan dengan seksama, terdiam, sambil berimajinasi dan mencoba memvisualisasikan tokoh-tokoh yang diceritakan ayah. Terkadang, kami selalu tertawa ketika mendengar adegan lucu di tengah cerita.

 Ayah bercerita secara lisan menggunakan bahasa Lampung, dan tanpa buku teks apalagi gambar. Di setiap akhir cerita, beliau selalu menyampaikan pesan moralnya.  Tiap kali ayah bercerita, suara dan mimiknya pun ikut bercerita sesuai dengan alur yang berjalan. Biasanya, Ayah selalu membuka cerita dengan kalimat, "Wat ceritaaaa,Jaman timbai hurik....." dengan suara yang dibuat ngebas. Lalu, suaranya berganti-ganti tergantung tokoh apa yang sedang berbicara, Ayah juga terkadang memegang perutnya untuk memvisualkan adegan Raksasa yang sedang dikerjai kancil sambil teriak "Aguy, aguy..", Suara ngebas "Dum.. Dum.. dum.." untuk suara berat raksasa yang berjalan, dan tawa menggelagar untuk raksasa yang tertawa.

Momen ayah bercerita adalah momen yang selalu kami tunggu, Karena di momen seperti itulah ayah menjadi sosok yang menyenangkan. Selain di momen itu, ayah adalah sosok yang keras, bahkan kadang menakutkan, terutama kalau sedang marah, Hahahaha. Bisa dibilang, mendongeng adalah penyeimbang karakter ayah yang sangat keras itu.

==
Seperti halnya, beliau membebaskan kami berimajinasi saat mendongeng, ayah pun selalu membebaskan kami dalam menjalani hidup. Sejak kecil, Dia tak pernah memaksa kami untuk  sekolah di mana atau menjadi apa kelak. Dia benar-benar membebaskan kami dalam memilih, termasuk dalam hal pemikiran. Ayah selalu membebaskan kami berargumen ketika iya menayakan alasan kami memilih sesuatu. Bahkan hingga kini pun, ayah selalu menyuruh kami menyanggah pernyataan dia, jika apa yang dia sampaikan tidak sesuai dengan pemikiran kami.
Ayah dan Bunda lah yang selalu menuntun kami bagaimana cara berbicara yang santun ketika berargumen dan mengajarkan kata-kata apa saja yang boleh dan tidak boleh dipakai ketika berbicara dengan orang lain.

Terkadang, saya melihat roman kecewa ketika kami memilih sesuatu yang sebenarnya tidak ia harapkan, namun sekali lagi, sedikitpun ia tidak komplain dengan pilihan kami. Pesan ayah pada kami tidak muluk-muluk, Ayah percaya pada kami dan kami harus menjaga kepercayaan itu. Ayah dan Bunda telah memberikan pendidikan moral dari rumah  dengan kurikulum terbaik  dan dengan cara penyampaian yang mampu menancap di dalam hati. Perlu diketahui, bahwa ayahlah  orang yang pertama kali mengajarkan kami shalat, dan membaca huruf hijaiyah setiap habis maghrib. Mereka percaya bahwa kami mampu bertanggungjawab pada diri sendiri.

==

Menjelang tahun 2014 ini, mungkin saya juga harus mencoba berimajinasi tentang apa yang akan terjadi pada hidup saya selama tahun itu, lalu mencoba menyusun rencana demi rencana supaya imajinasi itu menjadi  sebuah realitas. :D


Bismillah. Innallaha ma a'na




Rabu, 06 November 2013

Kematian itu...


Hari ini, saya dapat kabar duka lagi. Dan lagi-lagi dari orang yang usianya tak jauh berbeda, sama-sama angkatan 2007 saat kami masuk kuliah.  Padahal, baru seminggu kemarin, saya dapat kabar bahwa adik tingkat saya yang satu jurusan di S1 meninggal dunia. Dan beberapa minggu sebelumnya, saya juga mendapat kabar bahwa adik tingkat  saya di almamater  yang sama meninggal dunia. Penyebabnya pun beragam. Ada yang tenggelam, sakit, dan meninggal begitu saja ketika tidur.

Kejadian yang beruntun ini, kembali mengingatkan saya bahwa kematian itu memang sangat dekat.  Sedekat udara yang kita hirup dan yang kita hembuskan. Ia selalu bersama dengan kita dengan mengikuti ritme aliran darah yang dipompa jantung. Kematian baru akan berhenti mengikuti di saat kita telah mati dan menjadi bagian dari kematian itu sendiri. Bersamaan dengan berhentinya hembusan nafas dan sirkulasi darah.

Saya sempat berpikir bahwa  mungkin kematian itu sederhana. Nafas berhenti dan detak jantung berhenti. Setelah itu kita tidak akan merasakan apa-apa lagi, dikubur, dan kita tidak memiliki urusan lagi dengan apapun itu di dunia ini. Mungkin rasanya akan sama seperti sebelum kita lahir ke dunia ini. Tidak merasakan apa-apa, hampa dan kosong. Sederhana bukan? Bukankah kita baru tahu bahwa kita ini manusia hidup setelah setahun atau dua tahun setelah kita dilahirkan?. 

Tapi ternyata, kematian tidaklah sesederhana itu. Ia begitu kompleks, dan begitu sulit dipahami terutama mengenai kapan ia akan datang. Dan ketika ia datang, apakah kita sudah siap? Sayangnya, entah siap atau tidak, kita tidak bisa mengelak. Kita tidak bisa memajukan ataupun memudurkan meskipun satu detik.

Kematian melibatkan masa lalu, masa ketika mengalami proses kematian, dan pasca kematian.  Kematian adalah perkara ghaib dan misterius. Meskipun ilmu pengetahuan telah dapat mengetahui dan menjelaskan penyebab kematian, entah karena penyakit atau kecelakaan, namun ada banyak hal dari kematian yang hingga kini masih misteri –ini menurut saya-. Sebagai orang yang beragama, saya percaya sepenuhnya dengan apa yang diajarkan agama saya mengenai kematian dan kehidupan setelah kematian. Saya tidak mau menerka-nerka lebih jauh lagi mengenai hal-hal ghaib seputar kematian karena saya memang tidak tahu apa-apa. Cukup agama menjadi pegangan saya ketika menyinggung kematian dan kehidupan pasca kematian.

Kematian di usia muda yang beruntun dalam beberapa minggu ini, kembali mencuatkan rasa kepo saya. Jika seandainya malaikat maut menjemput saya hari ini, apakah ada ilmu yang telah saya tinggalkan? Adakah hal yang membuat orang bisa ingat bahwa saya pernah hidup? Apakah hidup saya sudah bermanfaat untuk orang lain? Apakah dengan lahirnya saya ke dunia ini telah memberikan pengaruh baik terhadap kehidupan? paling tidak terhadap orang-orang di lingkungan saya?  Adakah amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir  hingga saya meninggal dunia?

Sejenak saya terdiam dan bermuhasabah diri, sambil mencari-cari jawaban atas pertanyaan rasa kepo saya.  Saya buka file-file yang tersimpan dalam server otak saya, berharap segera mendapatkan jawabannya. Dan hasilnya, saya tidak menemukan apa-apa. Sungguh, airmata ini tanpa diperintah,langsung meyembul dari sudut mata dan perlahan merembes. Ternyata hingga saat ini saya memang belum menjadi apa-apa dan belum berbuat apa-apa. Saya jadi makin malu pada diri sendiri.

Saya selalu kagum dengan Nabi Muhammad, hingga 14 abad semenjak wafatnya, ajarannya masih dipeluk oleh > 1,4 Miliar manusia, Alkhawarizmi yang ilmu algoritmanya masih dipakai hingga sekarang, Isaac Newton yang hukum-hukumnya masih dipelajari, Thomas Alva Edison yang penemuannya masih bisa menerangi rumah di malam hari, serta masih banyak lagi orang—orang  yang telah tiada, namun karya mereka masih bermanfaat untuk umat manusia. Dan hingga kini saya masih menjadi pengagum mereka namun saya belum bisa menjadi seperti mereka. Mudah-mudahan nama saya kelak bisa berdampingan dengan nama-nama orang yang telah memberikan manfaatnya kepada dunia.

Saya terkadang iri dengan mereka yang rela mengorbankan diri mereka demi orang lain. Ada banyak kisah nyata yang terjadi di sekitar saya. Ada seorang ibu yang rela mengorban dirinya untuk melindungi bayinya dari reruntuhan bangunan ketika gempa. Seorang pemimpin organisasi kemahasiswaan yang akhirnya meninggal karena berusaha menyelamatkan anggotanya. Seorang sahabat yang lapar namun lebih memilih memberikan makanan yang ia miliki kepada temannya. Seorang guru yang ikhlas mengajar meski dihimpit oleh berbagai keterbatasan. Dan seorang ayah yang selalu berkata “kamu jangan pikirkan mengenai uangnya, ayah akan selalu berusaha demi kamu”.

Terkadang, kita dihadapkan pada suatu pilihan yang benar-benar sulit. Pilihan yang sampai mempertaruhkan nyawa dan kepentingan kita sendiri bila kita jalani atau penyesalan seumur hidup jika kita abaikan. Mengenai pilihan mana yang akan kita ambil, itu kembali pada pribadi masing-masing.

Mereka yang telah menjalaninya adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang yang biasa berbuat hal-hal baik. Artinya, butuh proses dan pembiasaan hingga akhirnya bisa timbul sifat yang selalu ingin berkorban untuk orang lain. Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan rahmat, kasih sayang, serta balasan yang jauh lebih baik kepada mereka yang rela berkorban demi orang lain.


**

Kembali ke masalah kematian. Sungguh saya selalu berharap ketika kematian itu datang, ada kontribusi positif yang telah saya lakukan. Entah itu kepada masyarakat luas, ataupun orang-orang di sekitar saya. Meskipun itu bukanlah hal yang besar, paling tidak ada saya telah melakukan sesuatu demi orang lain dan hadirnya saya di dunia ini bukan sekadar omong kosong.

Tak penting seberapa panjang usia kita, yang penting adalah seberapa besar hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Orang yang paling sial adalah orang yang umurnya pendek, tapi sama sekali tak ada manfaatnya untuk orang lain.


 Bandung, 5 November 2013








Senin, 28 Oktober 2013

Pelajar SMP bikin video mesum, Mengapa mesti risau?

Dulu (bahkan sampai sekarang), ketika banyak orang mencibir Ariel, Luna dan Cut Tari atas videonya, orang-orang itu pasti membantah “kayak kalian yg paling suci aja”. Lalu, ketika banyak orang yang meminta Ariel-Luna dihukum seberat-beratnya karena karena khawatir dampak buruk yang disebarkan ke masyarakat, orang-orang itu berkata “Itu tergantung pendidikan dari rumah”, “Jangang suka men-judge, kalian bukan tuhan”, “biarlah tuhan yang menghukum”. Sedangkan pengacara-pengacara artis tersebut berkata “itu koleksi pribadi, mereka tidak salah yang salah adalah yang menyebarkan, mereka (Ariel-Luna-Cut Tari) adalah korban (?)”

Semakin kita mengutuk aksi Ariel-Luna-Cut tari, maka kitalah yang salah, kitalah yang kuno, kitalah yang sudah ketinggalan zaman. Seolah-olah hak kita untuk melindungi keluarga kita dari dampak yang ditimbulkan adalah bentuk dari sikap ultrakonservatif yang norak dan harus ditinggalkan. Standar moral kita harus diganti, harus lebih “western” dan harus lebih “terbuka”, supaya kita bisa maju dan sejajar dengan negara-negara barat yang lebih liberal. Urus moral masing-masing dan Jangan sok suci!.

Paradigma masyarakat digiring untuk menganggap bahwa yang protes kasus video mesum adalah pihak yang salah. Memberi sanksi pidana atau sanksi sosial tidak akan memperbaiki keadaan, Biarkan mereka “bertobat (?)“, biarkan mereka terus berkarya, dan urus moral masing-masing.

***
Beberapa hari belakangan masyarakat kembali ramai dengan beredarnya video mesum dua siswa SMPN 4 Jakarta. Lah, Mengapa mesti kaget? Mengapa tiba-tiba prihatin? Mengapa malah menyalahkan sekolah? Mengapa malah menuding orangtuanya karena tidak becus mengurus anak?


Toh, Ariel Noah yang sudah jelas-jelas sudah berzina dengan Cut Tari dan Luna Maya, tetap dijadikan idola oleh masyarakat. Tidak hanya oleh anak muda, ibu-ibu yang mengggendong anak kecil pun rela antri demi tiket konser si Ariel. Ibu-ibu hamil juga tak mau kalah, mengusap-usap perut berharap sambil berharap agar si jabang bayi kelak bisa seperti Ariel (Yakin, Lo?). Jessica Iskandar sampai menyisipkan bab khusus tentang betapa dia sangat mengidolakan Ariel dalam buku yang dia rilis.

Masih sangat jelas di ingatan saya ketika pertama kali Ariel ditahan, fans-nya yang kebanyakan ABG perempuan menangis histeris melihat idolanya ditahan. Ahmad Dhani membuat konser yang bertajuk “free Ariel/bebaskan Ariel”. Bahkan saat Ariel bebas, banyak pihak yang merayakan kebebasannya. Seolah-olah merayakan bebasnya  pahlawan revolusinya kebebasan berekspresi dari penjara moral yang sudah usang.
Begitu meriahnya, bahkan Ariel dan bandnya, Noah, langsung menggelar konser di beberapa negara lintas benua dalam waktu 24 Jam, memecahkan rekor dunia. Inspiratif!

Belum cukup sampai sana, sang aktor utama dalam video itupun bersama band-nya menjadi brand ambassador salah satu provider telekomunikasi, Instant messaging, dan pembersih wajah dengan jargon “ganteng maksimal”.

Dan bagaimana dengan Luna dan Cut Tari? Tenang, masyarakat sudah memaafkan mereka. Televisi pun yang sejak awal mem-blow up pemberitaan ini makin berlomba-lomba memakai mereka untuk mengisi acara; Iklan, sinetron, host musik, host infotainment, tarik suara, dan modelling; Semua demi rating. Lihatlah tayangan infotainment dulu ketika kasus video Ariel mencuat, sedikitpun naratornya tidak menganggap bahwa video mesum itu merupakan pelanggaran moral apalagi dosa.
Terbukti kan, video mesum tidak akan menghancurkan karir mu di dunia entertainment, tapi malah makin mengantarkanmu pada polularitas yang lebih.

Ariel, Luna, Cut Tari, bagaimanpun luar biasa karyanya (Sori, menurut gue biasa aja dan gue gak begitu suka dengan lagu-lagunya Noah), mereka tetaplah duta perzinahan. Dan faktanya, mereka sudah mempromosikan perzinahan sampai ke luar negeri. Gaung video Ariel sudah mendunia. Bahkan di Jepang, Ariel-Luna-Cut Tari menjadi cover majalah dewasa. Dan bersama para pendukungnya, mereka telah menanamkan ke benak banyak orang terutama generasi muda, bahwa zinah itu normal, zinah itu wajar, zinah itu tidak salah, dan zinah itu adalah urusan pribadi. Dan itu berhasil. Bangsa Indonesia akhirnya bisa lebih maju daripada Hongkong. Edison Chen, aktor Hongkong yang foto-foto mesumnya beredar, malu untuk kembali ke Hongkong. Selain itu, dia juga tidak sanggup menerima sanksi sosial masyarakat hongkong yang masih “konservatif“.


Setiap orang yg mengidolakan mereka (Ariel cs), maka akan sedikit banyak maklum dengan perzinahan itu. Kan yang dilihat karyanya, bukan moralnya. Jangan sok suci deh.

Nah, kalau orang yang sudah jelas-jelas “bikin film” dengan isteri orang saja masih kita jadikan idola, masih bisa memperoleh Award, lantas mengapa kita mesti prihatin dan miris ketika melihat film hasil karya anak-anak SMP yang merekam adegan porno di sekolahnya? Toh, kelakuan mereka tidak berbeda dari sang idolanya. Kan yang dilihat karyanya, bukan moralnya. Jangan sok suci deh.

Bdg 27-9-2013
Salam, Adi Yuza

Kamis, 22 Agustus 2013

Nurani


Zaman sekarang, antara haq dan yang batil telah berbaur dan tercampur aduk. Seperti adonan roti yang dicampur dengan pemanis, pengawet dan pewarna buatan. Memang rotinya enak, sedap dipandang, dan aromanya menggugah. Tetapi tetap saja berbahaya bagi tubuh.

Orang mengatakan bahwa sulit membedakan antara yang haq dan yang batil. Tentu saja sulit jika menggunakan kacamata kerongkongan, perut, selangkangan, dan kacamata jasmani lainnya.

Tuhan menganugrahkan kita nurani. Yang dengannya kita bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Seperti halnya indera  kita yang bisa membedakan antara manisnya siklamat dan gula aren, serta kuningnya tartrazin dengan kunyit.

Nurani kita selalu bicara setiap kita melakukan sesuatu yang batil. Ketika kita mencoba berbohong, bergosip, menipu, mencuri, memakan harta yang haram, korupsi dll, ia akan membuat dada kita berdebar kencang, terkadang kita berkeringat dingin. Nurani merespon dengan membuat kita merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuh kita sendiri. Tapi sayang, tak sedikit orang yang mengabaikan jeritan nurani atau malah mematikannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perbuatan-perbuatan itu pun dianggap wajar, tubuh dipaksa membiasakan diri dengan perbuatan buruk ataupun menyerap zat-zat dari harta-harta haram. Sebagaimana tubuh beradaptasi  terhadap benda-benda asing yang masuk kedalam tubuh. Efeknya memang bukan sekarang, tapi pasti akan terjadi. Tahukah kita bahwa  sebenarnya perlu bertahun-tahun untuk terjadi serangan jantung, stroke, diabetes, ginjal, kanker dan penyakit-penyakit orang kaya lainnya. Penyakit-penyakit itu memang datang seperti mendadak, namun tanpa disadari, kita sendirilah yang memelihara mereka selama bertahun-tahun.

Semua ada prosesnya. Mau ke surga ada prosesnya, mau ke neraka pun juga ada prosesnya. Jadi orang baik penuh resiko, tapi jadi orang jahat pun tak kalah banyak resikonya. Bedanya, hal-hal baik mengandalkan nurani dan akal sehat. Sedangkan hal-hal buruk mengandalkan nafsu.

Orang bilang, untuk jadi sehat itu mahal, tapi mereka lupa berpikir bahwa untuk jadi orang penyakitan jauh lebih mahal. Sebagai contoh, air putih itu baik untuk kesehatan bahkan seringkali kita mendapatkannya secara gratis. Namun kenyataannya lebih banyak orang yang memilih Jus kemasan, Soda, atau pun minuman beralkohol yang tentunya jauh lebih mahal.

Dengan alasan agar terlihat modern, kita abaikan kesehatan kita. Dengan alasan supaya terlihat seperti manusia beradab, kita paksakan otak kita menerima ideologi dan teori antah barantah dengan mengabaikan nurani.

Kita memaksa diri kita untuk menerima teori mengenai inflasi. Lalu dengan gampangnya kita menghina seseorang dengan kata-kata bodoh karena orang itu protes mengenai kenaikan harga dan membanding-bandingkan harga 15 tahun yang lalu dengan harga-harga sekarang. Padahal Sebenarnya hati kita juga ikut menjerit memikirkan pengaturan keuangan ke depan. Sedangkan kita sendiri tidak berbuat apa-apa ketika tetangga kita kelaparan ataupun cuek bebek ketika makin banyak janda2 tua renta yang menjadi pengemis. Kita tidak berbuat apa-apa karena kita meyakini bahwa menurut teori ekonomi yang kita yakini, hal ini wajar terjadi.

Contoh lain adalah ketika kita anti dengan homoseksual, namun supaya terlihat modern dan berpendidikan, kita paksakan diri kita memaklumkan tindakan-tindakan kaum luth tersebut.

===
Perbuatan buruk yang dipropagandakan sebagai hal yang baik, dimaklumkan sebagai hal yang biasa, dan dianggap wajar oleh masyarakat banyak, tetap saja merupakan perbuatan buruk.

Seringkali orang yang melakukan perbuatan2 buruk nasibnya "lebih baik" dari orang selalu menjaga dirinya. Tak perlu risau, bisa jadi itu adalah Istijrad (siksa yang ditunda). Ditunda sampai kapan? entahlah. Yang pasti, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan saat itulah pengadilan yang sesungguhnya akan digelar. Semua akan diadili dengan seadil-adilnya Termasuk Koruptor yang lolos dari hukuman dunia, Petugas KPK, Hakim Agung, Tukang begal, Polisi, Politisi, Pegawai Bank, Wartawan, Karyawan Oil Company, Dosen, Mahasiswa, Petani, Ibu rumah tangga, PNS, Kyai, Ustadz, Yang menulis tulisan ini, dan semua makhluk hidup sejagad.

Seperti halnya kampanye back to nature yang digadang oleh para praktisi diet, mungkin kita juga perlu merestorasi diri dan sikap untuk kembali kepada fitrah kita sesungguhnya. Membuka mata hati, melihat ke sekitar, dan melakukan apa yang nurani kita katakan.

==
Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
(QS Fathir:8)


Bdg, 23-8-13

Kamis, 07 Juni 2012

Seandainya saya kebagian satu milyar rupiah dari Hambalang


Seandainya saya kebagian satu milyar rupiah dari Hambalang, pikiran itu tiba-tiba mencuat di benak saya ketika menonton program Indonesia Lawyers Club yang temanya “Dalang-dalang Hambalang”. Dalam acara itu, Pak Karni Ilyas mengatakan, “Anda tahu seberapa banyak uang 1 triliun itu? Jika perbulannya diambil 1 milyar, maka perlu waktu 72 tahun untuk menghabiskannya”. Wow, it’s amazing, bahkan terlintas dipikiran pun tak pernah untuk menghabiskan uang 1 milyar perbulan. Terus terang, saya tak peduli dengan kasus itu, karena saya benar-benar sudah muak. Saya hanya berharap azab Allah datang kepada mereka ketika mereka masih hidup.

Kalimat Bapak pemilik suara serak itu masih menggelayuti pikiran saya hingga saya terlelap. Seandainya saya dapat uang satu milyar saja, pasti itu lebih dari cukup untuk saya. Saya bisa membeli rumah yang saat ini saya kontrak, membuat usaha kost-kostan, rumah makan dan lain-lain. Bahkan itupun masih sisa. Dan uang yang telah saya pakai itu pun bisa saya kembalikan lagi dari hasil usaha saya.

Kadang saya heran dengan orang-orang kaya, kenapa selalu merasa kurang, padahal harta mereka sudah banyak. Pelit untuk menambah gaji buruh, padahal keuntungan mereka masih sangat cukup jika hanya untuk menaikkan gaji pekerja mereka ke level yang lebih layak. Entahlah.. dan saya pun terlelap bersamaan dengan khyalan bercampur keprihatinan itu.
***

Siang ini saya masih sama seperti siang-siang sebelumnya, galau; sama seperti halnya cuaca yang masih galau di musim pancaroba seperti ini. Entah berapa kali saya mengalami masa-masa penggalauan seperti ini, yang jelas sudah tidak terhitung lagi. Yang saya ingat, masa galau saya tak jauh-jauh dari masalah kuliah yang masalahnya selalu beranak-pinak dan keuangan yang morat-marit. Pernah saking galau-nya saya karena masalah skripsi, akhirnya saya putuskan untuk menjauh dari kota tempat saya tinggal menuju kota kecil  yang letaknya hampir ujung timur Pulau Jawa, Pare.

Alasannya sih untuk belajar Bahasa Inggris, tapi selain itu saya ingin mencari ketenangan.
Di kota kecil yang sempat dicalonkan menjadi ibukota Kabupaten Kediri itu, saya mencoba menenangkan diri sambil sedikit mengasah kemampuan bahasa Inggris saya. Kalau ada pembaca yang bertanya-tanya kenapa saya pilih Pare sebagai tempat umtuk menghabiskan masa menggalau saya, saya sendiri tidak tahu.  Mungkin karena terkenal sebagai “Kampung Bahasa” atau “Kampung Inggris”-nya, maka saya pikir, masa-masa galau saya tidak akan sia-sia begitu saja selain dari sekadar melupakan sejenak masalah di Kampus. Alhamdulillah, selama satu setengah bulan di sana membuat pikiran saya mulai enak lagi. Hal ini mungkin karena saya benar-benar tidak peduli dengan masalah yang ada karena saya terlalu sibuk belajar bahasa inggris dan bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai daerah yang membuat saya makin excited.

Baru saja sampai setelah pulang dari Pare, masalah rupanya sudah tidak sabar untuk berpelukan dengan ku, sahabat karibnya. Kakak ku jatuh sakit tepat ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah kontrakan ku. Aku pun langsung mengantarkannya berobat ke Dokter. Sebenarnya kondisi badan ku sendiri kurang begitu fit karena perjalanan panjang, melelahkan dan tak tidur sama sekali.

Tidak tidur sama sekali. Ya benar. Keuangan yang (selalu) terbatas memaksa ku untuk harus pintar-pintar mengaturnya. Salah satunya adalah  pulang dengan berganti-ganti kendaraan yang serba ekonomis. Mulai naik kereta kelas ekonomi, bis ekonomi, dan kapal laut kelas ekonomi. Konsekuensinya, aku harus awas setiap saat untuk menjaga barang bawaan saya. Usaha penghematan ku setidaknya tidak sia-sia, karena uanganya bisa ku pakai buat biaya berobat kakak ku ke Dokter.

Singkat cerita, kakak ku ternyata terserang demam berdarah, penyakit yang ketika itu sedang menjadi trending di kota ku. Kondisi yang mengkhawatirkan itu mengharuskan kami untuk menginapkannya di rumah sakit Ssasta yang cukup mahal untuk ukuran keluarga kami selama lebih dari seminggu. Sebenarnya keluarga ingin membawanya ke rumah sakit umum atau rumah sakit swasta yang ada layanan Askes-nya. Tapi sayang, semuanya sudah penuh karena penyakit yang menyebabkan trombosit korbannya berkurang dengan sangat drastis ini. 

Ujung-ujungnya biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tapi tak masalah bagi kami semua, yang penting orang yang kami cintai bisa kembali sehat seperti sedia kala. Salah satu cara untuk menutupi kekurangan pembiayaan rumah sakit adalah aku harus mengeluakan uang tabungan hasil beasiswa ku. Sungguh, baru pertama kali itu rekening yang sengaja ku buat untuk transfer beasiswa itu  meranggas seperti pohun jati di musim kemarau. Tapi sekali lagi, bagiku sama sekali tidak apa-apa, daripada orangtuaku harus meminjam kepada orang lain.

Hari-hari berikutnya aku, otakku tidak hanya  disibukkan dengan bagaimana harus mengatur uang yang tidak seberapa itu agar cukup, tapi juga bagaimana agar uang yang akan dikelola itu bisa ada. Karena tidak mungkin mengatur uang yang uangnya tidak ada. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena saat itu ada lowongan mengajar privat bahasa inggris.

Benar kata orang, dalam keadaan terdesak, orang bisa melakukan sesuatu yang menurutnya di luar kemampuan dia. Dalam hal ini, aku yang sama sekali tidak pernah mengajar tiba-tiba punya keinginan untuk mengajar. Dan (menurutku) aku bisa mengajar. One problem's solved, Sekarang tinggal bagaimana agar aku bisa mengatur penghasilan yang tak seberapa itu supaya cukup untuk makan, cetak draft, dan kebutuhan skripsi lainnya. Jujur, sangat jauh dari cukup, tapi mau bagaimana lagi. Mau minta uang kepada orang tua tak tega rasanya.

Mengajar privat sudah selesai, uang honor pun sudah hampir selesai riwayatnya, tapi permasalahan tak pernah ada surutnya. Kali ini, adikku yang baru lulus SMA tinggal bersamaku untuk bimbel SNMPTN dan akupun disibukkan untuk pendaftaran wisuda. Kalian tahu sendiri, keduanya perlu biaya yang tak sedikit. Biaya makan pun otomatis menjadi dua kali lipat.

Sebenarnya aku yang memaksa adikku untuk  ikut Bimbel. Daripada dia luntang-lantung tak jelas di kampung, pikirku ketika itu. Setidakknya disini, dia akan mendapatkan banyak referensi sehingga pikirannya akan lebih terbuka untuk menentukan masa depannya sendiri. Uang Bimbel yang ku pikir hanya 300ribu rupiah ternyata sangat jauh dari perkiraan ku.

Aku tak pernah menyangka bahwa bimbel yang goal-nya hanya untuk lulus SNMPTN itu bisa mencapai 1,5 juta. Mahal sekali!. Lalu akupun pindah ke lembaga bimbel yang lain. Akhirnya dapatlah yang biayanya 1 juta, yang sesungguhnya masih mahal menurut ukuran ku. Kepalaku asli berkunang-kunang. Untung aku masih bisa mengendalikan diri di depan front officer bimbel itu. Mau ku batalkan, tidak enak dengan adikku. Akhirnya aku melakukan nego dengan petugas itu, dan pembayaran pun bisa di angsur setengahnya, ditambah biaya registrasi 100ribu.  Sekali lagi, uang 100ribu itu fuckin' out of my expectation.

Besar pasak daripada tiang, dan aku harus mengatur agar pasak bisa membesar dan tiang bisa mengecil. Caranya, ya aku  harus mencari uang sebanyak-banyaknya dan mengatur pengeluaran semininimum mungkin. Alhamdulillah, Akupun mengajar lagi. Kali ini aku mengajar anak-anak pintar dari sekolah swasta ternama di kota ku. Aku membimbing mereka ilmu kebumian sesuai dengan bidang kuliah ku, hal ini karena mereka akan menghadapi olimpiade sains tingkat propinsi  setelah sebelumnya ketiganya lolos dan mewakili kota.

Waktu kembali berputar, pekerjaanku sebagai pengajar pun lagi-lagi selesai dan urusan pendaftaran wisuda juga sudah selesai. Uang honor sebagai pengajar pun lumayan; lumayan pas-pasan. Guru pembimbing anak-anak itu pun meminta maaf karena menurutnya memberi kurang layak.  Aku sendiri memaklumi, toh tidak ada kontrak dalam bentuk apapun mengenai berapa jumlah honor yang mesti aku terima.

Well, Sekarang adalah waktu kosong yang sama sekali tidak pernah ku sukai. Tinggal menunggu wisuda yang tidak lama lagi. Sembari menuggu waktu yang bersejarah itu, akupun mengajukkan aplikasi kerja ke beberapa perusahaan. Harapanku, aku bisa bekerja di perusahaan minyak atau geothermal seperti yang aku impikan ketika aku masih kuliah dulu. Tapi rasanya sulit sekali, mungkin karena tidak ada orang dalam yang merekomendasikan, atau tidak ada alumni yang bekerja  di dalamnya, entahlah. Tapi aku mencoba tetap optimis dan masih berharap banyak kepada Tuhan. Selain perusahaan minyak, aku juga memasukkan lamaran ke beberapa bank sebagai officer development program dan sejenisnya.

Terus terang, batinku rasanya mau menangis saat memasukkan aplikasi itu ke bank. Bagaimana tidak, bank bukanlah minat ku. Bahkan bekerja di bank sama sekali tidak masuk dalam list ku. Dalam list yang ku buat, jika tidak bekerja di perusahaan minyak, aku ingin menjadi dosen. Dan jika keduanya tidak bisa, aku akan menjadi entrepreneur.

Tapi mau bagaimana lagi. Banyak temanku yang sudah melamar di perbankan dan berkecimpung di dalamnya. Melihat mereka, mau tidak mau  idealisme ku pun runtuh karena takut dicap sebagai pengangguran. Akupun mulai belajar tentang perbankan dan segala hal tentang  tes yang akan dilalui melalui buku yang sengaja ku beli. Aku memang hanya coba-coba, tapi bukan berarti aku tidak serius. Bukankah sebelum melakukan percobaan harus belajar mengenai teorinya dahulu.

Wisuda tinggal beberapa hari lagi, dan sampai sekarang belum ada panggilan dari banyak aplikasi yang ku sebar. Yah, mungkin aku perlu sedikit bersabar dan banyak-banyak berdoa.
Aku  kembali Galau dalam waktu lengang yang pada dasarnya merupakan saat-saat yang ku benci seperti saat ini. Menurutku, waktu lengang itu berpotensi melahirkan banyak maksiat. Dan entah sudah berapa banyak maksiat yang ku lakukan. Ku coba untuk tidak menyia-nyiakan waktu lengang ini dengan menulis artikel blog ataupun mengotak-atik photoshop. Hobi yang sudah lama aku tinggalkan dengan alasan sibuk.
Sampai saat ini, khayalan seandainya “kejatuhan uang secara tiba-tiba” masih sering exist.. ukh..


Update:

Saya berhasil lulus di bank dengan mengalahkan ratusan pelamar. Namun saya putuskan tidak mengambil lamaran itu karena saya tidak minat sama sekali. Saya melamar di beberapa perusahaan minyak tapi karena kesalahan teknis yang saya lakukan, saya pun gagal. Saya pernah mencoba bekerja sama dengan teman sendiri. Dan hasilnya, saya sarankan untuk pembaca agar membuat perjanjian se-profesional mungkin meskipun dengan sahabat dekat sekalipun. Kejadian itu membuat saya mesti jaga jarak dengan dia terutama jika terkait bisnis. Pada akhirnya, saya mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.




Jumat, 01 April 2011

9 tanda kamu menjadi orang asing

9 tanda kamu menjadi orang asing

1. Ketika kamu bangun untuk shalat subuh, sementara yang lain sedang asik terbuai dalam mimpi indah. Dan Ketika kamu shalat ashar sementara yang lain sibuk dengan pekerjaan mereka di kantor atau di pasar.

2. Ketika kamu membayar zakat sementara yang lain melihatnya sebagai suatu hal yang sangat memberatkan.

3. Ketika kamu menghindari minuman beralkohol, saat yang lain berkata “cocok banget untuk fun”

4. Ketika kamu tidak punya pacar, sementara yang lain mengatakan “kamu menyia-nyiakan masa remaja mu”, “Kamu Kuper”, atau “kamu tidak laku”

5. Ketika kamu tidak mengambil bunga bank, sementara yang lain berpikir bahwa itu adalah keuntungan dari tabungan mu.

6. Ketika sebagai laki-laki kamu tidak menunjukkan pahamu di tempat umum, dan sebagai wanita kamu tidak menunjukkan rambutmu. Sementara yang lain menyebutnya sebagai hak asasi.

7. Ketika kamu menghindari menonton tv atau mendengar musik, dan orang lain berpikir bahwa kamu terlalu menyiksa diri sendiri.

8. Ketika ketakutanmu terhadap Allah mencegahmu untuk mengambil harta yang bukan hak mu meski hanya Rp1.000 atau mungkin Rp 100.000, meski kau temukan di jalan. Dan orang lain mengatakan bahwa kamu tidak normal, jika bukan kamu yang mengambil maka akan diambil orang.

9. Ketika kamu ingin menegakkan syariat islam, dan yang lain berkata “Jadul, dan gak sesuai dengan zaman sekarang”. Atau mereka mengatakan bahwa “kamu Islam fundamentalis bahkan Islam garis keras”.

Prophet (peace be upon Him) said “ Islam began as something strange and will return as something strange as began, so give glad tidings to the strangers”. (sahih muslim)

Rasulullah SAW bersabda “ Islam dimulai sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali sebagai sesuatu yang asing seperti semula, maka berbahagialah orang-orang yan dianggap asing. (sahih muslim)

salam, adiyuza

Kamis, 25 November 2010

Mahasiswa lain dulu lain sekarang (Nasehat Mbak)

Iya, lain dulu lain juga sekarang.

Masa-masa baru jadi mahasiswa baru. Amaat sangat baru, clingak-clinguk, gupek, bingung, orang kata masih masa peralihan dari SMA.

Masuk semester-semester awal, masih semangat dengan kuliah. Ya, itu buat yang semangat. Datang tepat waktu, plus kagak kepikiran buat bolos kuliah dengan istilah ambil jatah.

Awal-awal kuliah masih semangat-semangatnya, masih takut-takut dengan dosen pengajarnya. Kemana-mana masih rame-rame, sudah seperti bebek yang berbaris, bergerombol. Yaaa masih bawaan habis makrab, ospek de el el. Jadi setia kawan katanya.

Menginjak pertengahan tahun di kampus. Mulai nganeh, yang ketemu cara nyontek yang jitu, ya dia pakai cara itu. Ada yg mulai berani 'ngepEk', ada yg lirik sama kawan disebelahnya, atau selipkan kertas di lengan bajunya. Atau, cara ekstrim letakkan buku di atas meja.

Yaaa mantap, IPK memang tinggi tapi setelah lulus, jadi gigit jari, melongok bingung mau cari kerja, tapi gak tau mau ke mana, karena keahlian dia kagak punya, hehehehe.

Menjelang tengah tahun kuliah, mulai senang kalau dosen gak masuk, apa lagi kalau ternyata mau ujian. Tambah girang pas ada kabar, si bapak atau ibu dosen gak bisa masuk.

Bahkan, pas jamannya saya, ada yg berharap 'semoga bapaknya sakit', oooh sungguh teganya.

Mendekati akhir masa di kampus, ckckckck yg nilai bermasalah, mulai cari-cari dosen MK (Mata Kuliah) nya. Yang tadinya rajin, jadi mulai rajin kuliah.

Menjelang akhir masa mukim di kampus, mendekati tugas akhir, naaa, mahasiswa mulai mencari dosen-dosennya. Para dosen serta merta berubah menjadi seleb, dicari kemana-mana. Ditunggu dari pagi hingga petang menjelang.

Yang kagak pernah ketemu dosen PA, mulai rajin menyambanginya. Hahahaha, akibat gak dekat dengan dosen, akibat dulu kurang peduli dg dosen, akibat dulu senang begitu dosen gak ada. Dan akibat dulunya begitu senang kalau kuliah atau ujian dibatalkan. Mahasiswa jadi kelimpungan, karena jadi kagak tau karakter dosennya, jadi kagak tau juga kapan waktu yang tepat buat konsultasi untuk tugas akhirnya.

Jadilah itu mahasiswa/i merasa dilempar sana-sini, gigit jari karena pak n ibu dosen jarang di jurusan, jarang di fakultas. Eee dia baru tau kalau pembimbingnya, dosennya orang sibuk, orang penting.

Waktu berlalu, tugas akhir selesai, si mahasiswa sedikit merasa beban satu terlepas, tapi beban lain menunggu, 'terjun ke masyarakat untuk mencari kerja'.

Wkwkwkwk, masih belum sadar juga poinnya. Dulu mahasiswa rasa jenuh kuliah, sampai bolos gak keruan, sampai terlontar omongan 'jenuh'. Tapi, begitu dia lulus, diwisuda. Yaaa baru nyaho, kangen sama dosen-dosennya, sama temen-temennya, sama kampusnya. Tapi, mau ke kampus, isin belum kerja katanya, mau ke kampus bingung karena tmn2nya sudah pada lulus semua.

Hhhhaaahh, ya buat yang masih kuliah dinikmati apa yg masih bisa dinikmati saat ini. Semua ada masanya n suatu hari nanti kalian sedikit banyak akan merasakan apa yg saya tuliskan di note saya kali ini.


Sumber : Catatan FB Mbak Septa (Sefta Marisa Dwipasari Junaidin) dengan diedit seperlunya

.