Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Tetap mencoba, terus berjuang!

Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i)
***

Sekuat apa mesti berjuang?
Sekuat mungkin, dengan seluruh daya dan upaya yang dimiliki.
Kejar apa yang ingin dikejar.
Raih apa yang ingin diraih.
Selanjutnya, serahkan semua hasil akhirnya pada Dia yang Mahakuasa.

Jangan sampai ketika di usia 40, 50, 60 tahun dan seterusnya, kita menyesal, meratapi nasib, dan memaki diri sendiri,
"Seandainya ketika di usia 25 tahun saya dapat sedikit lebih bersabar terhadap usaha keras yang telah saya telah lakukan, mungkin keadaan akan jauh berbeda".

"Seandainya di usia 22 tahun saya berani untuk melakukan itu, mungkin kehidupan saya lebih baik dari saat ini".

Berhasil atau gagal adalah konsuekuensi dari usaha.
Keberhasilan adalah buah manis dari usaha. Sementara kegagalan adalah guru yang memberi banyak pengalaman dan pelajaran. Mencoba namun gagal adalah lebih baik ketimbang hanya diam karena takut gagal.

Hargai orang-orang yang menyayangi kita; ibu, ayah, kakak, adik, kerabat dan sahabat. Kita tidak akan pernah tahu akan meraih sukses di usia berapa, sebagaimana kita tidak tahu usia kita ataupun usia orangtua kita. Jangan sampai ketika impian tercapai, yang ada hanya sesal karena tidak memperhatikan mereka selagi mereka ada.

Bandung yang lagi Mendung,
2 Februari 2016
***
#dipersimpangan #bimbang #degdegan #berharap #doa  #pasrah #MencobaTenang

#KamitidaktakutGagal
#takutDikitSih
#CumaKarenaSeringGagal
#YaMauGimanaLagi

Kamis, 18 Februari 2016

Tentang Pengabdian

Ada doa yang selalu saya panjatkan setiap kali saya berdoa pada Sang Khalik. Doanya sederhana, "Ya Allah, jadikanlah saya orang yang dapat bermanfaat bagi orang banyak". Terdengar sederhana, klise, dan bagi sebagian orang mungkin terlihat bullshit. Tapi ini sangat penting bagi saya. Mengapa ini penting? Karena hingga kini, saya percaya bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Cerita kali ini bukan tentang saya, melainkan cerita mengenai orang yang saya temui ketika saya mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK) 55 LPDP beberapa waktu lalu. Sangat inspiratif! Cerita mereka semakin membuat saya yakin bahwa masih banyak orang-orang yang bekerja tanpa pamrih demi orang lain. 

Namanya Deddy Riangga Simanjuntak, Orang Batak kelahiran Jakarta. Karena sukunya, Saya memanggilnya Bang Deddy, seperti halnya panggilan yang saya sematkan kepada orang lain begitu saya mengtahui bahwa yang bersangkutan adalah orang dari Sumatera. Bang Deddy adalah seorang dokter lulusan Universitas Indonesia. Pertama kali saya berinteraksi dengan bang Deddy adalah melalui aplikasi obrolan Telegram. Ketika itu, saya terlibat dalam tugas PK di Bidang Pelayanan Kesehatan sebagai asisten dokter yang tugasnya adalah memastikan perlengkapan tersedia saat hari H.    

Orangnya baik dan ramah. Sikap yang meruntuhkan persepsi saya tentang orang-orang lulusan kedokteran. Sebenarnya bukan hanya karena bang Deddy, ada juga dr. Adit, dr. Levana, dan dokter-dokter lain penerima beasiswa dokter spesialis LPDP yang seangkatan dengan saya. Stereotipe bahwa semua lulusan kedokteran itu kaku, hedon, dan angkuh, langsung pupus seketika saat bertemu mereka. Cerita tentang teman inspiratif lainnya insyaaAllah akan saya tulis di kesempatan yang berbeda.

Saat saya menulis ini, bang Deddy tengah tugas di Papua, tepatnya Kabupaten Mamberamo Tengah. Sebuah daerah terpencil di ujung timur Indonesia. Ada cerita menarik dari beliau ketika sedang mengerjakan tugas Pra-PK. Tugas Pra-PK sendiri adalah tugas bejibun yang harus diselesaikan sebelum mengikuti PK. Tugasnya ada banyak, terlalu banyak bagi saya pribadi. Terlebih bagi yang sedang bekerja. Yang harus curi-curi waktu di sela jam kerja, atau terpaksa mengurangi waktu istirahat di rumah demi selesainya tugas Pra-PK. Namun demikian, pada akhirnya kami sadar bahwa ternyata tugas Pra-PK itu akan sangat berguna ketika kelak mengikuti PK dan Pasca PK -salah satunya adalah untuk membuka rekening tabungan-. Tugas-tugas tersebut harus diselesaikan dengan tenggat waktu tertentu dan harus dikirim via surel.

Bang Deddy bertugas di salah satu puskesmas terpencil yang ditempuh kira-kira 2 jam perjalanan dari kantor Pemkab. Dengan kondisi demikian, bisa ditebak seperti apa keterbatasan akses terhadap dunia luar terutama internet. Selama mengerjakan tugas Pra-PK, Bang Deddy harus ke kantor Pemkab untuk mengunduh daftar tugas, lalu pulang ke mess untuk mengerjakan tugas, dan kembali lagi ke Kantor Pemkab untuk mengirim tugas. Ribet? tentu saja iya. Tapi jujur, saya merasa bersalah terhadap diri sendiri yang sering mengeluh ketika mengerjakan tugas Pra-PK, sementara dari segi aksesibilitas dan fasilitas, keadaan saya jauh lebih baik dari bang Deddy.

Suatu hal yang saya salut dari bang Deddy adalah niat dan tekadnya untuk mengabdi di Papua. Bayangkan, betapa mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan untuk lulus menjadi seorang dokter. Tapi setelah lulus, lantas pergi begitu saja. Pergi ke suatu tempat yang jika tujuan utamanya adalah untuk balik modal dalam waktu singkat merupakan sesuatu yang agak mustahil. Yang jelas, persepsi Saya sebelumnya mengenai orang-orang dengan profesi mulia ini terlalu berlebihan, karena Saya hanya membandingkan sedikit sampel yang sikap mereka sangat bertolak belakang dengan dokter-dokter baik yang saya temui. Sedikit sampel yang membuat saya mengeneralisasi secara keseluruhan, dan terbukti salah.

Saya bertanya kepada bang Deddy tentang alasan dia memilih jalan tersebut. Jawabannya sederhana, dia ingin mengabdi kepada orang-orang yang memang sangat membutuhkan tenaga kesehatan. Selain itu, jiwa petualang-nya mungkin ikut andil ketika dia mengambil keputusan tersebut. Saya kemudian bertanya tentang banyak hal; mengenai suka-duka, dan tanggapan keluarga. Perbincangan dengan dokter yang akan melanjutkan studi master di Johns Hopkins University di hari penutupan PK itu kemudian membuka pikiran saya mengenai arti pengabdian secara lebih luas. Kehidupan modern yang cenderung materialistis mungkin telah membutakan mata hati kita untuk melihat bahwa pada dasarnya masyarakat masih membutuhkan karya kita untuk membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik di bidang apapun sesuai dengan bidang keahlian kita. Sekecil apapun andil Kita terhadap masyarakat, tentu lebih baik ketimbang sekadar melakukan pencitraan di media sosial.

Masyarakat membutuhkan kerja nyata dari kita, kerja konkret yang manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka. Tidak banyak orang-orang yang mampu menempuh pendidikan hingga level universitas apalagi hingga lulus S2. Jika setelah lulus kuliah kita lebih memilih bekerja di perusahaan asing atau perusahaan apapun yang menawarkan gaji besar dan fasilitas yang serba wah, lantas kemana lagi saudara-saudara kita yang membutuhkan berharap? Mereka yang tidak bisa membayar kecuali dengan ucapan terima kasih dan doa yang tulus. Saya sama sekali tidak mempersalahkan apakah lebih baik bekerja di bidang A atau bekerja di bidang B, untuk C atau untuk D. Karena bagaimanapun hal tersebut adalah ranah pribadi. Semua orang pasti memiliki preferensi tersendiri terhadap pilihan mereka. Dan kembali lagi, semua pekerjaan itu baik selama tidak melanggar hukum agama dan negara. Namun yang jelas, di mana pun kita bekerja, pastikan karya kita dapat bermanfaat bagi orang banyak.


Bandung, 18 Februari 2016

Dari dokumentasi pribadi Bang Deddy





Selasa, 23 September 2014

Pendidikan dan pembentukan pola pikir




Heboh berita tentang berita yang tersebar secara viral di media sosial saat ini, membuat saya ingin ikut-ikutan komentar. Tapi di sini saya tidak ingin mengkritik melainkan berbagi pengalaman pribadi selama menimba ilmu di sekolah dasar.

Saya bukan anak pintar apalagi jenius. Bukan pula juara kelas kesayangan guru apalagi peraih medali emas olimpiade. Saya adalah golongan medioker. Golongan rata-rata. Golongan yang ada ataupun tidak ada tak akan berpengaruh terhadap kondisi kelas.

Ngomong-ngomong tentang perkalian, saya pertama kali menerima pelajaran itu ketika kelas 2 SD. Saat itu, kami dituntut untuk hafal perkalian 1 sampai 10. Teman-teman saya banyak yang berusaha menghafal, begitu juga saya. Apalagi ada ujian lisan perkalian di mana bagi yang tidak hafal akan mendapatkan hukuman. Minimal hukumannya adalah berdiri tegak di kelas.

Tapi, bagi yang berotak lemah seperti saya, menghafal adalah sesuatu yang mengerikan. Jadi, saya memutuskan berhenti untuk menghafal.

Dan bisa ditebak hasilnya, saya selalu kena hukum dan nilai matematika saya hancur. Hahahaha..

Perkalian yang saya hafal adalah perkalian 1, 2, 5, dan 10. Itupun bukan karena saya menghafal, melainkan karena hasilnya membentuk deret yg mudah untuk diingat. Contoh: perkalian 1 hasilnya 1,2,3,4,5,..,10.
Perkalian 5 hasilnya 5,10,15,20,.., 50.

Selanjutnya untuk perkalian 3,4,6,7,8,9 saya menggunakan logika sendiri yang didasarkan pada perkalian yg saya hafal.

Contohnya, jika ada soal 4 x 6 maka hasilnya adalah 4+4+4+4+4+4 =24.
Dan jika ada soal 6x4 hasilnya adalah 6x6x6x6=24.

Tidak praktis, rumit, dan bertele-tele. Hal itulah yang menyebabkan setiap kali ulangan, saya selalu telat mengumpulkan. Saya selalu menghitung penjumlahan tersebut di dalam otak saya. Hasilnya, beberapa kali konsentrasi saya buyar sehingga harus menghitung ulang dari awal. Tapi kabar baiknya, saya sedari awal tahu mengapa 6x4 hasilnya 24.

Setidaknya, cara seperti ini mengajari saya untuk berusaha berfikir objektif  ketika menghadapi berbagai macam permasalahan dan  menutut saya untuk mempelajari akar permasalahannya terlebih dahulu.

Perkembangan menyerap pelajaran saya lambat. Tapi tidak masalah. Toh saya tidak peduli dengan nilai. Saya juga tidak mengerti apa itu arti ranking 1. Sebagai catatan, saya mendaftar SD ketika usia saya baru saja menginjak 5 tahun. Dan kata ibu saya, saya termasuk anak yang telat bicara. Saya baru bisa bicara ketika menginjak usia 2 tahun.

Jadi, orang tua saya tidak marah ketika di raport saya ada tiga angka merah yang bertengger saat bagi raport kelas 1 catur wulan 1. Mereka cukup mahfum.

Saat saya kecil saya hanya akan melakukan sesuatu jika saya menyukainya.

Hal baik yang saya miliki ketika SD adalah saya bisa membaca selepas kelas 1 catur wulan 1. Jujur, dapat membaca adalah anugerah terindah dari tuhan bagi saya. Sejak itu beberapa buku saya baca. Itupun bukan buku pelajaran, melainkan cerita-cerita dongeng, majalah anak-anak, ataupun tentang kehidupan hewan. Kadang judul headline koran selalu saya baca. Selain itu, saya berhasil menamatkan komik misteri Petruk Gareng karya Tatang Suhenra sekali duduk.

Saya selalu membaca ketika saya bosan dengan pelajaran sekolah. Daripada saya frustasi karena saya sekolah hanya untuk membuktikan bahwa saya tidak bisa apa-apa dan juga selalu dihukum, maka lebih baik saya membaca.

Selain matematika, saya juga bodoh di pelajaran lain.

Saat pelajaran kesenian, Saya menggambar sebuah gunung dan mewarnainya dengan warna hitam. Padahal teman teman saya menggambar 2 buah gunung dengan matahari di tengahnya dan mewarnainya dengan warna biru. Dan kata mereka gambar saya jelek lagi salah. Mana ada gunung berwarna hitam.

Kadang saya menggambar mata, hidung & mulut saat menggambar matahari. Gambar yang selalu dicoret ibu guru dan beliau mengatakan bahwa gambar saya tidak masuk akal. Hasilnya, nilai terbaik saya di pelajaran kesenian adalah 6.

Pelajaran bahasa Indonesia juga sama, selalu dapat ponten kurang dari 7. Tata bahasa saya kacau & sulit dimengerti.

PPKN? Hahahaha.. nasibnya juga sama. Ceritanya ada soal pilihan ganda, saya lupa detilnya, tapi soalnya kurang lebih seperti ini:
Ibu pulang dari pasar dengan membawa banyak barang apa yang akan kamu lakukan?
A. Membantu ibu membawa barang.
B. Memanggil orang lain untuk membantu ibu.
C. Tidak melakukan apa-apa

Saya jawab B, karena yang saya tahu, setiap pulang dari pasar, belanjaan ibu cukup berat. Jadi saya akan memanggil kakak saya untuk membantu ibu, atau kakak sepupu saya yg sudah besar yang  saat itu tinggal menumpang di rumah kami.

Hasilnya, tentu jawaban saya salah besar karena jawaban yang benar adalah A.
***

Namun di balik apa yang saya ceritakan di atas, masih banyak hal menarik ketika SD dulu yang masih saya ingat. Walau dalam beberapa hal, ada juga momen yang tidak menyenangkan.

Saya tidak pernah mau menyalahkan guru. Guru-guru sudah mengajar dengan sangat baik [Semoga semua orang yang pernah mengajar saya mendapatkan pahala dan rahmat yang selalu mengalir dari Allah Subhanawataa'laa]. Hanya saja, saya berbeda dengan yang lain. Saya kurang pintar, jadi saya mencari jalan lain yang nyaman untuk saya.

Kadang jalan itu salah, dan kadang jalan  itu benar. Dan saya belajar untuk menerima apapun konsekuensi dari pilihan yang saya ambil. Saya pernah mengambil pilihan yang salah, yaitu menyontek dan langsung ketahuan. Saya pun menerima konsekuensi terburuk dari pilihan saya itu. Menghasilkan trauma yang membekas hingga kini. Saya sempat minder selama berbulan-bulan. Berjalan pun seperti anak babi yang berjalan tunduk. Saya mengurangi interaksi dengan orang lain, dan hanya bicara dengan sahabat-sahabat terdekat. Benar-benar  pelajaran yang berharga.

Pengalaman demi pengalaman yang saya alami membuat saya tidak terlalu memikirkan nilai. Keuntungan untuk tidak terikat dengan angka-angka adalah kita tidak takut untuk duduk di manapun ketika ujian. Jadi nilai saya sejak SD hingga kuliah selalu fluktuatif. Tergantung dari kemampuan saya menyerap pelajaran.

Saya pernah dapat nilai 4 di raport dan saya juga pernah dapat nilai 9. Saya pernah dapat nilai E, D, C, B dan A selama kuliah. Saya pernah dapat IP 2,3 dan saya juga pernah dapat IP nyaris 4.
--

Saya ingin mengatakan bahwa ada banyak hal-hal baik yang bisa kita dapatkan ketika kita menghargai sebuah proses. Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil ketika kita berjalan di jalan yang kita pilih. Dan tentu saja, dengan membaca akan memperluas cakrawala berpikir kita.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk menjadi taqwa.
1+1+1+0,6+0,2+0,2=4
2x2=4
2+2=4
3+2-1=4
((8÷2)^(1÷2))+ (sin(30))+((9^(1÷2))÷((100^(1÷2))÷(25^(1÷2)))) = 4

Banyak jalan. Dan jalan yang kita pilih tergantung dari kebutuhan kita.

Kita akan tahu kapan kita sebaiknya mengunakan 4x6 atau 6x4 saat kita membutuhkan hasil 24.

Dari keberagaman cara berpikir ini pula saya belajar untuk berani memiliki pendapat yang berbeda dan menghormati pendapat orang lain yang berbeda dari saya.

Proses demi proses itulah yang akhirnya akan membentuk idealisme dan kemandirian. Bagi saya prinsip hidup atau idealisme itu baik, selama tidak bertentangan dengan moral yang berlaku umum dan juga norma agama. Sementara, kemandirian membuat kita tidak ketergantungan dengan uluran tangan dan belas kasih orang lain.

Apa untungnya memiliki prinsip atau idealisme dan kemandirian?

Yang saya tahu idealisme dan kemandirian itu bukan faktor utama yang dapat menjadikan kita kaya, bukan penentu untuk membuat kita dapat diterima di perusahaan bonafit, tidak menjamin kita dapat naik jabatan, dan yang jelas akan membuat semakin banyak yang tidak menyukai kita.

Banyak yang mengatakan saya bodoh, kurang cekatan, lemah, tidak berguna, jelek, tidak gaul, sok alim, sok pintar, munafik, dll. Bahkan bagi yang merasa lebih kuat atau berkuasa, mereka mengatakannya langsung di depan wajah saya.

So what? Paling tidak saya masih punya kehidupan. Dan kehidupan saya tidak bergantung pada mereka. Hahahaha..

Yang jelas, beberapa keuntungan tidak bergantung pada orang lain adalah tidak akan ada yang bisa mengatur, menindas, atau membungkam kita secara sewenang-wenang.

Ketika ada orang yang coba mengintimidasi, maka kita masih punya pilihan untuk bersikap; lawan atau tinggalkan. Jangan pernah mau jadi korban intimidasi.

Ketika orang lain merebut  hak kita, maka kita masih ada usaha untuk merebut kembali. Bahkan saat di posisi kita lemah sekalipun.

Ketika disakiti, hati kita akan sakit. Tapi kita tidak akan dendam.

Hidup itu menyenangkan jika didasari pada prinsip saling menghormati, bukan karena saling berusaha mendominasi, pada prinsip sama rata  sama rasa, bukan karena salah satu takut terhadap yang lain.

Hanya kita yang tahu tentang diri kita sendiri. Sedangkan orang lain hanya menilai hasil akhir dari proses panjang yang kita jalani.

Dan yang pasti, ada  peran luar biasa dari  Yang Mahakuasa ketika kita berusaha dan dibarengi dengan doa yang tiada berputus.

Salam.

Rabu, 06 November 2013

Kematian itu...


Hari ini, saya dapat kabar duka lagi. Dan lagi-lagi dari orang yang usianya tak jauh berbeda, sama-sama angkatan 2007 saat kami masuk kuliah.  Padahal, baru seminggu kemarin, saya dapat kabar bahwa adik tingkat saya yang satu jurusan di S1 meninggal dunia. Dan beberapa minggu sebelumnya, saya juga mendapat kabar bahwa adik tingkat  saya di almamater  yang sama meninggal dunia. Penyebabnya pun beragam. Ada yang tenggelam, sakit, dan meninggal begitu saja ketika tidur.

Kejadian yang beruntun ini, kembali mengingatkan saya bahwa kematian itu memang sangat dekat.  Sedekat udara yang kita hirup dan yang kita hembuskan. Ia selalu bersama dengan kita dengan mengikuti ritme aliran darah yang dipompa jantung. Kematian baru akan berhenti mengikuti di saat kita telah mati dan menjadi bagian dari kematian itu sendiri. Bersamaan dengan berhentinya hembusan nafas dan sirkulasi darah.

Saya sempat berpikir bahwa  mungkin kematian itu sederhana. Nafas berhenti dan detak jantung berhenti. Setelah itu kita tidak akan merasakan apa-apa lagi, dikubur, dan kita tidak memiliki urusan lagi dengan apapun itu di dunia ini. Mungkin rasanya akan sama seperti sebelum kita lahir ke dunia ini. Tidak merasakan apa-apa, hampa dan kosong. Sederhana bukan? Bukankah kita baru tahu bahwa kita ini manusia hidup setelah setahun atau dua tahun setelah kita dilahirkan?. 

Tapi ternyata, kematian tidaklah sesederhana itu. Ia begitu kompleks, dan begitu sulit dipahami terutama mengenai kapan ia akan datang. Dan ketika ia datang, apakah kita sudah siap? Sayangnya, entah siap atau tidak, kita tidak bisa mengelak. Kita tidak bisa memajukan ataupun memudurkan meskipun satu detik.

Kematian melibatkan masa lalu, masa ketika mengalami proses kematian, dan pasca kematian.  Kematian adalah perkara ghaib dan misterius. Meskipun ilmu pengetahuan telah dapat mengetahui dan menjelaskan penyebab kematian, entah karena penyakit atau kecelakaan, namun ada banyak hal dari kematian yang hingga kini masih misteri –ini menurut saya-. Sebagai orang yang beragama, saya percaya sepenuhnya dengan apa yang diajarkan agama saya mengenai kematian dan kehidupan setelah kematian. Saya tidak mau menerka-nerka lebih jauh lagi mengenai hal-hal ghaib seputar kematian karena saya memang tidak tahu apa-apa. Cukup agama menjadi pegangan saya ketika menyinggung kematian dan kehidupan pasca kematian.

Kematian di usia muda yang beruntun dalam beberapa minggu ini, kembali mencuatkan rasa kepo saya. Jika seandainya malaikat maut menjemput saya hari ini, apakah ada ilmu yang telah saya tinggalkan? Adakah hal yang membuat orang bisa ingat bahwa saya pernah hidup? Apakah hidup saya sudah bermanfaat untuk orang lain? Apakah dengan lahirnya saya ke dunia ini telah memberikan pengaruh baik terhadap kehidupan? paling tidak terhadap orang-orang di lingkungan saya?  Adakah amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir  hingga saya meninggal dunia?

Sejenak saya terdiam dan bermuhasabah diri, sambil mencari-cari jawaban atas pertanyaan rasa kepo saya.  Saya buka file-file yang tersimpan dalam server otak saya, berharap segera mendapatkan jawabannya. Dan hasilnya, saya tidak menemukan apa-apa. Sungguh, airmata ini tanpa diperintah,langsung meyembul dari sudut mata dan perlahan merembes. Ternyata hingga saat ini saya memang belum menjadi apa-apa dan belum berbuat apa-apa. Saya jadi makin malu pada diri sendiri.

Saya selalu kagum dengan Nabi Muhammad, hingga 14 abad semenjak wafatnya, ajarannya masih dipeluk oleh > 1,4 Miliar manusia, Alkhawarizmi yang ilmu algoritmanya masih dipakai hingga sekarang, Isaac Newton yang hukum-hukumnya masih dipelajari, Thomas Alva Edison yang penemuannya masih bisa menerangi rumah di malam hari, serta masih banyak lagi orang—orang  yang telah tiada, namun karya mereka masih bermanfaat untuk umat manusia. Dan hingga kini saya masih menjadi pengagum mereka namun saya belum bisa menjadi seperti mereka. Mudah-mudahan nama saya kelak bisa berdampingan dengan nama-nama orang yang telah memberikan manfaatnya kepada dunia.

Saya terkadang iri dengan mereka yang rela mengorbankan diri mereka demi orang lain. Ada banyak kisah nyata yang terjadi di sekitar saya. Ada seorang ibu yang rela mengorban dirinya untuk melindungi bayinya dari reruntuhan bangunan ketika gempa. Seorang pemimpin organisasi kemahasiswaan yang akhirnya meninggal karena berusaha menyelamatkan anggotanya. Seorang sahabat yang lapar namun lebih memilih memberikan makanan yang ia miliki kepada temannya. Seorang guru yang ikhlas mengajar meski dihimpit oleh berbagai keterbatasan. Dan seorang ayah yang selalu berkata “kamu jangan pikirkan mengenai uangnya, ayah akan selalu berusaha demi kamu”.

Terkadang, kita dihadapkan pada suatu pilihan yang benar-benar sulit. Pilihan yang sampai mempertaruhkan nyawa dan kepentingan kita sendiri bila kita jalani atau penyesalan seumur hidup jika kita abaikan. Mengenai pilihan mana yang akan kita ambil, itu kembali pada pribadi masing-masing.

Mereka yang telah menjalaninya adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang yang biasa berbuat hal-hal baik. Artinya, butuh proses dan pembiasaan hingga akhirnya bisa timbul sifat yang selalu ingin berkorban untuk orang lain. Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan rahmat, kasih sayang, serta balasan yang jauh lebih baik kepada mereka yang rela berkorban demi orang lain.


**

Kembali ke masalah kematian. Sungguh saya selalu berharap ketika kematian itu datang, ada kontribusi positif yang telah saya lakukan. Entah itu kepada masyarakat luas, ataupun orang-orang di sekitar saya. Meskipun itu bukanlah hal yang besar, paling tidak ada saya telah melakukan sesuatu demi orang lain dan hadirnya saya di dunia ini bukan sekadar omong kosong.

Tak penting seberapa panjang usia kita, yang penting adalah seberapa besar hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Orang yang paling sial adalah orang yang umurnya pendek, tapi sama sekali tak ada manfaatnya untuk orang lain.


 Bandung, 5 November 2013








Selasa, 29 Oktober 2013

Indonesian Map, Peta Indonesia

Iseng-iseng bikin peta Indonesia berdasarkan Provinsi.
Lumayan juga hasilnya. :)

I love Indonesia

(Klik untuk perbesar)

Senin, 28 Oktober 2013

Pelajar SMP bikin video mesum, Mengapa mesti risau?

Dulu (bahkan sampai sekarang), ketika banyak orang mencibir Ariel, Luna dan Cut Tari atas videonya, orang-orang itu pasti membantah “kayak kalian yg paling suci aja”. Lalu, ketika banyak orang yang meminta Ariel-Luna dihukum seberat-beratnya karena karena khawatir dampak buruk yang disebarkan ke masyarakat, orang-orang itu berkata “Itu tergantung pendidikan dari rumah”, “Jangang suka men-judge, kalian bukan tuhan”, “biarlah tuhan yang menghukum”. Sedangkan pengacara-pengacara artis tersebut berkata “itu koleksi pribadi, mereka tidak salah yang salah adalah yang menyebarkan, mereka (Ariel-Luna-Cut Tari) adalah korban (?)”

Semakin kita mengutuk aksi Ariel-Luna-Cut tari, maka kitalah yang salah, kitalah yang kuno, kitalah yang sudah ketinggalan zaman. Seolah-olah hak kita untuk melindungi keluarga kita dari dampak yang ditimbulkan adalah bentuk dari sikap ultrakonservatif yang norak dan harus ditinggalkan. Standar moral kita harus diganti, harus lebih “western” dan harus lebih “terbuka”, supaya kita bisa maju dan sejajar dengan negara-negara barat yang lebih liberal. Urus moral masing-masing dan Jangan sok suci!.

Paradigma masyarakat digiring untuk menganggap bahwa yang protes kasus video mesum adalah pihak yang salah. Memberi sanksi pidana atau sanksi sosial tidak akan memperbaiki keadaan, Biarkan mereka “bertobat (?)“, biarkan mereka terus berkarya, dan urus moral masing-masing.

***
Beberapa hari belakangan masyarakat kembali ramai dengan beredarnya video mesum dua siswa SMPN 4 Jakarta. Lah, Mengapa mesti kaget? Mengapa tiba-tiba prihatin? Mengapa malah menyalahkan sekolah? Mengapa malah menuding orangtuanya karena tidak becus mengurus anak?


Toh, Ariel Noah yang sudah jelas-jelas sudah berzina dengan Cut Tari dan Luna Maya, tetap dijadikan idola oleh masyarakat. Tidak hanya oleh anak muda, ibu-ibu yang mengggendong anak kecil pun rela antri demi tiket konser si Ariel. Ibu-ibu hamil juga tak mau kalah, mengusap-usap perut berharap sambil berharap agar si jabang bayi kelak bisa seperti Ariel (Yakin, Lo?). Jessica Iskandar sampai menyisipkan bab khusus tentang betapa dia sangat mengidolakan Ariel dalam buku yang dia rilis.

Masih sangat jelas di ingatan saya ketika pertama kali Ariel ditahan, fans-nya yang kebanyakan ABG perempuan menangis histeris melihat idolanya ditahan. Ahmad Dhani membuat konser yang bertajuk “free Ariel/bebaskan Ariel”. Bahkan saat Ariel bebas, banyak pihak yang merayakan kebebasannya. Seolah-olah merayakan bebasnya  pahlawan revolusinya kebebasan berekspresi dari penjara moral yang sudah usang.
Begitu meriahnya, bahkan Ariel dan bandnya, Noah, langsung menggelar konser di beberapa negara lintas benua dalam waktu 24 Jam, memecahkan rekor dunia. Inspiratif!

Belum cukup sampai sana, sang aktor utama dalam video itupun bersama band-nya menjadi brand ambassador salah satu provider telekomunikasi, Instant messaging, dan pembersih wajah dengan jargon “ganteng maksimal”.

Dan bagaimana dengan Luna dan Cut Tari? Tenang, masyarakat sudah memaafkan mereka. Televisi pun yang sejak awal mem-blow up pemberitaan ini makin berlomba-lomba memakai mereka untuk mengisi acara; Iklan, sinetron, host musik, host infotainment, tarik suara, dan modelling; Semua demi rating. Lihatlah tayangan infotainment dulu ketika kasus video Ariel mencuat, sedikitpun naratornya tidak menganggap bahwa video mesum itu merupakan pelanggaran moral apalagi dosa.
Terbukti kan, video mesum tidak akan menghancurkan karir mu di dunia entertainment, tapi malah makin mengantarkanmu pada polularitas yang lebih.

Ariel, Luna, Cut Tari, bagaimanpun luar biasa karyanya (Sori, menurut gue biasa aja dan gue gak begitu suka dengan lagu-lagunya Noah), mereka tetaplah duta perzinahan. Dan faktanya, mereka sudah mempromosikan perzinahan sampai ke luar negeri. Gaung video Ariel sudah mendunia. Bahkan di Jepang, Ariel-Luna-Cut Tari menjadi cover majalah dewasa. Dan bersama para pendukungnya, mereka telah menanamkan ke benak banyak orang terutama generasi muda, bahwa zinah itu normal, zinah itu wajar, zinah itu tidak salah, dan zinah itu adalah urusan pribadi. Dan itu berhasil. Bangsa Indonesia akhirnya bisa lebih maju daripada Hongkong. Edison Chen, aktor Hongkong yang foto-foto mesumnya beredar, malu untuk kembali ke Hongkong. Selain itu, dia juga tidak sanggup menerima sanksi sosial masyarakat hongkong yang masih “konservatif“.


Setiap orang yg mengidolakan mereka (Ariel cs), maka akan sedikit banyak maklum dengan perzinahan itu. Kan yang dilihat karyanya, bukan moralnya. Jangan sok suci deh.

Nah, kalau orang yang sudah jelas-jelas “bikin film” dengan isteri orang saja masih kita jadikan idola, masih bisa memperoleh Award, lantas mengapa kita mesti prihatin dan miris ketika melihat film hasil karya anak-anak SMP yang merekam adegan porno di sekolahnya? Toh, kelakuan mereka tidak berbeda dari sang idolanya. Kan yang dilihat karyanya, bukan moralnya. Jangan sok suci deh.

Bdg 27-9-2013
Salam, Adi Yuza

Kamis, 22 Agustus 2013

Nurani


Zaman sekarang, antara haq dan yang batil telah berbaur dan tercampur aduk. Seperti adonan roti yang dicampur dengan pemanis, pengawet dan pewarna buatan. Memang rotinya enak, sedap dipandang, dan aromanya menggugah. Tetapi tetap saja berbahaya bagi tubuh.

Orang mengatakan bahwa sulit membedakan antara yang haq dan yang batil. Tentu saja sulit jika menggunakan kacamata kerongkongan, perut, selangkangan, dan kacamata jasmani lainnya.

Tuhan menganugrahkan kita nurani. Yang dengannya kita bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Seperti halnya indera  kita yang bisa membedakan antara manisnya siklamat dan gula aren, serta kuningnya tartrazin dengan kunyit.

Nurani kita selalu bicara setiap kita melakukan sesuatu yang batil. Ketika kita mencoba berbohong, bergosip, menipu, mencuri, memakan harta yang haram, korupsi dll, ia akan membuat dada kita berdebar kencang, terkadang kita berkeringat dingin. Nurani merespon dengan membuat kita merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuh kita sendiri. Tapi sayang, tak sedikit orang yang mengabaikan jeritan nurani atau malah mematikannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perbuatan-perbuatan itu pun dianggap wajar, tubuh dipaksa membiasakan diri dengan perbuatan buruk ataupun menyerap zat-zat dari harta-harta haram. Sebagaimana tubuh beradaptasi  terhadap benda-benda asing yang masuk kedalam tubuh. Efeknya memang bukan sekarang, tapi pasti akan terjadi. Tahukah kita bahwa  sebenarnya perlu bertahun-tahun untuk terjadi serangan jantung, stroke, diabetes, ginjal, kanker dan penyakit-penyakit orang kaya lainnya. Penyakit-penyakit itu memang datang seperti mendadak, namun tanpa disadari, kita sendirilah yang memelihara mereka selama bertahun-tahun.

Semua ada prosesnya. Mau ke surga ada prosesnya, mau ke neraka pun juga ada prosesnya. Jadi orang baik penuh resiko, tapi jadi orang jahat pun tak kalah banyak resikonya. Bedanya, hal-hal baik mengandalkan nurani dan akal sehat. Sedangkan hal-hal buruk mengandalkan nafsu.

Orang bilang, untuk jadi sehat itu mahal, tapi mereka lupa berpikir bahwa untuk jadi orang penyakitan jauh lebih mahal. Sebagai contoh, air putih itu baik untuk kesehatan bahkan seringkali kita mendapatkannya secara gratis. Namun kenyataannya lebih banyak orang yang memilih Jus kemasan, Soda, atau pun minuman beralkohol yang tentunya jauh lebih mahal.

Dengan alasan agar terlihat modern, kita abaikan kesehatan kita. Dengan alasan supaya terlihat seperti manusia beradab, kita paksakan otak kita menerima ideologi dan teori antah barantah dengan mengabaikan nurani.

Kita memaksa diri kita untuk menerima teori mengenai inflasi. Lalu dengan gampangnya kita menghina seseorang dengan kata-kata bodoh karena orang itu protes mengenai kenaikan harga dan membanding-bandingkan harga 15 tahun yang lalu dengan harga-harga sekarang. Padahal Sebenarnya hati kita juga ikut menjerit memikirkan pengaturan keuangan ke depan. Sedangkan kita sendiri tidak berbuat apa-apa ketika tetangga kita kelaparan ataupun cuek bebek ketika makin banyak janda2 tua renta yang menjadi pengemis. Kita tidak berbuat apa-apa karena kita meyakini bahwa menurut teori ekonomi yang kita yakini, hal ini wajar terjadi.

Contoh lain adalah ketika kita anti dengan homoseksual, namun supaya terlihat modern dan berpendidikan, kita paksakan diri kita memaklumkan tindakan-tindakan kaum luth tersebut.

===
Perbuatan buruk yang dipropagandakan sebagai hal yang baik, dimaklumkan sebagai hal yang biasa, dan dianggap wajar oleh masyarakat banyak, tetap saja merupakan perbuatan buruk.

Seringkali orang yang melakukan perbuatan2 buruk nasibnya "lebih baik" dari orang selalu menjaga dirinya. Tak perlu risau, bisa jadi itu adalah Istijrad (siksa yang ditunda). Ditunda sampai kapan? entahlah. Yang pasti, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan saat itulah pengadilan yang sesungguhnya akan digelar. Semua akan diadili dengan seadil-adilnya Termasuk Koruptor yang lolos dari hukuman dunia, Petugas KPK, Hakim Agung, Tukang begal, Polisi, Politisi, Pegawai Bank, Wartawan, Karyawan Oil Company, Dosen, Mahasiswa, Petani, Ibu rumah tangga, PNS, Kyai, Ustadz, Yang menulis tulisan ini, dan semua makhluk hidup sejagad.

Seperti halnya kampanye back to nature yang digadang oleh para praktisi diet, mungkin kita juga perlu merestorasi diri dan sikap untuk kembali kepada fitrah kita sesungguhnya. Membuka mata hati, melihat ke sekitar, dan melakukan apa yang nurani kita katakan.

==
Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
(QS Fathir:8)


Bdg, 23-8-13

Kamis, 15 November 2012

Air berkhasiat dan Daun Bambu Penerawang Togel

Ada sebuah fenomena unik yang ku temui ketika aku pulang kampung kemarin. Fenomena cukup unik menurutku, karena biasanya  aku mendengar hal ini hanya terjadi di Pulau Jawa dan daerah lainnya yang tingkat kepercayaan terhadap hal-hal berbau klenik masih cukup tinggi.

Siang itu, aku cukup dikagetkan dengan cerita orang rumah, bahwa di kampung ibuku ditemukan air yang seperti mendidih. Banyak orang-orang yang ke sana untuk melakukan pengobatan, karena katanya air tersebut memiliki khasiat yang sama seperti obat. “Mungkinkah itu sumber air panas yang baru muncul ,”pikirku seketika.  “atau jangan-jangan sumber panas bumi yang baru tersingkap?” tanyaku pada diri sendiri. Sebagai orang yang memiliki latar pendidikan di bidang ilmu kebumian, hal-hal seperti itu sangat menggoda insting ku. Dan khayalan ku pun kemana-mana. Aku mulai menghubung-hubungkan kondisi geologi daerah itu dengan kemungkinan adanya sumber-sumber energi terbaharukan. Apalagi dua bulan yang lalu telah muncul sumber air panas baru di Natar, Lampung Selatan.

Penasaran ku sedikit memudar ketika aku mendapat jawaban tidak atas pertanyaan-pertanyaan yang ku ajukkan berikutnya. “Apakah airnya panas?” “Tidak.” “Apakah ada gelembung-gelembung gas?” “Tidak.” “Apakah ada bau di sekitar sumber air itu?”Tidak.”

Untuk melampiaskan rasa penasaran ku, akhirnya ku putuskan untuk melihat sumber air itu secara langsung.

 Dari cerita saudaraku yang rumahnya tak jauh dari tempat itu, aku tahu bahwa sumber air itu telah membuat heboh masyarakat selama satu bulan ini. Banyak orang yang berduyun-duyun datang untuk melihat sumber air itu. Bahkan Camat dan Pemuka agama pun sempat meninjau lokasi tersebut. Kebanyakan orang-orang datang untuk berobat.  Baik dengan mandi di tempat tersebut, atau pun meminum airnya langsung. Banyak yang meyakini bahwa air itu memiliki khasiat yang mujarab. Apalagi menurut cerita yang beredar, ada orang yang bahkan bisa berjalan setelah meminum dan mandi di air tersebut. Padahal sebelumnya orang itu lumpuh karena stroke.

Sumber air itu berada di Dusun Ponpon, Desa Negeri Sakti, Kecamatan Sungkai Barat, Lampung Utara. Cukup sulit untuk menuju ke sana karena kondisi jalan yang buruk. Di sepanjang jalan, kita akan banyak dapati kebun lada dan karet. Sampai di sana, motor diwajibkan parkir ditempat yang telah disediakan. “Waw, sebuah kemajuan,” pikirku dalam hati. Wajar aku berpikir seperti itu, karena baru kali ini ada parkiran berbayar di tengah kebun di dusun yang terpencil. Hebat sekali paham Uang-isme ini.

“Sebelumnya tak ada parkiran seperti ini. Orang-orang bisa bebas lalu lalang di kebun singkong itu.  Tapi karena terlalu banyak orang, kebun singkong itu jadi rusak, akhirnya si empunya kebun melarang motor untuk masuk kebun  ” jelas tukang parkir. “Masuk akal, Kreatif sekali orang ini, bisa melihat peluang,” benakku.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki melintas kebun singkong yang sudah sekarat karena hujan tak juga datang dalam beberapa bulan ini.  Lokasi sumber air itu memang tak jauh dari parkiran, hanya saja setelah melewati kebun singkong, kondisi jalan menjadi lebih curam. Ada dua jalur, yang satu memutar tapi tak begitu curam. Satu lagi cukup terjal, tapi dekat. Bahkan titik lokasi bisa terlihat dari tempat ku berdiri saat itu. Aku pun memilih jalur yang curam. Lebih menantang.

Jalan curam ini ternyata bebar-benar curam. Kalau tidak berhati-hati bisa terpeleset dan langsung meluncur ke dalam lembah. Untungnya orang-orang penjaga sumber air itu cukup kreatif dengan membuat tangga dengan menggali tanah di sepanjang jalan yang curam itu.

Jalan curam menuju lokasi sumber air


Sampai di sana, tak ada sesuatu yang “waw” (menurutku). Di sana ada lebih dari 10 orang pria sedang duduk-duduk di bawah tenda yang mereka buat. Sepertinya ada hal penting yang sedang mereka tunggu. Selanjutnya, tepat di tempatku berdiri saat itu, adalah sumber air yang menghebohkan itu.

“Hah, seperti ini saja?”

Sumber air itu ternyata mata air biasa yang sedang mengeluarkan air. Kadang sedikit, kadang banyak. Sehingga terlihat seperti menggelegak. Airnya cukup jernih dan sangat menyegarkan. Cocok untuk cuaca panas di musim kemarau seperti ini. Hal ini sangat wajar, karena posisi nya berada di lembah. Setidaknya itu simpulan yang bisa ku ambil.

Bahkan daun Bambu pun jadi media  untuk melihat nomor Togel
Tempat air itu dibuat seperti tempat pemandian, dengan bambu sebagai tempat pijakannya. Lalu dikelilingi oleh kain kafan. Disediakan juga  kotak bekas air mineral untuk memberi uang secara sukarela.
 Yang cukup menarik perhatian ku adalah ketika ada beberapa orang yang menancapkan daun bambu di dasar air, dan tak berapa lama kemudia mereka mencabutnya, lalu menerawangnya ke arah matahari seperti mengecek tanda air pada uang kertas.

Menerawang daun bambu, berharap keluar nomor.

Setelah kutanya, ternyata mereka sedang menerawang nomor Togel yang akan keluar. Bukan Cuma sekali, tapi juga berkali kali mereka melakukannya. Bahkan orang-orang yang sedang duduk di bawah tenda  itu ternyata sedang melakukan hal yang sama. Mencari nomor Togel.

Sebelum diterawang, ditancapkan dulu di dasar mata air.

Menurut cerita orang-orang di sekitar situ,cara seperti itu cukup ampuh. Beberapa nomor yang dipasang keluar. Bahkan mereka bisa membeli terpal, kain kafan, dan membangun tempat itu  karena sumbangan orang-orang yang menang togel  sebagai ucapan terima kasih. Yeah, Kombinasi yang sempurna antara sugesti, keberuntungan, dan hasutan iblis.

Mengambil air, berharap berkah dan kesembuhan. Efek dari mahalnya biaya kesehatan?

Asal mula cerita.
Cerita  yang mengehebohkan itu ternyata dimulai satu bulan yang lalu. Ketika itu seorang pekerja sedang kehabisan air minum. Orang itu kemudian menemukan sumber air itu. Setelah mendapat minum, orang itu kemudian seperti melihat nomor pada daun bambu. Singkat cerita orang itu memasang nomor togel dan tak dinyana dia menang. Kemudian dia mengulang kembali  ritual yang tak disengaja itu. Beruntungnya dia menang lagi. Dia kemudian bercerita pada orang lain sehingga cerita itu menyebar dari mulut ke mulut. Dan entah dari mana, cerita pun bertambah dengan khasiat obat dari air tersebut.

Cukup miris melihat fenomena ini. Kombinasi Kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan mahalnya layanan kesehatan membuat pola pikir orang-orang ini berjalan mundur . Sebuah fenomena yang tak pernah terjadi sebelumnya pada masyarakat Lampung tapi akhirnya terjadi juga.



Senin, 29 Oktober 2012

Konflik di Lampung, Sampai kapan akan berakhir?



Mencari spirit sumpah pemuda
Sabtu, 27 Oktober kemarin Bentrokan kembali pecah di Lampung. Kali ini, bentrok terjadi antara Etnis Lampung dari Desa Way Anom dan Etnis Bali di Desa Balinuraga. Bentrokan dipicu oleh pelecehan seksual yang dilakukan sekelompok  pemuda dari Desa Balinuraga. Awalnya, Dua gadis dari Etnis Lampung terjatuh dari motor. Namun bukannya membantu, pemuda-pemuda itu malah melakukan pelecehan. Kerusuhan ini terus berlanjut hingga tulisan ini dibuat.suatu ironi di tengah peringatan sumpah pemuda.

Kerusuhan di Lampung bukan kali ini saja terjadi. Sudah sangat sering kita mendengar  berita di media nasional mengenai kerusuhan yang terjadi.   Jika kita lihat, maka hampir seluruhnya adalah kerusuhan antar etnis. Biasanya kerusuhan antara etnis Lampung-Jawa, Lampung-Sunda, Lampung-Bali ataupun Lampung-Jawa+Bali.

Akar permasalahan di Lampung dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Terutama ketika dimulainya Kolonisasi Jawa di Lampung pada zaman Belanda.  Kemudian program kolonisasi ini terus dilanjutkan hingga zaman kemerdekaan, kali ini istilahnya diganti dengan nama transmigrasi. Hingga kini arus pendatang pun terus mengalir deras baik karena alasan pekerjaan,  pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus, atau bahkan lewat penyerobotan tanah. Sayangnya, program kolonisasi/migrasi penduduk ini dilakukan tanpa adanya pemahaman budaya lokal oleh pendatang. Akhirnya, perbedaan-perbedaan ini menimbulkan gesekan-gesekan yang terkadang menimbulkan percikan api, bahkan sampai membara antara penduduk lokal dan pendatang.

Kerusuhan di Lampung akan selalu ada jika benih-benih kecurigaan masih tertanam antara Etnis-etnis tersebut. Apalagi sikap primodial yang makin mengkristal di masing-asing etnik. Sayangnya, hingga kini tidak ada usaha yang serius dari pemerintah untuk menghentikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan mungkin mengancam integrasi bangsa. Pemerintah hanya bisa memasang spanduk-spanduk bertuliskan DAMAI ITU INDAH di semua sudut tempat. Bahkan Spanduk-spanduk itu sebenarnya bukan dibuat oleh pemda/pemkab, melainkan oleh seorang petinggi TNI di Lampung yang katanya sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur.

Terdiskriminasi di tanah sendiri
Hingga kini, Bom waktu itu masih terus aktif. Itulah yang saya rasakan ketika saya masuk ke salah satu komunitas etnis. Saya orang Lampung, dan saya tahu apa yang orang Lampung pikirkan terhadap pendatang. Diskriminasi dan Labeling yang buruk selalu diarahkan terhadap orang Lampung. Di SMA saya dulu, kami sering  diperlakuan yang buruk secara psikis. Hanya karena kami orang Lampung dan berasal dari desa yang mayoritasnya orang Lampung.

Saya sangat ingat ketika itu kami sedang menunggu angkot untuk pulang. Lalu datang guru dan menayakan asal kami. Begitu kami menyebutkan nama desa kami, bukannya ngobrol/basa-basi selayaknya guru & murid, tapi guru itu langsung mengata-ngatai kami dengan sangat kasarnya (tak perlu saya sebutkan kata-kata yang mengerikan itu) bukan hanya guru itu,melainkan beberapa oknum guru juga berlaku demikian. Padahal ketika itu ,anak dari daerah kami lah yang selalu mendapat juara umum di sekolah. Perilaku Rasis itu saya rasakan dari saya SD  sampai saya lulus kuliah. Parahnya, pelaku-pelaku rasis itu tak pernah sadar bahwa mereka telah melakukan tindakan rasisme. Dan yang sangat disayangkan, kebanyakan pelaku-pelaku rasis itu adalah oknum pendidik, pejabat dan mahasiswa yang seharusnya bisa berpikir lebih rasional dan objektif. Ketika terjadi konflik, maka orang Lampung selalu disalahkan oleh orang-orang intelek ini, tanpa pernah mereka melihat pemicu konflik. Kalaupun mencari tahu, mereka hanya mencari tahu hanya dari sisi etnis nonLampung.

Adik-adik saya juga pernah mengalami hal yang sangat rasis seperti itu. Saat itu, di tempat mengaji mereka, terjadi perselisihan antara anak-anak. Kebetulan yang berselisih itu adalah anak Lampung dan anak dari etnis lain. Sayangnya, sang ustad bukannya melerai, tapi malah ikut menghina orang Lampung dengan kata yang tak sepantasnya diucapkan oleh sang guru mengaji. Adik-adik sayapun diberhentikan dari tempat mengaji itu.

Dicitrakan dengan sangat buruk
Teman saya dari Medan bercerita pada saya, bahwa ketika dia baru sampai Lampung,  pamannya berpesan “Jangan bergaul dengan orang Lampung karena orang Lampung itu Barbar.” Tapi apa yang pamannya katakan itu langsung pupus dari pikirannya ketika ia kenal saya yang notebane orang Lampung. Cerita-cerita tentang betapa Barbarnya orang Lampung semakin terdengar ketika saya tinggal di Kampung yang mayoritas penduduknya adalah Etnis yang kini paling dominan di Indonesia.  Cerita-cerita bahwa orang Lampung adalah Begal, penjarah, pencuri, pembunuh, preman, tukang palak, dan segala pelaku kejahatan lainnya sampai hampir muntah saya dengar. Saya orang Orang Lampung dan tinggal di kampung yang mayoritasnya orang Lampung, tapi saya tidak pernah menemukan apa yang membuat mereka paranoid di kampung saya.

Orang-orang pendatang menyebut perkampungan orang Lampung sebagai daerah Texas. Saya tidak tahu mengapa. Tapi mungkin karena mereka mengidentikkannya dengan daerah kekerasan. Ketika saya kuliah dulu, teman-teman di organisasi kemahasiswaan dimana saya bergabung tidak pernah mau mengadakan kegiatan di daerah-daerah orang  Lampung.  Alasannya satu, karena daerah itu masih banyak orang pribumi. Sungguh, saat itu dada saya sangat sesak rasanya. Jika anda ingin membuktikannya, tanyakanlah dengan orang yang selama ini berasal dari  salah satu etnis yang sering berkonflik dengan orang Lampung tentang orang Lampung, maka jawaban-jawabannya pasti sangat memojokkan orang Lampung. Saat anda menanyakan arah/jalan, Jika anda beruntung, maka anda akan mendapat jawaban, “Jangan ke sana di sana banyak orang pribumi” atau “jangan kesana, di sana daerah orang pribumi”.

Yang lebih ironis, pernyataan tidak mengenakkan dengan gamblangnya ditulis oleh salah seorang mahasiswa yang merupakan petinggi di komisariat organisasi kemahasiswaan yang bebasiskan agama di akun  facebooknya.  Intinya dia mempertanyakan kenapa daerah-daerah yang mayoritasnya orang Lampung merupakan daerah rawan dan berbahaya. Bahasa yang ia gunakan sangat tendensius dan menyakitkan mata saya.  sehingga membuat jari-jemari saya gatal untuk mengetikkan komentar seperti di bawah ini:

###
Pertanyaan yang sama yang diajukkan oleh orang BARAT terhadap Islam: Kenapa Islam selalu identik dengan Kekerasan, Pelanggaran HAM, Terorisme, Poligami, Keterbelakangan? Kenapa orang Palestina bisa sedemikian gila mau menjadi BOM hidup untuk meneror orang yahudi? Benarkah Islam demikian? sekejam itu? Teroris? Sebagai Muslim, tentulah kita tidak terima dikatakan seperti itu karena kenyataannya tidak demikian. Sebagai Aktivis, kita semua tahu, apa yang membuat oknum islam bisa menempuh jalan kekerasan. Salah satunya karena ketidakadilan. Tapi apa iya, semua Muslim demikian? Pastinya tidak. Selama ini, Manusia Modern tidak pernah mendapatkan Informasi yg berimbang. Hal ini mungkin karena tergantung siapa penguasa informasi/media, dan si penerima informasi tidak pernah mau tabayyun/cek dan ricek terhadap pihak lain yang selama ini bersemayam dalam pikirannya sebagai tokoh jahat dan barbar.
Saya berusaha untuk tidak memihak (walau saya orang Lampung). Ada yang bilang bahwa Transmigrasi adalah Kolonisasi/penjajahan model baru. Bahkan, kata teman saya, Salah seorang dosen di universitas tempatnya kuliahmengatakan bahwa Salah satu suku dominan di Indonesia tak lebih dari Zionis Israel. Kenyataannya, contoh nyata ini terjadi di Lampung (ini masih kata dosen itu). Saat ini, Suku Lampung Hanya 25 % dari total peduduk prov Lampung (Wikipedia). Bagaimana dengan Pendatang? hingga saat ini masih orang luar masih terus berdatangan, merambah dan mematok lahan-lahan baru. Contohnya masih terjadi di hutan register 45 Mesuji & Hutan Way kambas. Ribuan orang datang dan mengkavling-kavling lahan seenakknya.

Hal yang sama terjadi dengan keluarga Kakek saya. Kakek saya punya Tanah yang sangat luas, bahkan sangat luas dari yang pernah saya bayangkan. Tapi semua itu hilang ketika program transmigrasi terjadi -kayak cerita Avatar ya, hehehe- . ketika itu Pemerintah yang otoriter memaksakan program kolonisasinya di Ke-marga-an kami. Hasilnya, datanglah orang-orang baru, dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda, bahkan terkadang agama yg berbeda. Tapi karena orang Lampung memiliki prinsip Nemui Nyimah, maka mereka sangat welcome dengan pendatang. Meskipun tanahnya diambil paksa oleh pemerintah dan diserahkan kepada koloni. Hasilnya, Hingga kakek saya meninggal, tak ada sejengkal tanahpun yang tersisa yang bisa diwariskan kepada anak cucu. Tanah-tanah kakek saya sekarang telah menjadi kampung-kampung Koloni. (catatan: Hingga kini, Istilah "koloni" masih sering kami gunakan untuk menyebut daerah transmigrasi). Well, untuk kalian yang selalu teriak membela Palestina, coba berhenti sebentar, dan tengok ke dalam diri sendiri. Kalau kalian masih menganggap orang Lampung, Barbar, bahaya, Jahat, dll, apa bedanya kalian dengan Barat, Amerika dan Israel yang selalu menganggap Palestina (dan Islam) Barbar, Jahat dan menakutkan. selalu menganggap Koloni lebih beradab daripada pribumi.
###

Menurut saya, akar dari kerusuhan yang selama ini terjadi adalah ketidakadilan dan kesalahan sistem yang diterapkan pemerintah pada masa lampau ketika menerapkan program transmigrasi. Pemerintah terlalu mengistimewakan pendatang tanpa memikirkan kesejahteraan penduduk lokal sebagai pemilik tanah ulayat. Selain itu, pemerintah tidak pernah melakukan penelitian secara sosiologis  terhadap budaya lokal. Seharusnya sebelum dilakukan transmigrasi, terlebih dahulu dilakukan kajian sosiokultural terhadap penduduk lokal, untuk kemudian disampaikan kepada calon transmigran. Paling tidak, dengan pemahaman budaya, maka gap antara etnis yang berbeda ini bisa diperkecil. Sehingga gesekan-gesekan penyebab kerusuhan bisa diminimalkan.




Salam Damai
Adi yuza

Jumat, 08 Juni 2012

Bandar Lampung sebagai Kota Terkotor, Pikir Lagi!


Kota Bandar Lampung (sumber wikipedia)
Beberapa hari yang lalu, saya membaca salah satu artikel di Yahoo mengenai Kota besar terkotor. Terus terang, saya cukup kaget karena Bandar Lampung (BL) merupakan salah satunya selain Bekasi. Saya agak heran. Benarkah demikian? Apakah dari sekian ratus kota di Indonesia, BL benar benar paling kotor? Atau mungkin artikel ini sengaja dibuat  oleh penulisnya sedramatis mungkin untuk menarik minat pembaca? pertanyaan saya ini mungkin juga ada di benak warga kota BL yang membaca artikel itu.

Saya sebagai warga BL, sebenarnya tidak begitu keberatan dengan isi artikel itu, karena artikel itu bisa menjadi kritik untuk Pemkot BL. Tapi sejujurnya, BL tidak lah sekotor itu untuk disematkan gelar sebagai kota paling Kotor.

Dibanding beberapa tahun yang lalu, BL sudah banyak berbenah. Bahkan menurut saya, kondisi BL saat ini lebih baik dibanding ketika menerima piala Adipura  tahun 2009 lalu. Ketika itu, saya malah kurang setuju BL mendapat piala Adipura.

Saat ini, penataan BL lebih baik. Mulai penataan PKL sehingga Pasar Bambu kuning, Pasar Tengah, Pasar Tugu dan pasar lainnya lebih enak di lihat. Lalu diluncurkannya Bus Rapid Trans yang nyaman, penambahan air mancur di beberapa titik sehingga terlihat cantik, spanduk-spanduk yang  yang tak lagi begitu semrawaut dan penambahan ornamen-ornamen Lampung di setiap bangunan dan Lampu jalan. 

Saya tidak mengatakan bahwa BL sudah sempurna, karena masih ada beberapa titik yang belum berhasil ditata dengan baik, seperti sungai dan pinggir pantai yang masih terlihat sampah. Problem yang saya rasa dihadapi juga oleh kota-kota lainnya di Indonesia. Tapi saat ini, Pemkot BL sedang berupaya untuk mereklamasi kawasan sungai dan pantai. Saya rasa banjir yang baru pertama kali terjadi dua tahun yang lalu cukup menjadi pelajaran berharga bagi pemkot kota ini bahwa kebersihan sungai di Kota ini berada pada titik kritis.

Memang BL tak sebersih Singapura bahkan mungkin masih sangat jauh untuk mencapai tahap itu, tapi tak pula sekotor Jakarta utara yang mendapat piala Adipura tahun ini. Saat ini pemkot BL tengah giat-giatnya menata kota BL. Bahkan aparatur yang tidak turut menunjang program kebersihan kota bisa langsung diberhentikan dari jabatannya.

Tesebarnya berita bahwa BL adalah kota terkotor tentu saja membuat para aparatur kota dan Pengusaha di BL gusar. Karena, pastilah para aparatur tersebut akan mendapat sanksi yang sangat keras. Selain itu, predikat itu akan membuat investor berpikir ulang untuk membangun usaha di Kota Tapis Berseri ini. Saya sendiri sempat sedikit kecewa ketika membaca artikel itu karena menurut saya benar-benar di luar dugaan.

Saat ini geliat pertumbuhan BL benar-benar terasa. Seperti Pembangunan Mall dan Hotel yang makin banyak, juga Pembangunan Ruko yang menjamur sampai ke sudut kota. Pertumbuhan kota yang demikian tentu saja menimbulkan dampak lain yang membuat saya pusing sebagai  warganya. Salah satu masalah klasik yang selalu menjadi sindrom kota besar adalah Macet yang jauh lebih parah dari beberapa tahun yang lalu. Dan Kemacetan  ini sudah harus menjadi PR baru bagi pemkot BL.

Sebagai tambahan, pihak kementerian Lingkungan Hidup sendiri tidak pernah menyatakan bahwa kota BL merupakan kota terkotor, melainkan kota besar yang memperoleh nilai terkecil dari 13 kota besar se-Indonesia. Penilaian ini sendiri rencanya akan ditinjau ulang karena diprotes oleh warga BL. Seperti yang diberitakan, bahwa hari ini (8 Juni), kantor Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta didemo oleh ratusan warga BL karena keberatan dengan predikat kota Terkotor yang diberikan. Bahkan timbul anggapan baru, jangan jangan ada yang tidak beres dalam proses penilaiaannya.

Menurut  saya, sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya saja, yang keterlaluan  adalah artikel yang ditulis di Yahoo Indonesia. Karena penulis artikel itu menulis bahwa BL adalah kota terkotor. Bukankah kalau ditulis seperti itu, orang langsung berpikir bahwa BL adalah paling kotor, paling jorok, tak layak untuk ditinggali, kumuh, tak beradab, udaranya bau, dan penuh sampah dimana-mana.

Salam
Adi Yuza