Tampilkan postingan dengan label impian dan optimisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label impian dan optimisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

Pendidikan dan pembentukan pola pikir




Heboh berita tentang berita yang tersebar secara viral di media sosial saat ini, membuat saya ingin ikut-ikutan komentar. Tapi di sini saya tidak ingin mengkritik melainkan berbagi pengalaman pribadi selama menimba ilmu di sekolah dasar.

Saya bukan anak pintar apalagi jenius. Bukan pula juara kelas kesayangan guru apalagi peraih medali emas olimpiade. Saya adalah golongan medioker. Golongan rata-rata. Golongan yang ada ataupun tidak ada tak akan berpengaruh terhadap kondisi kelas.

Ngomong-ngomong tentang perkalian, saya pertama kali menerima pelajaran itu ketika kelas 2 SD. Saat itu, kami dituntut untuk hafal perkalian 1 sampai 10. Teman-teman saya banyak yang berusaha menghafal, begitu juga saya. Apalagi ada ujian lisan perkalian di mana bagi yang tidak hafal akan mendapatkan hukuman. Minimal hukumannya adalah berdiri tegak di kelas.

Tapi, bagi yang berotak lemah seperti saya, menghafal adalah sesuatu yang mengerikan. Jadi, saya memutuskan berhenti untuk menghafal.

Dan bisa ditebak hasilnya, saya selalu kena hukum dan nilai matematika saya hancur. Hahahaha..

Perkalian yang saya hafal adalah perkalian 1, 2, 5, dan 10. Itupun bukan karena saya menghafal, melainkan karena hasilnya membentuk deret yg mudah untuk diingat. Contoh: perkalian 1 hasilnya 1,2,3,4,5,..,10.
Perkalian 5 hasilnya 5,10,15,20,.., 50.

Selanjutnya untuk perkalian 3,4,6,7,8,9 saya menggunakan logika sendiri yang didasarkan pada perkalian yg saya hafal.

Contohnya, jika ada soal 4 x 6 maka hasilnya adalah 4+4+4+4+4+4 =24.
Dan jika ada soal 6x4 hasilnya adalah 6x6x6x6=24.

Tidak praktis, rumit, dan bertele-tele. Hal itulah yang menyebabkan setiap kali ulangan, saya selalu telat mengumpulkan. Saya selalu menghitung penjumlahan tersebut di dalam otak saya. Hasilnya, beberapa kali konsentrasi saya buyar sehingga harus menghitung ulang dari awal. Tapi kabar baiknya, saya sedari awal tahu mengapa 6x4 hasilnya 24.

Setidaknya, cara seperti ini mengajari saya untuk berusaha berfikir objektif  ketika menghadapi berbagai macam permasalahan dan  menutut saya untuk mempelajari akar permasalahannya terlebih dahulu.

Perkembangan menyerap pelajaran saya lambat. Tapi tidak masalah. Toh saya tidak peduli dengan nilai. Saya juga tidak mengerti apa itu arti ranking 1. Sebagai catatan, saya mendaftar SD ketika usia saya baru saja menginjak 5 tahun. Dan kata ibu saya, saya termasuk anak yang telat bicara. Saya baru bisa bicara ketika menginjak usia 2 tahun.

Jadi, orang tua saya tidak marah ketika di raport saya ada tiga angka merah yang bertengger saat bagi raport kelas 1 catur wulan 1. Mereka cukup mahfum.

Saat saya kecil saya hanya akan melakukan sesuatu jika saya menyukainya.

Hal baik yang saya miliki ketika SD adalah saya bisa membaca selepas kelas 1 catur wulan 1. Jujur, dapat membaca adalah anugerah terindah dari tuhan bagi saya. Sejak itu beberapa buku saya baca. Itupun bukan buku pelajaran, melainkan cerita-cerita dongeng, majalah anak-anak, ataupun tentang kehidupan hewan. Kadang judul headline koran selalu saya baca. Selain itu, saya berhasil menamatkan komik misteri Petruk Gareng karya Tatang Suhenra sekali duduk.

Saya selalu membaca ketika saya bosan dengan pelajaran sekolah. Daripada saya frustasi karena saya sekolah hanya untuk membuktikan bahwa saya tidak bisa apa-apa dan juga selalu dihukum, maka lebih baik saya membaca.

Selain matematika, saya juga bodoh di pelajaran lain.

Saat pelajaran kesenian, Saya menggambar sebuah gunung dan mewarnainya dengan warna hitam. Padahal teman teman saya menggambar 2 buah gunung dengan matahari di tengahnya dan mewarnainya dengan warna biru. Dan kata mereka gambar saya jelek lagi salah. Mana ada gunung berwarna hitam.

Kadang saya menggambar mata, hidung & mulut saat menggambar matahari. Gambar yang selalu dicoret ibu guru dan beliau mengatakan bahwa gambar saya tidak masuk akal. Hasilnya, nilai terbaik saya di pelajaran kesenian adalah 6.

Pelajaran bahasa Indonesia juga sama, selalu dapat ponten kurang dari 7. Tata bahasa saya kacau & sulit dimengerti.

PPKN? Hahahaha.. nasibnya juga sama. Ceritanya ada soal pilihan ganda, saya lupa detilnya, tapi soalnya kurang lebih seperti ini:
Ibu pulang dari pasar dengan membawa banyak barang apa yang akan kamu lakukan?
A. Membantu ibu membawa barang.
B. Memanggil orang lain untuk membantu ibu.
C. Tidak melakukan apa-apa

Saya jawab B, karena yang saya tahu, setiap pulang dari pasar, belanjaan ibu cukup berat. Jadi saya akan memanggil kakak saya untuk membantu ibu, atau kakak sepupu saya yg sudah besar yang  saat itu tinggal menumpang di rumah kami.

Hasilnya, tentu jawaban saya salah besar karena jawaban yang benar adalah A.
***

Namun di balik apa yang saya ceritakan di atas, masih banyak hal menarik ketika SD dulu yang masih saya ingat. Walau dalam beberapa hal, ada juga momen yang tidak menyenangkan.

Saya tidak pernah mau menyalahkan guru. Guru-guru sudah mengajar dengan sangat baik [Semoga semua orang yang pernah mengajar saya mendapatkan pahala dan rahmat yang selalu mengalir dari Allah Subhanawataa'laa]. Hanya saja, saya berbeda dengan yang lain. Saya kurang pintar, jadi saya mencari jalan lain yang nyaman untuk saya.

Kadang jalan itu salah, dan kadang jalan  itu benar. Dan saya belajar untuk menerima apapun konsekuensi dari pilihan yang saya ambil. Saya pernah mengambil pilihan yang salah, yaitu menyontek dan langsung ketahuan. Saya pun menerima konsekuensi terburuk dari pilihan saya itu. Menghasilkan trauma yang membekas hingga kini. Saya sempat minder selama berbulan-bulan. Berjalan pun seperti anak babi yang berjalan tunduk. Saya mengurangi interaksi dengan orang lain, dan hanya bicara dengan sahabat-sahabat terdekat. Benar-benar  pelajaran yang berharga.

Pengalaman demi pengalaman yang saya alami membuat saya tidak terlalu memikirkan nilai. Keuntungan untuk tidak terikat dengan angka-angka adalah kita tidak takut untuk duduk di manapun ketika ujian. Jadi nilai saya sejak SD hingga kuliah selalu fluktuatif. Tergantung dari kemampuan saya menyerap pelajaran.

Saya pernah dapat nilai 4 di raport dan saya juga pernah dapat nilai 9. Saya pernah dapat nilai E, D, C, B dan A selama kuliah. Saya pernah dapat IP 2,3 dan saya juga pernah dapat IP nyaris 4.
--

Saya ingin mengatakan bahwa ada banyak hal-hal baik yang bisa kita dapatkan ketika kita menghargai sebuah proses. Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil ketika kita berjalan di jalan yang kita pilih. Dan tentu saja, dengan membaca akan memperluas cakrawala berpikir kita.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk menjadi taqwa.
1+1+1+0,6+0,2+0,2=4
2x2=4
2+2=4
3+2-1=4
((8÷2)^(1÷2))+ (sin(30))+((9^(1÷2))÷((100^(1÷2))÷(25^(1÷2)))) = 4

Banyak jalan. Dan jalan yang kita pilih tergantung dari kebutuhan kita.

Kita akan tahu kapan kita sebaiknya mengunakan 4x6 atau 6x4 saat kita membutuhkan hasil 24.

Dari keberagaman cara berpikir ini pula saya belajar untuk berani memiliki pendapat yang berbeda dan menghormati pendapat orang lain yang berbeda dari saya.

Proses demi proses itulah yang akhirnya akan membentuk idealisme dan kemandirian. Bagi saya prinsip hidup atau idealisme itu baik, selama tidak bertentangan dengan moral yang berlaku umum dan juga norma agama. Sementara, kemandirian membuat kita tidak ketergantungan dengan uluran tangan dan belas kasih orang lain.

Apa untungnya memiliki prinsip atau idealisme dan kemandirian?

Yang saya tahu idealisme dan kemandirian itu bukan faktor utama yang dapat menjadikan kita kaya, bukan penentu untuk membuat kita dapat diterima di perusahaan bonafit, tidak menjamin kita dapat naik jabatan, dan yang jelas akan membuat semakin banyak yang tidak menyukai kita.

Banyak yang mengatakan saya bodoh, kurang cekatan, lemah, tidak berguna, jelek, tidak gaul, sok alim, sok pintar, munafik, dll. Bahkan bagi yang merasa lebih kuat atau berkuasa, mereka mengatakannya langsung di depan wajah saya.

So what? Paling tidak saya masih punya kehidupan. Dan kehidupan saya tidak bergantung pada mereka. Hahahaha..

Yang jelas, beberapa keuntungan tidak bergantung pada orang lain adalah tidak akan ada yang bisa mengatur, menindas, atau membungkam kita secara sewenang-wenang.

Ketika ada orang yang coba mengintimidasi, maka kita masih punya pilihan untuk bersikap; lawan atau tinggalkan. Jangan pernah mau jadi korban intimidasi.

Ketika orang lain merebut  hak kita, maka kita masih ada usaha untuk merebut kembali. Bahkan saat di posisi kita lemah sekalipun.

Ketika disakiti, hati kita akan sakit. Tapi kita tidak akan dendam.

Hidup itu menyenangkan jika didasari pada prinsip saling menghormati, bukan karena saling berusaha mendominasi, pada prinsip sama rata  sama rasa, bukan karena salah satu takut terhadap yang lain.

Hanya kita yang tahu tentang diri kita sendiri. Sedangkan orang lain hanya menilai hasil akhir dari proses panjang yang kita jalani.

Dan yang pasti, ada  peran luar biasa dari  Yang Mahakuasa ketika kita berusaha dan dibarengi dengan doa yang tiada berputus.

Salam.

Senin, 30 Desember 2013

Imajinasi; Dongeng Ayah



Kemarin, saya temukan panggung boneka ini dan iseng-iseng saya memainkannya, mencoba untuk menghidupkan boneka tersebut seperti apa yang ada dalam imajinasi saya. Kali ini, ceritanya tentang Meerkat Manoor versi saya. :D

Bicara mengenai imajinasi, Saya percaya, bahwa salah satu tujuan Tuhan menganugahkan kita otak adalah supaya kita bisa berimajinasi. Imajinasi mampu membuat kita menembus sebuah dimensi antah barantah, yang mungkin dimensi itu hanya ada di dalam imajnasi kita. Kita menjadi orang yang benar-benar merdeka ketika berimajinasi, dan kita pun bisa menjadi apa saja ketika kita berimajinasi. Namun, seperti anugrah tuhan lainnya, imajinasi adalah sebuah kenisbian, ia bisa membentuk seseorang, tergantung dari seperti apa pemilik imajinasi tersebut menggunakannya.

Imajinasi membuat kita mampu melampaui jauh dari keadaan kita sekarang. Film Star Trek yang muncul sejak tahun 60-an dan disusul sekuelnya pada tahun-tahun berikutnya adalah contoh betapa Imajinasi lebih dahulu memunculkan perangkat teknologi canggih seperti Ponsel, Ipad, teleconfrence, dan Google glass.

Ada sedikit cerita yang ingin saya bagikan mengenai imajinasi.
Ketika saya kecil dulu, Ayah saya, selalu memberikan cerita pengantar tidur kepada kami anak-anaknya. Dan kami, selalu antusias mendengarkan cerita dari Ayah. Menurut saya, ayah adalah seorang pendongeng terkeren sedunia. Cerita yang beliau bawakan adalah cerita rakyat, seperti si Kancil, si Mahmut, beruk jama labi-labi (Kera dan Kura-kura),  Kancil vs Raksasa Brumbumkuyung, Raksasa Gergasi, dan cerita-cerita lainnya.  Ketika ayah bercerita, kami pasti selalu meperhatikan dengan seksama, terdiam, sambil berimajinasi dan mencoba memvisualisasikan tokoh-tokoh yang diceritakan ayah. Terkadang, kami selalu tertawa ketika mendengar adegan lucu di tengah cerita.

 Ayah bercerita secara lisan menggunakan bahasa Lampung, dan tanpa buku teks apalagi gambar. Di setiap akhir cerita, beliau selalu menyampaikan pesan moralnya.  Tiap kali ayah bercerita, suara dan mimiknya pun ikut bercerita sesuai dengan alur yang berjalan. Biasanya, Ayah selalu membuka cerita dengan kalimat, "Wat ceritaaaa,Jaman timbai hurik....." dengan suara yang dibuat ngebas. Lalu, suaranya berganti-ganti tergantung tokoh apa yang sedang berbicara, Ayah juga terkadang memegang perutnya untuk memvisualkan adegan Raksasa yang sedang dikerjai kancil sambil teriak "Aguy, aguy..", Suara ngebas "Dum.. Dum.. dum.." untuk suara berat raksasa yang berjalan, dan tawa menggelagar untuk raksasa yang tertawa.

Momen ayah bercerita adalah momen yang selalu kami tunggu, Karena di momen seperti itulah ayah menjadi sosok yang menyenangkan. Selain di momen itu, ayah adalah sosok yang keras, bahkan kadang menakutkan, terutama kalau sedang marah, Hahahaha. Bisa dibilang, mendongeng adalah penyeimbang karakter ayah yang sangat keras itu.

==
Seperti halnya, beliau membebaskan kami berimajinasi saat mendongeng, ayah pun selalu membebaskan kami dalam menjalani hidup. Sejak kecil, Dia tak pernah memaksa kami untuk  sekolah di mana atau menjadi apa kelak. Dia benar-benar membebaskan kami dalam memilih, termasuk dalam hal pemikiran. Ayah selalu membebaskan kami berargumen ketika iya menayakan alasan kami memilih sesuatu. Bahkan hingga kini pun, ayah selalu menyuruh kami menyanggah pernyataan dia, jika apa yang dia sampaikan tidak sesuai dengan pemikiran kami.
Ayah dan Bunda lah yang selalu menuntun kami bagaimana cara berbicara yang santun ketika berargumen dan mengajarkan kata-kata apa saja yang boleh dan tidak boleh dipakai ketika berbicara dengan orang lain.

Terkadang, saya melihat roman kecewa ketika kami memilih sesuatu yang sebenarnya tidak ia harapkan, namun sekali lagi, sedikitpun ia tidak komplain dengan pilihan kami. Pesan ayah pada kami tidak muluk-muluk, Ayah percaya pada kami dan kami harus menjaga kepercayaan itu. Ayah dan Bunda telah memberikan pendidikan moral dari rumah  dengan kurikulum terbaik  dan dengan cara penyampaian yang mampu menancap di dalam hati. Perlu diketahui, bahwa ayahlah  orang yang pertama kali mengajarkan kami shalat, dan membaca huruf hijaiyah setiap habis maghrib. Mereka percaya bahwa kami mampu bertanggungjawab pada diri sendiri.

==

Menjelang tahun 2014 ini, mungkin saya juga harus mencoba berimajinasi tentang apa yang akan terjadi pada hidup saya selama tahun itu, lalu mencoba menyusun rencana demi rencana supaya imajinasi itu menjadi  sebuah realitas. :D


Bismillah. Innallaha ma a'na




Rabu, 06 November 2013

Kematian itu...


Hari ini, saya dapat kabar duka lagi. Dan lagi-lagi dari orang yang usianya tak jauh berbeda, sama-sama angkatan 2007 saat kami masuk kuliah.  Padahal, baru seminggu kemarin, saya dapat kabar bahwa adik tingkat saya yang satu jurusan di S1 meninggal dunia. Dan beberapa minggu sebelumnya, saya juga mendapat kabar bahwa adik tingkat  saya di almamater  yang sama meninggal dunia. Penyebabnya pun beragam. Ada yang tenggelam, sakit, dan meninggal begitu saja ketika tidur.

Kejadian yang beruntun ini, kembali mengingatkan saya bahwa kematian itu memang sangat dekat.  Sedekat udara yang kita hirup dan yang kita hembuskan. Ia selalu bersama dengan kita dengan mengikuti ritme aliran darah yang dipompa jantung. Kematian baru akan berhenti mengikuti di saat kita telah mati dan menjadi bagian dari kematian itu sendiri. Bersamaan dengan berhentinya hembusan nafas dan sirkulasi darah.

Saya sempat berpikir bahwa  mungkin kematian itu sederhana. Nafas berhenti dan detak jantung berhenti. Setelah itu kita tidak akan merasakan apa-apa lagi, dikubur, dan kita tidak memiliki urusan lagi dengan apapun itu di dunia ini. Mungkin rasanya akan sama seperti sebelum kita lahir ke dunia ini. Tidak merasakan apa-apa, hampa dan kosong. Sederhana bukan? Bukankah kita baru tahu bahwa kita ini manusia hidup setelah setahun atau dua tahun setelah kita dilahirkan?. 

Tapi ternyata, kematian tidaklah sesederhana itu. Ia begitu kompleks, dan begitu sulit dipahami terutama mengenai kapan ia akan datang. Dan ketika ia datang, apakah kita sudah siap? Sayangnya, entah siap atau tidak, kita tidak bisa mengelak. Kita tidak bisa memajukan ataupun memudurkan meskipun satu detik.

Kematian melibatkan masa lalu, masa ketika mengalami proses kematian, dan pasca kematian.  Kematian adalah perkara ghaib dan misterius. Meskipun ilmu pengetahuan telah dapat mengetahui dan menjelaskan penyebab kematian, entah karena penyakit atau kecelakaan, namun ada banyak hal dari kematian yang hingga kini masih misteri –ini menurut saya-. Sebagai orang yang beragama, saya percaya sepenuhnya dengan apa yang diajarkan agama saya mengenai kematian dan kehidupan setelah kematian. Saya tidak mau menerka-nerka lebih jauh lagi mengenai hal-hal ghaib seputar kematian karena saya memang tidak tahu apa-apa. Cukup agama menjadi pegangan saya ketika menyinggung kematian dan kehidupan pasca kematian.

Kematian di usia muda yang beruntun dalam beberapa minggu ini, kembali mencuatkan rasa kepo saya. Jika seandainya malaikat maut menjemput saya hari ini, apakah ada ilmu yang telah saya tinggalkan? Adakah hal yang membuat orang bisa ingat bahwa saya pernah hidup? Apakah hidup saya sudah bermanfaat untuk orang lain? Apakah dengan lahirnya saya ke dunia ini telah memberikan pengaruh baik terhadap kehidupan? paling tidak terhadap orang-orang di lingkungan saya?  Adakah amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir  hingga saya meninggal dunia?

Sejenak saya terdiam dan bermuhasabah diri, sambil mencari-cari jawaban atas pertanyaan rasa kepo saya.  Saya buka file-file yang tersimpan dalam server otak saya, berharap segera mendapatkan jawabannya. Dan hasilnya, saya tidak menemukan apa-apa. Sungguh, airmata ini tanpa diperintah,langsung meyembul dari sudut mata dan perlahan merembes. Ternyata hingga saat ini saya memang belum menjadi apa-apa dan belum berbuat apa-apa. Saya jadi makin malu pada diri sendiri.

Saya selalu kagum dengan Nabi Muhammad, hingga 14 abad semenjak wafatnya, ajarannya masih dipeluk oleh > 1,4 Miliar manusia, Alkhawarizmi yang ilmu algoritmanya masih dipakai hingga sekarang, Isaac Newton yang hukum-hukumnya masih dipelajari, Thomas Alva Edison yang penemuannya masih bisa menerangi rumah di malam hari, serta masih banyak lagi orang—orang  yang telah tiada, namun karya mereka masih bermanfaat untuk umat manusia. Dan hingga kini saya masih menjadi pengagum mereka namun saya belum bisa menjadi seperti mereka. Mudah-mudahan nama saya kelak bisa berdampingan dengan nama-nama orang yang telah memberikan manfaatnya kepada dunia.

Saya terkadang iri dengan mereka yang rela mengorbankan diri mereka demi orang lain. Ada banyak kisah nyata yang terjadi di sekitar saya. Ada seorang ibu yang rela mengorban dirinya untuk melindungi bayinya dari reruntuhan bangunan ketika gempa. Seorang pemimpin organisasi kemahasiswaan yang akhirnya meninggal karena berusaha menyelamatkan anggotanya. Seorang sahabat yang lapar namun lebih memilih memberikan makanan yang ia miliki kepada temannya. Seorang guru yang ikhlas mengajar meski dihimpit oleh berbagai keterbatasan. Dan seorang ayah yang selalu berkata “kamu jangan pikirkan mengenai uangnya, ayah akan selalu berusaha demi kamu”.

Terkadang, kita dihadapkan pada suatu pilihan yang benar-benar sulit. Pilihan yang sampai mempertaruhkan nyawa dan kepentingan kita sendiri bila kita jalani atau penyesalan seumur hidup jika kita abaikan. Mengenai pilihan mana yang akan kita ambil, itu kembali pada pribadi masing-masing.

Mereka yang telah menjalaninya adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang yang biasa berbuat hal-hal baik. Artinya, butuh proses dan pembiasaan hingga akhirnya bisa timbul sifat yang selalu ingin berkorban untuk orang lain. Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan rahmat, kasih sayang, serta balasan yang jauh lebih baik kepada mereka yang rela berkorban demi orang lain.


**

Kembali ke masalah kematian. Sungguh saya selalu berharap ketika kematian itu datang, ada kontribusi positif yang telah saya lakukan. Entah itu kepada masyarakat luas, ataupun orang-orang di sekitar saya. Meskipun itu bukanlah hal yang besar, paling tidak ada saya telah melakukan sesuatu demi orang lain dan hadirnya saya di dunia ini bukan sekadar omong kosong.

Tak penting seberapa panjang usia kita, yang penting adalah seberapa besar hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Orang yang paling sial adalah orang yang umurnya pendek, tapi sama sekali tak ada manfaatnya untuk orang lain.


 Bandung, 5 November 2013








Selasa, 29 Oktober 2013

Indonesian Map, Peta Indonesia

Iseng-iseng bikin peta Indonesia berdasarkan Provinsi.
Lumayan juga hasilnya. :)

I love Indonesia

(Klik untuk perbesar)

Kamis, 07 Juni 2012

Seandainya saya kebagian satu milyar rupiah dari Hambalang


Seandainya saya kebagian satu milyar rupiah dari Hambalang, pikiran itu tiba-tiba mencuat di benak saya ketika menonton program Indonesia Lawyers Club yang temanya “Dalang-dalang Hambalang”. Dalam acara itu, Pak Karni Ilyas mengatakan, “Anda tahu seberapa banyak uang 1 triliun itu? Jika perbulannya diambil 1 milyar, maka perlu waktu 72 tahun untuk menghabiskannya”. Wow, it’s amazing, bahkan terlintas dipikiran pun tak pernah untuk menghabiskan uang 1 milyar perbulan. Terus terang, saya tak peduli dengan kasus itu, karena saya benar-benar sudah muak. Saya hanya berharap azab Allah datang kepada mereka ketika mereka masih hidup.

Kalimat Bapak pemilik suara serak itu masih menggelayuti pikiran saya hingga saya terlelap. Seandainya saya dapat uang satu milyar saja, pasti itu lebih dari cukup untuk saya. Saya bisa membeli rumah yang saat ini saya kontrak, membuat usaha kost-kostan, rumah makan dan lain-lain. Bahkan itupun masih sisa. Dan uang yang telah saya pakai itu pun bisa saya kembalikan lagi dari hasil usaha saya.

Kadang saya heran dengan orang-orang kaya, kenapa selalu merasa kurang, padahal harta mereka sudah banyak. Pelit untuk menambah gaji buruh, padahal keuntungan mereka masih sangat cukup jika hanya untuk menaikkan gaji pekerja mereka ke level yang lebih layak. Entahlah.. dan saya pun terlelap bersamaan dengan khyalan bercampur keprihatinan itu.
***

Siang ini saya masih sama seperti siang-siang sebelumnya, galau; sama seperti halnya cuaca yang masih galau di musim pancaroba seperti ini. Entah berapa kali saya mengalami masa-masa penggalauan seperti ini, yang jelas sudah tidak terhitung lagi. Yang saya ingat, masa galau saya tak jauh-jauh dari masalah kuliah yang masalahnya selalu beranak-pinak dan keuangan yang morat-marit. Pernah saking galau-nya saya karena masalah skripsi, akhirnya saya putuskan untuk menjauh dari kota tempat saya tinggal menuju kota kecil  yang letaknya hampir ujung timur Pulau Jawa, Pare.

Alasannya sih untuk belajar Bahasa Inggris, tapi selain itu saya ingin mencari ketenangan.
Di kota kecil yang sempat dicalonkan menjadi ibukota Kabupaten Kediri itu, saya mencoba menenangkan diri sambil sedikit mengasah kemampuan bahasa Inggris saya. Kalau ada pembaca yang bertanya-tanya kenapa saya pilih Pare sebagai tempat umtuk menghabiskan masa menggalau saya, saya sendiri tidak tahu.  Mungkin karena terkenal sebagai “Kampung Bahasa” atau “Kampung Inggris”-nya, maka saya pikir, masa-masa galau saya tidak akan sia-sia begitu saja selain dari sekadar melupakan sejenak masalah di Kampus. Alhamdulillah, selama satu setengah bulan di sana membuat pikiran saya mulai enak lagi. Hal ini mungkin karena saya benar-benar tidak peduli dengan masalah yang ada karena saya terlalu sibuk belajar bahasa inggris dan bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai daerah yang membuat saya makin excited.

Baru saja sampai setelah pulang dari Pare, masalah rupanya sudah tidak sabar untuk berpelukan dengan ku, sahabat karibnya. Kakak ku jatuh sakit tepat ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah kontrakan ku. Aku pun langsung mengantarkannya berobat ke Dokter. Sebenarnya kondisi badan ku sendiri kurang begitu fit karena perjalanan panjang, melelahkan dan tak tidur sama sekali.

Tidak tidur sama sekali. Ya benar. Keuangan yang (selalu) terbatas memaksa ku untuk harus pintar-pintar mengaturnya. Salah satunya adalah  pulang dengan berganti-ganti kendaraan yang serba ekonomis. Mulai naik kereta kelas ekonomi, bis ekonomi, dan kapal laut kelas ekonomi. Konsekuensinya, aku harus awas setiap saat untuk menjaga barang bawaan saya. Usaha penghematan ku setidaknya tidak sia-sia, karena uanganya bisa ku pakai buat biaya berobat kakak ku ke Dokter.

Singkat cerita, kakak ku ternyata terserang demam berdarah, penyakit yang ketika itu sedang menjadi trending di kota ku. Kondisi yang mengkhawatirkan itu mengharuskan kami untuk menginapkannya di rumah sakit Ssasta yang cukup mahal untuk ukuran keluarga kami selama lebih dari seminggu. Sebenarnya keluarga ingin membawanya ke rumah sakit umum atau rumah sakit swasta yang ada layanan Askes-nya. Tapi sayang, semuanya sudah penuh karena penyakit yang menyebabkan trombosit korbannya berkurang dengan sangat drastis ini. 

Ujung-ujungnya biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tapi tak masalah bagi kami semua, yang penting orang yang kami cintai bisa kembali sehat seperti sedia kala. Salah satu cara untuk menutupi kekurangan pembiayaan rumah sakit adalah aku harus mengeluakan uang tabungan hasil beasiswa ku. Sungguh, baru pertama kali itu rekening yang sengaja ku buat untuk transfer beasiswa itu  meranggas seperti pohun jati di musim kemarau. Tapi sekali lagi, bagiku sama sekali tidak apa-apa, daripada orangtuaku harus meminjam kepada orang lain.

Hari-hari berikutnya aku, otakku tidak hanya  disibukkan dengan bagaimana harus mengatur uang yang tidak seberapa itu agar cukup, tapi juga bagaimana agar uang yang akan dikelola itu bisa ada. Karena tidak mungkin mengatur uang yang uangnya tidak ada. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena saat itu ada lowongan mengajar privat bahasa inggris.

Benar kata orang, dalam keadaan terdesak, orang bisa melakukan sesuatu yang menurutnya di luar kemampuan dia. Dalam hal ini, aku yang sama sekali tidak pernah mengajar tiba-tiba punya keinginan untuk mengajar. Dan (menurutku) aku bisa mengajar. One problem's solved, Sekarang tinggal bagaimana agar aku bisa mengatur penghasilan yang tak seberapa itu supaya cukup untuk makan, cetak draft, dan kebutuhan skripsi lainnya. Jujur, sangat jauh dari cukup, tapi mau bagaimana lagi. Mau minta uang kepada orang tua tak tega rasanya.

Mengajar privat sudah selesai, uang honor pun sudah hampir selesai riwayatnya, tapi permasalahan tak pernah ada surutnya. Kali ini, adikku yang baru lulus SMA tinggal bersamaku untuk bimbel SNMPTN dan akupun disibukkan untuk pendaftaran wisuda. Kalian tahu sendiri, keduanya perlu biaya yang tak sedikit. Biaya makan pun otomatis menjadi dua kali lipat.

Sebenarnya aku yang memaksa adikku untuk  ikut Bimbel. Daripada dia luntang-lantung tak jelas di kampung, pikirku ketika itu. Setidakknya disini, dia akan mendapatkan banyak referensi sehingga pikirannya akan lebih terbuka untuk menentukan masa depannya sendiri. Uang Bimbel yang ku pikir hanya 300ribu rupiah ternyata sangat jauh dari perkiraan ku.

Aku tak pernah menyangka bahwa bimbel yang goal-nya hanya untuk lulus SNMPTN itu bisa mencapai 1,5 juta. Mahal sekali!. Lalu akupun pindah ke lembaga bimbel yang lain. Akhirnya dapatlah yang biayanya 1 juta, yang sesungguhnya masih mahal menurut ukuran ku. Kepalaku asli berkunang-kunang. Untung aku masih bisa mengendalikan diri di depan front officer bimbel itu. Mau ku batalkan, tidak enak dengan adikku. Akhirnya aku melakukan nego dengan petugas itu, dan pembayaran pun bisa di angsur setengahnya, ditambah biaya registrasi 100ribu.  Sekali lagi, uang 100ribu itu fuckin' out of my expectation.

Besar pasak daripada tiang, dan aku harus mengatur agar pasak bisa membesar dan tiang bisa mengecil. Caranya, ya aku  harus mencari uang sebanyak-banyaknya dan mengatur pengeluaran semininimum mungkin. Alhamdulillah, Akupun mengajar lagi. Kali ini aku mengajar anak-anak pintar dari sekolah swasta ternama di kota ku. Aku membimbing mereka ilmu kebumian sesuai dengan bidang kuliah ku, hal ini karena mereka akan menghadapi olimpiade sains tingkat propinsi  setelah sebelumnya ketiganya lolos dan mewakili kota.

Waktu kembali berputar, pekerjaanku sebagai pengajar pun lagi-lagi selesai dan urusan pendaftaran wisuda juga sudah selesai. Uang honor sebagai pengajar pun lumayan; lumayan pas-pasan. Guru pembimbing anak-anak itu pun meminta maaf karena menurutnya memberi kurang layak.  Aku sendiri memaklumi, toh tidak ada kontrak dalam bentuk apapun mengenai berapa jumlah honor yang mesti aku terima.

Well, Sekarang adalah waktu kosong yang sama sekali tidak pernah ku sukai. Tinggal menunggu wisuda yang tidak lama lagi. Sembari menuggu waktu yang bersejarah itu, akupun mengajukkan aplikasi kerja ke beberapa perusahaan. Harapanku, aku bisa bekerja di perusahaan minyak atau geothermal seperti yang aku impikan ketika aku masih kuliah dulu. Tapi rasanya sulit sekali, mungkin karena tidak ada orang dalam yang merekomendasikan, atau tidak ada alumni yang bekerja  di dalamnya, entahlah. Tapi aku mencoba tetap optimis dan masih berharap banyak kepada Tuhan. Selain perusahaan minyak, aku juga memasukkan lamaran ke beberapa bank sebagai officer development program dan sejenisnya.

Terus terang, batinku rasanya mau menangis saat memasukkan aplikasi itu ke bank. Bagaimana tidak, bank bukanlah minat ku. Bahkan bekerja di bank sama sekali tidak masuk dalam list ku. Dalam list yang ku buat, jika tidak bekerja di perusahaan minyak, aku ingin menjadi dosen. Dan jika keduanya tidak bisa, aku akan menjadi entrepreneur.

Tapi mau bagaimana lagi. Banyak temanku yang sudah melamar di perbankan dan berkecimpung di dalamnya. Melihat mereka, mau tidak mau  idealisme ku pun runtuh karena takut dicap sebagai pengangguran. Akupun mulai belajar tentang perbankan dan segala hal tentang  tes yang akan dilalui melalui buku yang sengaja ku beli. Aku memang hanya coba-coba, tapi bukan berarti aku tidak serius. Bukankah sebelum melakukan percobaan harus belajar mengenai teorinya dahulu.

Wisuda tinggal beberapa hari lagi, dan sampai sekarang belum ada panggilan dari banyak aplikasi yang ku sebar. Yah, mungkin aku perlu sedikit bersabar dan banyak-banyak berdoa.
Aku  kembali Galau dalam waktu lengang yang pada dasarnya merupakan saat-saat yang ku benci seperti saat ini. Menurutku, waktu lengang itu berpotensi melahirkan banyak maksiat. Dan entah sudah berapa banyak maksiat yang ku lakukan. Ku coba untuk tidak menyia-nyiakan waktu lengang ini dengan menulis artikel blog ataupun mengotak-atik photoshop. Hobi yang sudah lama aku tinggalkan dengan alasan sibuk.
Sampai saat ini, khayalan seandainya “kejatuhan uang secara tiba-tiba” masih sering exist.. ukh..


Update:

Saya berhasil lulus di bank dengan mengalahkan ratusan pelamar. Namun saya putuskan tidak mengambil lamaran itu karena saya tidak minat sama sekali. Saya melamar di beberapa perusahaan minyak tapi karena kesalahan teknis yang saya lakukan, saya pun gagal. Saya pernah mencoba bekerja sama dengan teman sendiri. Dan hasilnya, saya sarankan untuk pembaca agar membuat perjanjian se-profesional mungkin meskipun dengan sahabat dekat sekalipun. Kejadian itu membuat saya mesti jaga jarak dengan dia terutama jika terkait bisnis. Pada akhirnya, saya mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.




Rabu, 12 Januari 2011

Cahaya langit Harapan

'

Akhir-akhir ini semua terasa begitu kelabu.

Semua terasa, seakan-akan sekeras apapun ikhtiar yang saya lakukan, hari-hari kelam akan selalu melingkupi.


Saya bukannya apriori. Tapi kali ini, bukan lagi sekadar hidup dengan optimis atau pesimis, bukan lagi sekedar dua hal itu. Ini tentang kenyataan yang ada. Realitas yang saya harus hadapi. Dan Mendung ditambah cuaca ektstrim beberapa hari ini membuat perasaan makin dramatis.


Di saat seperti inilah saya butuh hangatnya cahaya semangat. Sehangat cahaya matahari di pagi yang cerah. Yang sejak bertahun-tahun lalu membuat saya optimis memandang masa depan. Semangat yang menjadi penambah energi saya untuk berjalan kaki ke kampus hingga kini, tanpa komplain.


Dimana Semangat itu?, Semangat yang saya butuhkan untuk tetap bertahan di tengah situasi ini. Sekeras apapun, Sesulit apapun, Sesakit apapun, Sesedih apapun, cahaya itu tak boleh padam.. Karena jika cahaya itu padam, maka semuanya akan menjadi benar-benar Gelap, Semua hitam.


Yah,, memang terdengar apa yang saya katakan seperti melantur. Tapi saya yakin, ini merupakan hal yang relevan. Dan saat ini saya perlu meng-Ekskresikan, meluapkan dan mengeluarkan apa-apa yang saya rasakan. Suasana kelam yang mencekam dan membuat berdiri bulu tengkuk ku akhir-akhir ini. Mereka datang secara diam-diam. Menelusup ke dalam tubuh dan berkembangbiak di tiap sel yang ada. Sehingga pikiran saya makin gelap.


Bahkan ketika saya merasa semuanya akan baik-baik saja. Dan saya katakan pada diri saya, bahwa "semua akan baik-baik saja dan semua akan berakhir baik". Saya merasa bahwa semua tidak akan sebaik yang saya harapkan.


Bahkan saya tidak bisa lagi berpikir optimis, tidak juga pesimis. Saat ini semuanya terasa samar, tak terbaca, dan membuatnya makin menakutkan. Realitas yang paling nyata akan kehidupan yang sebenarnya.


Seperti halya Iman, Optimisme pun fluktuatif. Kadang Kurva ekspektasi melonjak begitu tajam, atau bahkan tren nya menurun seketika.

===


Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi.


Ungkapan imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan belakangan ini. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak "bertanya" mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.

Mungkin saya mesti menambah energi ekstra untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal. Dan yang perlu saya camkan barangkali, bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.


Dengan kata lain, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak saya, pastinya adalah yang menyenangkan dan baik untuk saya (dalam kacamata saya).


Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah "paksakan" bagi diri saya. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita? (dan mungkin kalimat inilah yang perlu saya camkan).


Pokoknya, hidup adalah pilihan. Dan Saya telah mengambil keputusan, dari banyak pilihan yang ada. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang saya bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana saya memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.


Ada ikhtiar ada Tawakkal.. setelah iktiar maksimal terserah Dia mau seperti apa saya pada akhirnya.


Saya selalu berdoa agar saya tidak salah memilih dalam mementaskan hidup. Semoga saya Tetap Optimis dengan Keputusan yang pernah saya ambil. Dan konsisten dengan bara semangat yang saya genggam, yang dulu sempat membakar dengan nyalanya.


Untuk mereka yang saya cinta.


>> Kampung Baru, 12-1-2011 pkl 24.00


+ Untuk harapan orangtua thd saya

+ Untuk tanggung jawab saya thd masa depan saya

+ Untuk keputusan saya yang saya ambil beberapa tahun lalu.

+ Dan untuk perasaan saya thd seseorang.

,

Senin, 03 Januari 2011

Kata-kata inspiratif anak kecil di iklan Nutrilon

'

I want to live my life to the absolute fullest..
To open my eyes to be all I can be..
To travel roads not taken, to meet faces unknown..
To feel the wind, to touch the stars..
I promise to discover myself..
To stand tall with greatness..
To chase down and catch every dream..
LIFE IS AN ADVENTURE

,

Minggu, 21 November 2010

Calon istri seperti apa yang kau cari?

Calon istri seperti apa yang kau cari?

Kalau ditanya seperti itu, pasti setiap orang memiliki kriteria yang berbeda-beda. Karena, setiap orang punya selera yang berbeda.
Ada yang suka akan kecantikannya, yang ini jelas, karena hampir setiap orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Keseksiannya, kecerdasannya, Posisi keluarganya yang terhormat, atau mungkin hartanya. Namun tak sedikit pula yang menginginkan calon istri yang baik hatinya atau baik akhlaknya.

Tak masalah seperti apa kriteria yang kamu cari. Yang jelas setiap pilihan pasti ada baik dan buruknya, Kalau saya yang disuruh memilih sih, saya mau semua kriteria di atas masuk, meskipun kecil kemungkinannya. hehehe.

Namun menurut saya wanita yang cocok untuk dijadikan istri adalah wanita yang baik akhlaknya lagi baik tingkah lakunya, kalaupun kriteria yang lain masuk, anggap saja bonus.

Segala sesuatu yang tampak dari luar akan mudah sekali hilang. Dan segala sesuatu yang bersifat materi dan jasmani sama sekali tidak bisa menjamin bahwa kebahagian hatipun terpenuhi.

Yang perlu dipikirkan ketika kita mencari pendamping hidup adalah pikirkan pula kehidupan kita 10 atau 20 tahun mendatang ketika bersama dia. Pikirkan pula nasib anak-anak kita kelak, karena bagaimanapun anak Soleh adalah investasi terbesar kita ketika kita tua ataupun saat kita meninggal. Dan salah satu faktor penting bisa terbentuknya anak soleh adalah seorang Ibu.

Sangat membahagiakan pastinya ketika kita dalam kesulitan, Istri dengan senang hati menyemangati dan memotivasi agar kita mampu menghadapinya. Tutur kata lembutnya mampu menenangkan jiwa.

Sangat mengaharukan pastinya Saat kita bekerja banting tulang di luar dan pulang tanpa membawa apa-apa, ia masih menyambut dengan senyum terbaiknya.

Ketika iman sedang turun, ia selalu mengingatkan..

Ketika jauh dari kita, Ia selalu menjaga kesuciannya, menjaga kehormatan Suami dan keluarganya.

Percaya atau tidak, ketika berkeluarga kelak, wanita seperti inilah yang kita harapkan. Tak peduli dari segi fisik dia cantik atau kurang menarik, Kalau sudah cinta, semua menjadi cantik. Dan Akhlak yang baiklah yang membuatnya cantik. Dan saat itulah wanita sebagai perhiasan dunia berlaku, bukan sebaliknya, Racun dunia.

Lantas bagaimana kita tahu dia adalah istri yang baik, sedangkan kita belum hidup bersamanya?

Jawabnya adalah bersabar dan berdoa. Ingatlah, wanita baik-baik untuk pria baik-baik. Toh, ketika jodoh tiba, ia akan datang dengan sendirinya tanpa kita duga.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidak akan sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.

Pada akhirnya Allah swt dengan segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu,karena alasan yang penting.
dan percayalah SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA.

Senin, 03 Mei 2010

Semuanya tentang mimpi dan perjuangan meraihnya, Sobat

Tak selalu usaha yang kita lakukan selalu berhasil. Sering sekali, kita sudah melakukan dengan sepenuh hati, mencurahkan segala pikiran kita, dan mengalirkan keringat kita. Namun apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Terlalu sering saya mengalami kegagalan. dan kini saya mencoba kembali melakukan banyak hal yang belum terlihat juga hasilnya. kalau pun apa yang telah saya lakukan dan yang saya rencanakan kembali gagal, dan lagi - lagi gagal untuk kesekian kalinya, setidaknya saya tidak terlalu jatuh. Saya telah belajar dari kegagalan yang terdahulu. belajar mengurangi rasa sakit ketika mengalami kegagalan.

Tahukah kawan, sebelum usaha dan rencana saya yang kali ini belum terlihat hasilnya, saya telah memulai lagi hal yang lain, dan mungkin seperti itu terus menerus. Saya tidak tahu kapan keberhasilan itu datang dan pada bidang apa. Tapi saya yakin, ada sesuatu yang menunggu saya di depan sana.

Teman saya, Alpan, mengatakan bahwa berhasil pada saat mencoba untuk kali ke - 4 adalah hal yang hebat. Tapi saya agak berbeda pendapat dengan dia. saya lebih suka mengatakan bahwa berhasil setelah usaha yang ke - 1000 adalah suatu hal yang luar biasa. karena dengan begitu, saya telah menemukan 999 cara yang salah dalam menggapai sesuatu. (walaupun pada dasarnya saya tetap menginginkan langsung berhasil dalam satu kali mencoba).

Yah bagaimanapun juga,, saat ini adalah saat dimana kegagalan adalah hal yang wajar. Jika tidak begitu, harus nya tidak perlu ada Laboratorium yang pada dasarnya dibuat untuk trial n error.

Saya harus tetap belajar,, belajar dari pengalaman orang lain dan pengalaman sendiri tentunya. Sudah sejauh ini saya melangkah. Dan saya ber - azzam bahwa apa yang saya mulai 2 tahun lalu harus saya selesaikan dengan baik.

Masih banyak hal yang tidak saya tahu. Persis seperti ungkapan yang pernah saya dengar., " saya adalah seorang bocah yang sedang bermain - main dipinggir pantai, yang begitu mengagumi kerang, pasir, ombak, dan birunya laut. sementara di depan saya terbentang luas dalamnya samudra pengetahuan yang tidak mungkin untuk saya selami. dan saya tidak pernah tau kebenaran yang sebenarnya.

Semua Indah Pada Waktunya

*) Sebagian besar isi ditulis oleh penulis. dan beberapa bagian disadur dari tulisan dengan judul sama dengan pengubahan seperlunya

----------------------------------------------------------------------------

Biarkan hari2 bertingkah & berjalan semaunya
Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara
Dan jangan gelisah dengan kisah malam
Tidak ada kisah dunia ini yang abadi

Biar Cinta itu Bermuara Dengan Sendirinya..

Kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu dermaga tenang yang bersedia menerima kehadiran kapalmu

Kalau dulu memang pernah ada satu dermaga kecil, yang kemudian harus kau lupakan mengapa tak kau cari dermaga lain?
Dermaga yang akan dapat memberikan rasa damai yang lebih…

Seandainya kau mau buka tirai di sanubarimu dan kau akan tahu dermaga mana yang ingin kau singgahi
untuk selamanya hingga dermaga itu jadi rumahmu, rumah dan dermaga hatimu.

***

Pikiran pria itu menerawang ke masa lalu. Dulu sekali ketika pria itu baru menapaki masa remaja, sempat terpikir olehnya untuk menjalin suatu hubungan dengan teman sepermainannya.
Hormon remaja, pergaulan di lingkungan nya, dan kurangnya pemahaman agama, membuatnya selalu terpikir akan segala keindahan mengenai jalinan sebuah hubungan. Semua telihat sejuk, dan semua terasa hangat. Begitu pikirnya.

Waktupun berlalu, masih di waktu dulu ketika ia masih belia, sedikit demi sedikit ia mulai belajar mengenai suatu kebenaran hakiki. Dengan bimbingan kakak-kakaknya yang lebih hanif, akhirnya ia sadar bahwa ada sesuatu yang lebih berguna untuk ia lakukan ketika masa belia, dibanding melakukan hal-hal yang menjauhkannya dari penciptanya.

Pada akhirnya, ia dan teman sepermainannya itu mulai berjarak, hingga mereka benar-benar terpisah. Sahabatnya pun menjalin ikatan dengan pria lain dan ia sendiri menjalani kehidupannya sendiri yang ia yakini kebenarannya. Orang-orang di sekitar mereka yang menyadari apa yang terjadi diantara mereka menyayangkan sikap si pria. Namun, Tak ada sesal dalam dirinya. Dan ia mulai memiliki rasa BANGGA dengan apa yang ia yakini. Keyakinan akan Rabb-nya. Keyakinan akan manuskrip yang Ia turunkan pada sang Uswatun hasanah. Dan keyakinan akan keluhuran Ad-din yang ia peluk. Kebanggaan yang pada akhirnya menjadi prinsip hidupnya kelak.

Namun meski begitu, keinginan untuk menjalin sebuah ikatan tetap saja ada. Hari demi hari berganti, musim pun berlalu. Bunga-bunga tumbuh dan bersemi. Begitu banyak bunga dengan warna dan aroma yang menggoda. Beberapa bunga itu begitu menarik untuk ia singgahi. Teman-teman pria sebayanya banyak yang telah memetik bunga-bunga itu. Sempat ia terpikir untuk sekedar mendekati salah satu bunga itu, bunga yang begitu memikat hatinya.

Namun hati kecilnya berkata jangan, Belum saatnya, bisik hati kecilnya. Hati kecilnya mengingatkan, Apalah gunanya ia mendekat, bukankah ia tak pernah tahu apa yang mengelilingi bunga itu. Mungkin perangkap syaithon. La takrobuzina. Kalimat itulah yang ia selalu ingat. Pria itu pun kembali larut dalam aktivitas kesehariannya. Mendalami ilmu agama, aktif di organisasi kerohanian sekolah dan menghidupkan masjid sekolahnya.

Lantas, apakah hidup pria itu menjadi hampa cinta?. Sekalipun tidak! Ia mulai melihat bahwa ada banyak cinta disekelilingnya. Cinta yang seharusnya ia sadari dan tak pernah kurang ia dapatkan. Cinta dari Keluarganya, dan sahabat disekelilingnya. Mereka yang selalu menjadi sandarannya ketika ia perlu tempat bersandar. Mereka yang selalu mengingatkannya dikala ia lupa. Dan cinta dari Rabb-nya yang tiada pernah berputus.

Waktupun kembali berputar, semua berjalan sesuai tempatnya. Ia berangkat sekolah, belajar di kelas, bergaul di luar kelas, dan semua aktivitas yang seperti biasa. Kesemuanya tentu disertai dengan ikhtilat atau campur baur pria wanita yang tak mungkin bisa untuk dihindari. Pria ini akhirnya mengulang seperti kisah pada awalnya. Ia mulai menemukan wanita yang ia rasa baik untuknya kelak. Ada getaran yang berbeda setiap kali ia berinteraksi dengan si wanita. Ia mulai berpikir bahwa wanita inilah yang tepat untuk mengisi hari-harinya suatu hari nanti dalam bingkai pernikahan. Semuanya terjadi begitu saja tanpa ia kira.

Berawal dari pertemanan biasa, belajar bersama, dan mendiskusikan banyak hal.
Dan wanita itu, ia adalah sosok yang begitu baik, cerdas, dewasa, berpikiran luas dan masih banyak hal-hal positif yang ada dalam wanita itu, yang membuat si pria lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita , curahan hati,saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.

Disaat semua berjalan, hati kecilnya kembali menegur, ” Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi? ” pria itu terdiam.

Pria itu kemudian menayakan masalah Ini pada salah satu temannya, namun, jawaban temannya kurang memuaskan hatinya. Temannya menyarankan agar segera meresmikan hubungan mereka.. pria ini kembali terdiam.

Dalam diamnya Pria ini tersadar mendengar jawaban temannya ini. Ia sadar, terlalu jauh ia melangkah. Ia malu, dimanakah kesucian yang dulu ia banggakan. Dimanakah Kesucian si pria dan kesucian si wanita yang harusnya ia jaga. Dimanakah prinsip yang dulu ia pegang teguh.

Ia akhirnya mulai menjaga jarak dengan si wanita. Bukan karena ia membenci wanita itu. Namun semua ia lakukan karena ia begitu mencintai wanita itu, ia mencintai karena ia mencintai Rabb-nya dan segala syariatNya. Biarlah orang-orang yang sudah tahu mengenai masalah ini menganggap ia pengecut. Ia tak peduli. Baginya, prinsip adalah prinsip yang harus dipegang teguh. Ia lakukan ini semua karena ia ingin menjaga kehormatan wanita itu, dan ia lakukan semua ini karena ia begitu menghargai wanita itu. Dan ia tak ingin syetan menyusup diantara dua hati yang perlahan tapi pasti selalu menjerumuskan.

Masalah pendamping hidup, ia serahkan semuanya pada yang Maha Mengatur. Toh, jika akhirnya mereka akan bersatu, mereka pasti bersatu dalam suatu ikatan suci kelak. Rasanya Tak perlu ia mengungkapkan perasaannya pada si wanita, karena ia tidak ingin mengikat wanita itu dengan apapun. Ia bebaskan perasaan masing-masing untuk leluasa mencari orang yang tepat mejadi pendamping. Karena ia sendiri tak tahu bagaimana perasaannya terhadap si wanita beberapa tahun ke depan, masih sama, atau berubah. Dan ia tidak ingin ada salah satu pihak yang tersakiti kelak. Hingga akhirnya si pria dan si wanita itu terpisahkan oleh jarak untuk waktu yang lama. Meski si pria masih berharap, wanita inilah pendampingnya kelak.

***
Waktupun kembali berputar. Dan episode kehidupan pun masih tetap berlanjut. Pria tersebut kembali tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Segala aktivitas dunia kampus ia jalani. Seabrek perkuliahan ia lalui. Terkadang masih terlintas jelas di benaknya bayang-bayang masa lalu.
Terkadang timbul sedikit penyesalan dalam dirinya, namun tiap kali rasa itu datang, buru-buru ia tepis.
Hati tidak pernah ada yang tahu. Suatu hari muncullah seorang gadis yang begitu memikat hatinya. Dia adalah adik tingkatnya. Gadis itu cantik, baik sikapnya, baik akhlaknya, pintar otaknya dan dari keluarga baik-baik.

Si pria ini selalu memikirkan gadis ini. Beberapa tentangnya benar, cantik, *Hanya orang yang tak dianugrahi penglihatan yang tak mampu melihat kecantikannya. Pintar, *bisa dilihat transkripnya. Dari keluarga baik-baik, *semua tahu siapa keluarganya dan tak ada yang meragukannya. Namun ia rasa, ia salah menilai mengenai sikap dan akhlaknya. Ia geleng-geleng kepala sendiri saat melihat tingkah laku si gadis yang sebenarnya. Tak ada beda dengan wanita lain. Hijab yang ia kenakan tak ubahnya hanya sekadar simbolisme akan kesempurnaan dirinya.

Setiap ada yang datang atau pergi, Selalu dibandingkan dengan sosok wanita sahabatnya itu dan tentulah sosok wanita sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan pria itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..pria itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka dihati… Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini….
Air mata nya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam…
Dia berjanji untuk tidak mengisi hari - harinya dengan kesia-siaan.
Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa.
Sehingga…. saat seseorang itu pun hilang begitu saja… Masih ada setangkup harapan agar dia kembali….Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati…. akan selalu ada beribu kata maaf untuknya…. Masih ada beribu penantian walau tak pasti… Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya.
Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??

Masih ada sejuta asa…. Masih ada sejuta makna…..Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama….

“Lalu… bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada??” tanya saya suatu hari.
Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab, Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan, Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian, Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir. Hanya Allah swt yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetapi lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.

Namun bagaimanapun, Tetap lebih baik MENUNGGU ORANG YANG TEPAT, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.
Orang yang tepat itu bukanlah orang-orang yang pernah mengisi hati kita dimasa lalu. bukan pula orang yang ada pada saat ini. Dan bukan pula orang yang akan kita temui dimasa depan. HANYA ALLAH YANG MAHATAHU SIAPA ORANG YANG TEPAT ITU. Semua sudah tertulis pada Megaserver lauh mahfudz sejak zaman azali.

Perlu kita ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam, Kota Roma tidak dibangun dalam sehari, Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan, Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan. Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.

Pada akhirnya Allah swt dengan segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu,karena alasan yang penting.
dan percayalah.. …SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA.........

” Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya.. DISAAT YANG TEPAT…
dengan SESEORANG YANG TEPAT…. DAN PILIHAN YANG TEPAT……HANYA DARI ALLAH SWT.
Disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatan pernikahan yang barokah..”

--------------------------------------------------------
*) Sebagian besar isi ditulis oleh penulis. dan beberapa bagian disadur dari tulisan dengan judul sama dengan pengubahan seperlunya.