Selasa, 25 Mei 2010

Mereka benci Islam

Orang-orang Yahudi dan Nashoro tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

=========

Mereka bangga menyebut mereka kafir. Mereka bangga memanas-manasi, mereka bangga memprovokasi. Siapa mereka?

Tak perlu saya sebutkan di sini karena anda pasti tahu dari golongan mana orang-orang itu. Yang pastinya mereka adalah Kafirun La'natulloh (semoga Allah mengazab mereka di dunia dan di akhirat)

Benar-benar provokatif. Benar-benar kurang ajar orang-orang kafir la'natulloh itu. Selalu saja ada cara mereka untuk mengusik maupun melukai hati umat islam. Selalu saja ada ide kreatif supaya umat islam terpancing emosi.

Penghinaan kepada agama khususnya Islam, biasanya dibarengi dengan penghinaan terhadap para Nabi. Mereka memperolok dan mempermainkan keagungan Nabi Muhammad SAW dan mengalamatkan berbagai tuduhan kepada beliau. Penghinaan kepada para Nabi sudah biasa dilakukan oleh para penentang kebenaran dan ajaran ilahi sejak dahulu kala. Karena itu apa yang terjadi di zaman ini adalah kelanjutan dari peristiwa di masa lalu

Baru-baru ini, muncul istilah "20 mei sebagai hari setiap orang menggambar Mohammad". istilah itu mulai diperkenalkan oleh orang-orang gila melalui akun facebook. Modusnya adalah setiap orang menggambar Nabi, lalu di Upload, sehingga setiap orang bisa melihat hasil karya yang kurang ajar itu. Tentunya, masih jelas dibenak kita bagaimana koran Jylland Posten Denmark memuat karikatur nabi, lalu greet wilders yang membuat film fitna.


Jangan ditebak gambarnya seperti apa karena hasilnya adalah gambar-gambar yang menyayat hati. Ada gambar Muhammad seperti babi, Telanjang, beringas dan gambar-gambar yang untuk disebutkan pun saya rasa tidak pantas.

Seperti biasa, orang-orang barat selalu mendukung sikap-seperti ini, dengan alasan klise tentunya, kebebasan berpendapat dan berekspresi.


Kebebasan berpendapat yang seperti apa

Tak dipungkiri bahwa kebebasan berpendapat adalah salah satu hak yang paling asasi bagi manusia. Akan tetapi tidak ada kebebasan tanpa batas dan aturan. Jika sebuah kebebasan berbenturan dengan kesucian dan meniscayakan pelecehan terhadap nilai-nilai kebenaran, maka tidak ada lagi kebebasan yang harus dipertahankan. Sayangnya, banyak pihak yang dalam hal ini negara-negara adidaya dan Barat, tak segan mengorbankan kesucian dan kebenaran untuk kepentingannya, dengan menggunakan kedok kebebasan berpendapat.

Pengalaman selama ini juga menunjukkan bahwa Barat memiliki standar ganda dalam banyak hal seperti kebebasan berpendapat dan berkreasi. Jika dituntut kepentingannya, Barat akan memberikan lampu hijau kepada siapa saja untuk menulis semaunya meski tulisan itu melanggar kode etik dan melukai perasaan satu setengah milyar muslim. Contohnya di Prancis, negara yang selalu mengagung-agungkan kebebasan. Namun ketika seorang muslimah ingin menggunakan pakaian muslimah, mereka getol menentangnya. Bahkan sampai dibuatkan undang-undangnya segala.

Padahal logikanya jika benar-benar bebas, maka para wanita disana bebas untuk memakai pakaian apapun yang mereka mau bahkan tak berpakaian sama sekali. Namun kenyataannya selama ini setiap wanita diperbolehkan untuk memakai pakaian apapun yang mereka mau termasuk telanjang, Tapi pakaian muslimah suatu pengecualian. Peraturan yang benar-lucu lagi dikriminatif. Padahal Prancis merupakan negara yang katanya anti diskriminasi.


Lalu bagaimana menyikapi nya?

Pada suatu hari, datanglah Jibril kepada Nabi yang kepalanya sudah berdarah-darah akibat dihujani lemparan batu oleh penduduk Thaif yang tak bersedia menerima ajarannya. “Berdoalah Muhammad kepada Tuhanmu, agar aku diizinkan melemparkan dua bukit gunung itu kepada mereka,” kata Jibril. Namun Nabi malah tersenyum dan berkata kepada Jibril, “Tidak Jibril, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu. Kalau mereka musnah bagaimana ajaran Allah akan aku sampaikan kepada mereka.” Nabi kemudian malah berdoa agar Allah mengampuni penduduk Thaif.

Bukan sekali itu Nabi memperoleh perlakuan sadis melainkan hampir setiap hari sepanjang hidupnya. Pernah seorang Yahudi selalu menyempatkan diri naik ke atap rumahnya setiap kali Muhammad akan lewat di depan rumah itu menuju masjid. Lalu dari atas rumah, si Yahudi selalu menyiramkan kotoran unta kepada Nabi yang sedang melintas di bawah dan setiap kali itu pula, Muhammad terpaksa kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Kejadian itu berlangsung setiap hari hingga suatu hari, Muhammad sampai ke masjid tanpa mendapat siraman kotoran dari si Yahudi.

Sepulang dari masjid bertanya Nabi kepada para tetangga si Yahudi, ke mana gerangan orang itu. “Sakit,” kata para tetangga.

Nabi lalu mendatangi rumah si Yahudi untuk menjenguk. Ketika menemui si Yahudi yang terbaring tak berdaya, Muhammad berkata, “Aku berdoa agar engkau cepat sembuh, agar engkau bisa kembali menyiramiku dengan kotoran unta.” Si Yahudi lalu menangis dan setelah sembuh, dia selalu menceritakan tentang kemuliaan perilaku Nabi kepada semua orang.

Maka karikatur dari Jylland-Posten yang katanya menggambarkan Nabi Muhammad dan juga kontes karikatur di Facebook itu sebetulnya tak perlu disikapi dengan sangat reaktif apalagi dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Nabi. Kemuliaan Muhammad tak akan pernah berkurang hanya karena sebuah gambar yang dimaksudkan untuk melecehkan dan menghina maupun yang menyanjungnya. Perilaku yang melecehkan dan mengecilkan peran Nabi, sesungguhnya tak akan pernah berhenti bahkan ketika orang-orang Islam sudah mencontoh perilaku Nabi sekali pun. Aksi itu juga tak menggambarkan atau mewakili seluruh pendapat dari orang orang-orang nonmuslim.

Lihat dan amatilah, karikatur Wastergaard dan yang belakangan terpampang di kontes “Everybody Draw Mohammed Day” itu pun, sesungguhnya sama sekali jauh dari wajah Nabi yang digambarkan oleh banyak hadis, yang juga diakui kaum orientalis sebagai wajah yang penuh keteduhan. Westergaard dan para karikarituris itu, sekali lagi hanya berimajinasi dan celakanya imajinasi itu memang keliru besar karena tampaknya mereka memang tak pernah punya bayangan dan referensi sama sekali tentang wajah dan perilaku Nabi melainkan sebagian seperti Wastergaard misalnya, hanya mencocokkan gambar wajah dari Mirza Ghulam Ahmad.

Yang jelas, mereka akan tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan amarah umat Islam. Dan akan gigit jari ketika umat islam sama sekali tak bereaksi.

Dan saran saya yang terakhir, jika kita menemukan lagi hal-hal yang serupa, jangan pernah buka situs tersebut, atau dengan kata lain boikot. Karena tidak akan ada tukang gosip kalau tidak ada pendengar


Sabtu, 22 Mei 2010

Aku rindu Mereka yang ku cinta

Aku rindu mereka.

Bertahun-tahun tak lagi bersama. Aku sekarang tak tahu seperti apa mereka. Meskipun terkadang berjumpa, namun rasanya tetap saja berbeda, Tak sedekat dulu lagi.
Mereka temanku. Teman seperjuanganku dulu. Yang membuatku mampu melihat indahnya persahabatan karena Rabb-nya. Bersahabat dengan mereka, secara tak langsung mampu mengikat hatiku agar aku selalu istiqomah di Jalan Ini. Setiap melihat wajah mereka membuatku selalu selalu teringat pada Sang pencipta.

Masih teringat jelas di ingatan ini, saat-saat awal kebersamaan. Begitu polos, begitu ingin tahu, dan begitu bersemangat. Senyum dan tawa yang yang tulus ,Kebersamaan yang begitu hangat. Dimana secara tak langsung seolah mendeklarasikan, KITA BANGGA DENGAN ADDIN KITA, DAN KITA AKAN TETAP BERJUANG BERSAMA.



rellie



Akulah yang termuda, dan akulah yang paling terakhir masuk dalam barisan mereka. Semua berawal dari seringnya kami berkumpul bersama. Kekagumanku atas akhlak dan tingkah laku mereka lah yang membuatku merasa nyaman ketika aku bersama mereka.

Dulu setiap pagi sebelum kelas dimulai, bukan kelas yang kami masuki terlebih dahulu, melainkan mushola sekolah kami. Di sana setiap pagi kami menikmati sujud demi sujud tanda syukur kami. Tak lupa ayat-ayat cintaNya kami lantunkan sembari menunggu bel berbunyi. Dan mushola sekolah itulah denyut jantung dan nafas kami.

Masih ku ingat, bagaimana kakak-kakak kami mengajari kami. Terkadang lembut, terkadang begitu keras. Terkadang menyenangkan, terkadang sama sekali tak mengenakkan. Terkadang mendiskusikan ayat-ayat maupun kekuasaanNya di Sekolah, Namun tak jarang Rihlah kami lakukan.

Dan dari semua itulah, yang membuat kami semakin paham mengapa kami harus tetap istiqomah. Dari sanalah, kami tahu betapa begitu berbahayanya Ghowzul fikri, mengapa khalwat mesti kami hindari dan masih banyak lagi. Dari sana pula sehingga mata kami mampu terbuka, melihat Palestina dengan segala kenyataannya yang begitu jeri. Dan kami dapat Melihat kenyataan, bahwa Umat ini begitu tertindas di banyak tempat oleh kaum kafir la’natulloh.

Hingga akhirnya kami menyadari betapa pentingnya dakwah di sekolah kami. Meski terkadang, anggapan sebagai orang-orang sok suci disematkan kepada kami oleh mereka yang sinis dengan aktivitas kami.

Aku rindu sahabat-sahabatku. Rindu ketika kami Mabit di Mushola sekolah kami, rindu ketika kami makan bersama dalam satu nampan, rindu ketika kami mendengarkan Pemateri-pemateri yang tak lain guru sekolah kami, menjelaskan banyak hal yang belum kami ketahui. Rindu ketika kami Qiyamullail berjamaah dalam Temaram Cahaya. Dan rindu ketika kami riyadhoh sambil menghirup sehatnya udara pagi. Rindu ketika kami bersama men-tadabbur-i ayat-ayat qauli maupun ayat-ayat kauni Nya.

Sungguh aku rindu. Aku benar-benar merasakan persahabatan yang begitu bermakna. Persahabatan yang begitu berisi. Dan persahabatan yang begitu bermutu.

Namun ternyata, waktu jua yang menentukan. Seleksi alam memang ada dan benar-benar terjadi. Dan seleksi itupun terjadi pada kami. Masih teringat jelas di tahun terakhir kami. Satu persatu lepas, hingga kami terbagi menjadi dua kubu.

Sungguh inilah saat-saat yang sangat memberatkan. Dan yang paling mebuat ku sesak, aku tak mampu berbuat apa-apa. Memang kami masih sering bersama, kami masih sering berkumpul, namun dengan rasa dan nuasa yang sama sekali berbeda. Masih ku ingat mabit terakhir kami, kosong melompong tanpa makna. Sungguh, aku merasa tak nyaman ketika itu. Mereka Lebih banyak membicarakan masalah cinta monyet dari pada saling berbagi tausyah. Pemateri yang biasanya ada, diganti dengan menelpon entah siapa. Qiyamullail labas. Dan yang miris, kami tidur pada dua tempat berbeda, Benar-benar terbagi dua.

Dan klimaks dari ketidaknyamanan ku ini adalah pada saat menjelang pengumuman kelulusan kami. Ketika itu, seorang sahabat yang sangat ku banggakan melakukan hal yang tidak kupercaya. Diam-diam ia telah setahun menjalin hubungan dengan sesorang.

Sebegitu parah, dan aku tidak tahu. Tangisku benar-benar pecah. Sungguh aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku ingin mengingatkannya, tapi aku takut, ia akan makin menjauhiku. Karena bagaimanapun pengetahuan agamanya jauh lebih dalam. Lagi pula sahabatku yang satunya lagi, yang sama hanifnya denga dia tak bisa lagi mengingatkannya.

Bagi orang awam yang melihat permasalahan kami, tentu kami yang berusaha menasehatinya adalah dianggap sebagai tokoh antagonis, yang berusaha menghancurkan hubungan orang. Lagipula, Kami tak ingin karena perbedaan prinsip, kami benar-benar putus ukhuwah. Kami yang tersisa hanya bisa mengelus dada.

Hujan takkan selalu mengguyur, mataharipun takkan selalu terik. Bunga takkan selalu indah, terkadang langsung gugur, ataupun berubah menjadi buah. Bumi masih berputar, dan selama berputar itu pula kehidupan yang dinamis akan selalu berubah.

Dulu kami bersahabat, dan sampai sekarangpun aku tetap menganggap mereka adalah sahabat. Mereka orang-orang luar biasa yang pernah ku temui. Meski dulu, kami terbingkai sama dalam satu fikroh, lalu terjadi perbedaan fikroh diantara kami, itu bukan masalah. Toh yang mesti disadari adalah masing-masing punya cara pandang yang berbeda. Dan cara pandangku seperti ini. Meski terkadang iman ku naik-turun, tapi InsyaAllah aku akan selalu berusaha istiqomah.

Sekarang tiga tahun pasca kelulusan SMA, masing-masing kami sudah terpisah jauh, menjemput nasib dengan jalan masing-masing.

Aku rindu mereka, rindu ketika kebersamaan melingkupi kami, rindu ketika kami bersama-sama dalam satu barisan. Ku harap, Allah akan mempertemukan kami kembali dalam suasana yang lebih hangat dan lebih bermakna.

Aku senang pernah mengenal kalian, aku bahagia pernah berjuang bersama kalian. Salam rindu dari hati yang terdalam.

Uhibbukkum Fillah Ya Akhun. Aku mencintai kalian karena Allah wahai saudara-saudaraku.

========================
Rohis SMAN 02 KotaBumi/ SMAN Jalawiyata / SMAN Prokimal

Kamis, 20 Mei 2010

Ketika Aku Jatuh Cinta (Curahan Hati seorang Ikwah)

Aku belia, Ku mohon penjagaanMu dalam perjalananku menggapai ridhoMu.

Banyak hal yang ku rasa masih misteri dalam hidup ini.

Aku belia dan bagaimanapun aku sama dengan belia lainnya. Karena cintaku padaMu dan keinginan tegaknya syari’atMu, maka jalan yang ku tempuh berbeda dengan kebanyakan. Namun sekali lagi, aku tetap remaja dengan segala hormon remaja, Suatu ketentuan yang telah Kau tetapkan sebagai tanda kekuasaanMu.

Namun tetap ku mohon penjagaanMu, agar semua ini bukanlah alasanku untuk jauh dariMu ataupun Menyimpang dari Syari’atMu

Telah lama aku memendam rasa ini, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan ku atau dirinya. Seperti yang Engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darinya, aku selalu berusaha tidak acuh padanya. Saat di depannya, aku ingin tetap berlaku dengan biasa-biasa saja. Walau perlu usaha untuk mencapainya.

Engkau Rabb-ku Sang pemilik hati,

Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai. Namun kepadanya, lisan ini seolah terkunci.

Dan aku merasa BERUNTUNG bahwa aku tidak pernah berkata bahwa aku mencintainya. Meski aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah salah seorang dari orang-orang yang ia cintai, walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku.

Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut ia akan menjadi “illah” bagiku selain Engkau ya Rabb ku. Karena itu, aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam sanubariku, mendorong lagi, dan lagi. Namun yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan elastis yang membuatku semakin tidak mengerti.

Terkadang sakit hati ini ketika menerka-nerka bahwa ia mencintai orang lain. Dan sama sekali tak ada aku dalam kamus cintanya, sakit terasa dan begitu perih.

Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyumnya adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramannya adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Engkau Rabb-ku, tempat ku berkeluh kesah di malam ini.

Andai aku boleh berdoa kepadaMu, mungkin aku ingin meminta agar Engkau membalikkan sang waktu. Mengembalikan kami pada detik-detik awal pertemuan itu.

Agar aku mampu mengedit saat-saat interaksi awal kami, hingga tak ada tatapan pertama yang membuat hati ini terus mengingatnya. Jarang aku memandang wanita. Namun kali ini, satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini.

Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada aku harus lumpuh seperti ini.

Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebagian mendorongku untuk mengakhiri segala terkaan-terkaan ku tentangnya karena sekedar menerka adalah suatu kesalahan. Mereka memintaku untuk membuka tabir perasaan melalui lisan ini, juga untuk klarifikasi semua prasangkaku terhadapnya.

Namun di sisi lain, ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan lisan dari rasa yang terlalu awal ini. Aku ingin mengungkapkannya, namun bukan sekarang. Karena ku ingin mengatakanya disaat yang tepat. (andai “saat yang tepat” itu bukan sekedar angan-anganku belaka).

Wahai Ar-rahman,

Mungkin bagi orang lain yang memandang permasalahanku ini, aku bukanlah pejantan tangguh yang tak mampu mengungkapkan perasaanku padanya.

Ku akui aku memang belum siap untuk segera menikah dengannya.

Aku hanya berpikir, Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan ku tata kembali. Masih jauh jarak untuk mencapai sebuah ikatan suci itu. dan bagaimanapun, aku tidak ingin mengikatnya dengan sesuatu yang tak pasti.

Wahai Rabb-ku Yang mahakuasa mempertautkan hati,

Mungkin saat ini hatiku miliknya, namun tak akan kuberikan setitik pun saat ini. Karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada Halal-ku nanti.

Wahai Rabb-ku, tolong mudahkan aku untuk meraih bidadari-ku, bila bidadari-ku bukanlah dirinya.

Ya Rabb-ku, tahukah Engkau betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku. Jika saja Engkau tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangnya. Namun bukan sebagai istriku melainkan sebagai kekasihku.

Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku TIDAK berusaha untuk menjauhinya. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik. Kalau benar, itu berarti harus mengorbankan ukhuwah di antara kami. Atau haruskah aku mengorbankan iman dan malu-ku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

Aku tidak mengerti diriku…

Ingin ku meminta kepadanya, sudikah ia menungguku hingga aku siap lahir batin meminangnya dan ia pun siap dengan pinanganku?!

Namun itu tak mungkin. Karena Itu berarti aku telah mengikatnya. Kalau begitu, apa bedanya aku dengan yang lain. Yang melakukan “penjajakan” sebelum menikah.

Namun Rabb-ku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu. Dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu. Tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakannya. Aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirinya dalam diri mereka-mereka yang lain.

Hanya keyakinanku bahwa Engkaulah yang telah mengatur segalanya yang mampu menenangkan aku.

Karena Engkaulah sebaik-baik perencana. Lagi pula Masih banyak misteri hidup yang belum kuketahui. Dan masih banyak hal yang lebih bermanfaat yang belum ku lakukan. Terlalu sempit jika aku hanya memikirkan hal-hal yang hanya akan membuat luka jika aku pikirkan.

Wahai Rabb-ku, kumohon pada Mu agar iman yang tipis ini mampu bertahan, Aku meminta padaMu, agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.

Ya Rabb, bukakanlah mata hati ku jika ini memang sebuah dosa. Tunjukkanlah aku bahwa yang haq adalah haq, dan yang batil adalah batil.

Ku Mohon, kuatkanlah aku agar tetap istiqomah di jalanMu.

Senin, 17 Mei 2010

Seruit, Makanan tradisional yang Eksklusif

Mendengar judul di atas, mungkin membuat pembaca agak heran. Jangankan pernah mencicipi, pernah dengar tentang makanan inipun tidak pernah. Ya, oleh karena itu saya katakan "eksklusif" karena hanya orang Lampung saja yang tau makanan ini. Sangat jarang orang yang bukan suku Lampung mengenalnya.

Sebenarnya Seruit atau Kalau lidah orang lampung sering menyebutnya "seruwit", adalah makanan khas orang Lampung. Yang uniknya dari makanan ini adalah, diracik ketika akan di makan dan harus habis saat itu juga. Dan tentu saja, makannya harus pakai nasi.

Cara makannya pun unik, Seruwit yang sudah jadi (dalam satu wadah) di makan bersama-sama. Caranya, kucuk kikim (daun singkong rebus) diambil secukupnya, lalu dicocol kedalam seruwit. Setelah itu, ditaruh pada sesuap nasi, dan Hap,, langsung dimakan. Biasanya, sambil mengunyah didalam mulut, lalapan mentah juga ikut dimakan berbarengan. Dan Rasanya, benar2 luar biasa sensasinya.

Saya sebagai orang Lampung terkadang sangat merindukan momen nyeruwit ini. Terus terang, seruwit memang seru. Kenapa, karena pada saat inilah biasanya sekeluarga bahkan sekeluarga besar berkumpul. Duduk di tikar besar bersama dan makan bersama. atau Terkadang pula, berkumpul bersama teman-teman sambil nyeruwit.

Oleh karena itu, dapat saya katakan nyeruwit berarti kebersamaan. Bagi orang Lampung nyeruwit mungkin bisa dianalogikan dengan upacara minum teh di Jepang. meskipun tidak sesakral upacara minum teh di Jepang. Tapi inilah salah satu kebudayaan yang tiada duanya di dunia.

Tapi sayangnya, lagi-lagi pemerintah tidak pernah melihat ini. Menurut saya, kalau pemerintah, terutama Pemda mau peduli, Seruwit dan acara Nyeruwit mungkin bisa menjadi aset wisata unggulan. Coba kalau misalkan diadakan "Festival Seruwit". Ha ha ha, pasti Seru!"

Selain bisa memperkenalkan kebudayaan lokal, dengan diadakannya acara-acara seperti itu, juga merupakan sarana untuk mempertahankan kebudayaan yang entah sampai kapan bisa bertahan. Memang hari ini masih banyak keluarga-keluarga Lampung yang masih mempertahankan Tradisi seruwit, tapi bagaimana 10 atau 20 tahun lagi? kenal seruwit pun tidak lagi barangkali.


Mengapa Seruit Kurang dikenal?

Mengapa seruwit Lampung tidak terkenal dan kalah pamor sama kemplang atau keripik? banyak sekali faktor yang menyebabkan seperti itu.

Seruwit adalah makanan yang tidak awet, sehingga untuk dijadikan oleh-oleh keluar daerah tidak mungkin. Sedangkan kemplang, setiap anak-anak Lampung yang keluar daerah, habis pulang kampung, biasanya bawa oleh-oleh kemplang atau keripik untuk teman-temannya. Itulah yang membuat kemplang atau keripik terkenal dibanding seruwit.

Seruwit kasusnya sama dengan gudeg di Jogjakarta, sama-sama tak awet, tapi gudeg lebih terkenal.

Seruwit akan terkenal jika:

Yang Pertama, Di Lampung ada banyak warung yang menawarkan masakan khas Lampung, sehingga setiap pelancong yang datang, akan mencicipi seruit, dan lambat laun seruit Lampung akan terkenal. Sekarang kenyataannya dapat kita lihat, di BandarLampung sendiri sangat sulit menemukan warung khas Lampung. Yang ada adalah Masakan Minang, Wong Jowo, Warung Pempek. Lapo Tuak. Belum pernah saya lihat ada "Kedai Seruwit".

Terkadang Saya sulit membayangkan, pelancong jauh-jauh dari Padang ke Lampung hanya untuk makan Rendang Padang. Atau orang Jawa jauh-jauh menyeberang hanya untuk makan Soto, Sate, Pecel. atau Orang Palembang ke Lampung Untuk makan empek-empek Palembang. Sama Sekali Tiada kesan untuk kulinernya. Karena bagaimanapun Lebih Enak makanan di tempat Sumber Asalnya.

Yang kedua, Ada warung-warung makanan khas Lampung diluar daerah, misal di DIY, DKI, Tangerang, Surabaya, Medan dan lain-lain, yang menawarkan seruit. Sehingga seruit juga akan terkenal didaerah-daerah tersebut.
Sekarang, pernahkah kita melihat warung-warung atau rumah makan seperti yang saya katakan diatas? tentu belum atau jarang. Itulah yang buat seruwit tak terkenal.

Dan Yang Terakhir, Seruit adalah makanan "Eksklusif". Hanya orang Lampung Saja yang mau melakukannya. Selama ini Kalaupun ada orang Non Lampung yang ikut nyeruwit, itu karena dia berada ditengah-tengah komunitas Lampung. Seruwit akan terkenal jika bisa dilakukan oleh orang-orang Non Lampung. Namun Seruwit berbeda dari Rendang, pempek, Soto dll. Kalau kita mau buat Rendang, Bisa kita catat resepnya dan kita praktikkan di rumah. Sedangkan Seruwit? kita bisa catat resepnya namun untuk mempraktekkannya tentu sangat sulit bagi orang NonLampung. Semua itu karena Seruwit bukan sekedar Makanan, namun Ia adalah bagian dari Tradisi dan Kebudayaan. Yang sangat sulit dipraktikkan pada orang selain Lampung.

Namun Bagaimanpun Juga, Seruwit sebagai makanan maupun tradisi merupakan tanggung jawab kita semua untuk menjaganya. Memang, sekarang kita tidak menganggapnya Penting, dan kita tidak peduli. Tapi haruskah ada negara lain yang Mengklaim Seruit baru mata kita bisa terbuka. Saya Rasa itu bukan pemikiran yang bijak.


Cara Membuat Seruwit

Dari tadi, bicara tentang seruwit , tapi seruwit itu apa sih? mungkin teman-teman yang bukan suku Lampung agak bingung. Ini dia Seruwit:

Bahan-Bahan Seruwit:
-Ikan (Bisa Goreng atau Panggang. Ikannya ikan Patin, Mas atau Baung. Ikan lain juga Boleh, tergantung selera. Tapi saran Saya, ikan yang sudah saya sebutkan itulah yang enak)
- Sambal Terasi
- Terong ungu Panggang
-Limau Kunci (bisa diganti Kedondong hutan)
- Isi Timun
- Tempoyak
- Garam (kalau kurang asin)
-Air Secukupnya

Lalap rebus:
-Daun Singkong Rebus (bisa diganti daun Pepaya, kangkung atau bayem)

Lalap Mentah:
-Timun
-Jengkol (Bisa diganti Petai)
- Pucuk daun Jambu Mente
- Kacang Panjang
-Jinar (Sejenis Jahe)
-Wortel
-Kemangi

Cara Meracik :
Semua Bahan Seruit di campur dalam satu wadah. Diaduk dengan Tangan bersih.

Cara makan

Sudah dijelaskan Diatas.

Yang terpenting, dalam nyeruwit, kebersihan tangan harus diutamakan. Karena nyeruwit haruslah pakai tangan.


Kamis, 13 Mei 2010

Ketika Ta'aruf dan Khitbah dijadikan kedok pacaran

Masih terlintas dibenak saya bagaimana boomingnya film Ayat-ayat Cinta dua tahun yang lalu, dan KCB tahun 2009 kemarin. Sebenarnya ke-2 film tsb tak begitu masalah sih, cukup bagus menurut saya. Meskipun bagi saya, film Ayat-ayat cinta cukup mengerikan kualitasnya. Dari dua film tersebut banyak orang mulai kenal istilah ta'aruf dan khitbah. Sayangnya, orang awam yang menelan mentah-mentah film ini dan menganggap Ta'aruf dan khitbah adalah Perjodohan atau Pedekate atau Pacaran yang Islami. Sedangkan bagi Itong (ikhwan sepotong) atau Ikhwit (Akhwat belum jadi), Dua model perjodohan ini dianggap sebagai "pacaran" yang halal. Meski mereka menolak hal ini untuk disebut pacaran. Sebuah artikel bagus yang saya temukan dari salah satu situs cukup menarik untuk dibaca. Semoga bisa menjadi bahan Instropeksi kita, berada dimanakah kita selama ini.

Selain supaya kita bisa mengendalikan diri dan mengendalikan hati, tujuan saya menuliskannya kembali adalah supaya kita juga lebih cerdas dalam mengendalikan teknologi. Dan Yang perlu selalu kita ingat, Setan selalu banyak cara untuk menjerumuskan Bani Adam.

Belakangan ini ta’aruf mengalami penyempitan makna. Bahkan dalam praktiknya, banyak yang mengidentikkan ta’aruf dengan pacaran. Salah satu penyebabnya adalah maraknya ta’aruf yang dilakukan oleh para ikhwan maupun akhwat di dunia maya. Padahal, sejatinya yang mereka lakukan itu adalah pacaran berkedok ta’aruf, karena dalam aksinya, tiada lagi hijab dalam interaksi bagi akhwat dan ikhwan bukan mahram, seakan bebas landas, curhat di jejaring sosial facebook, hujat-hujatan. Itulah pacaran terselubung dengan membawa topeng ta’aruf.


Ikhwan-ikhwan yang menggunakan profil islami tak pernah kehabisan ide dalam melegalkan pacaran. Jika orang-orang yang tidak membawa agama berani terang-terangan mengatakan pacaran, tapi tidak dengan pemuda pemudi yang berciri khas agama, mereka berpacaran dengan embel-embel ta’aruf.

Entah apa yang ada di benak mereka, apakah ta’aruf dipahami sesuai syariat atau sengaja menyelewengkan dari makna yang sebenarnya, banyak ikhwan dengan mudahnya mengatakan ingin ta’aruf dengan akhwat yang diincarnya melalui dunia maya tanpa perantara pihak ketiga.

Komentar-komentar di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang untuk umum mana yang harusnya dijadikan rahasia dirinya dengan Allah, facebook menjadi keranjang sampah juga menjadi diary bagi sebagian orang. Akhwat dan ikhwan berpacaran pun sudah mulai berani membuat status in relationship dengan pasangan yang disebutnya sedang ta’aruf.

... Komentar-komentar di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang pacaran dan mana yang ta’aruf. Belum ada ikatan apapun mereka sudah berani memanggil umi-abi...

Tak sedikit juga ikhwan genit dan akhwat ganjen saling memberi perhatian di tempat umum. “Sudah shalatkah ukhti? Jangan telat makan ya..” tulis sang ikhwan. Sang akhwat pun tak mau kalah, membalasnya dengan kata-kata senada, “Syukron ya akhi atas perhatiannya, semangat belajar ya.”

Ada pula komentar yang lebih liar, “Eh iya ukhti kelihatan anggun dengan jilbab itu, hehehehe.” Maka si akhwat balik menjawab, “Ah, akhi nih bisa aja, ntar ana GR nih, heeeeee…” Masya Allah, itukah yang disebut ta’aruf?

Dulu penulis banyak menemukan pencerahan di dunia maya dengan banyak berteman, namun jadi ilfil (ilang feeling) setelah mengetahui sepak terjang beberapa ikhwan akhwat, teriaknya agama, tapi murah terhadap lawan jenis, menebar simpati dan basa-basi.

Mereka memakai kedok ta’aruf untuk melegalkan pacaran. Belum ada ikatan apapun sudah berani memanggil “umi-abi” atau “abang-adik.” Tak sedikit pula ditemui akhwat berjilbab lebar yang masih membudidayakan pacaran. Tanpa malu-malu lagi. Apakah semua itu dilakukan karena ketidaktahuan akhwat tentang bagaimana Islam mengatur pergaulan dengan lawan jenis? Wallahu a’lam. Yang pasti ada juga yang biasa berkomentar pacaran haram, tapi dirinya masih juga berpacaran, namun memakai kedok ta’aruf. Padahal praktiknya sami mawon.

...akhwat jangan mudah terpedaya pada ikhwan di dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya...

Hendaknya benar-benar lurus memahami kata ta’aruf seperti yang diajarkan oleh Nabi kita, jangan sampai menjadikan ta’aruf untuk menghancurkan keagungan Islam. Telah jelas dalam Islam, bagaimana hendaknya kita menjaga diri kita agar tidak terjatuh pada perkara-perkara yang membuat Allah murka. Jangan memakai istilah ta’aruf jika hanya sebatas ingin menjadi uji coba bermain hati.

Hati akhwat biasanya lembut dan mudah tersentuh, korban yang pertama akan merasakan terluka oleh ta’aruf coba-coba tadi tentunya para akhwat. Begitu juga para akhwat, jangan mudah terpedaya pada ikhwan dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya. Apa yang ditampilkan dalam dunia maya, profil, kata-kata, tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai karakter yang sesungguhnya, juga tidak dapat cukup untuk menggambarkan pribadinya secara utuh, tetap waspada.


Sumber : Klik Disini



Selasa, 11 Mei 2010

Roti dan Prasangka Buruk

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba.

Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya , ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.

Wanita itupun sempat berpikir: “Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!?.
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua.
Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir : ?Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih?.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.

Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih”. Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget.
Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati.
Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih.
Dan dialah pencuri kue itu !

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi.
Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya. Orang lainlah yang selalu salah

Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran

Padahal
Kita sendiri yang mencuri kue tadi
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.

Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain .

Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Diambil Dari : akhdian.net

Dasar – dasar Teknik Sidang

Secara sederhana, sidang merupakan bentuk diskusi resmi yang diikuti orang banyak untuk memutuskan sesuatu dengan mekanisme-mekanisme yang jelas/teratur. Mekanisme-mekanisme yang dibuat dan diberlakukan di sidang bertujuan agar sidang yang dilakukan berjalan aman, aspiratif, dan demokratis. Oleh karena itu aturan main sidang harus jelas.

Apa yang orang lakukan ketika sidang?

Segala keputusan yang berhubungan dengan kepijakan publik akan selalu diambil melalui mekanisme sidang. Sehingga semua pihak yang berkepentingan dengan kebijakan publik pasti akan berkumpul untuk ikut dalam proses itu.

  1. Macam-macam Sidang
  1. Sidang Komisi

Sidang ini hanya diikuti oleh anggota komisis saja untuk memudahkan perumusan dan pengambilan kebijakan sementara sehingga pembahasan bidang yang telah ditentukan lebih terfokus. Keputusan pada sidang komisis bersifat non permanen (dapat berubah) kemudian dibawa kedalam sidang pleno untuk mendapat keputusan terakhir.

  1. Sidang Pleno

Biasa disebut sidang besar yang diikuti oleh seluruh peserta sidang tanpa kecuali.. Sidang pleno dilakukan untuk memberi keputusan final agenda sidang yang telah dirumuskan sebelumnya pada sidang komisi. Pembahasan agenda, tatib, dan LPJ menggunakan sidang jenis ini.

Perangkat Sidang

  1. Pimpinan Sidang/presidium

Pimpinan sidang berperan sebagai pengatur jalannya sidang agar menghasilkan keputusan yang disepakati bersama. Pimpinan sidang tidak boleh berpihak pada salah satu pihak peserta dan hanya boleh memutuskan sesuatu atas persetujuan peserta sidang. Kriteria yang harus dimiliki oleh pimpinan sidang sbb :

  • cerdik
  • bijaksana
  • tegas
  • berwawasan luas
  • humoris
  • kharisma

Pimpinan sidang dipilih oleh peserta sidang dan biasanya berjumlah ganjil. Satu sebagai notulen dan dua orang pimpinan sidang yang lain secara bergantian memimpin sidang sesuai kesepakatan.

2. Peserta Sidang

Peserta sidang ditentukan berdasarkan tatib yang telah disepakati. Biasanya terdiri dari peserta aktif dan peserta peninjau. Seluruh hak dan kewajiban peserta diatur di tatib.

3. Notulensi

Bertugas untuk emncatat jalannya persidangan

4. Palu Sidang

Demi kelancaran maka diperlukan palu sidang yang telah disepakati bersama baik bentuk maupun wujudnya. Aturan ketukan palu sidang sbb :

  • 1 x : mengukuhkan kesepakatan.
  • 2 x : pertukaran pimpinan sidang, penundaan sidang, pencabutan penundaan (baik untuk lobby, istirahat, atau penundaan sidang untuk beberapa lama)
  • 3 x : menetapkan keputusan, membuka dan menutup sidang.
  • Berkali-kali : untuk menenangkan peserta sidang atau meminta peserta memperhatikan jalannya sidang.
  1. Quorum

Adalah syarat sahnya sidang untuk dapat diadakan, karena tingkat quorum menunjukkan sejauh man tingkat representasi dari peserta sidang. Semakin tinggi jumlah quorum, semakin tinggi pula tingkat representasi dari sidang tersebut.

6. Draft Materi Sidang

Meliputi bahan-bahan yang akan dibahas dalam persidangan. Biasanya terdiri dari draft tatib, AD/ART, PPO, GBHK, dll yang disusun sebelumnya oleh tim perumus sidang atau panitia khusus.

Istilah dalam sidang

Pending : memberhentikan sidang untuk sementara waktu dengan tujuan tertentu seperti istirahat, lobby, penundaan sidang.

PK/Peninjauan kembali : mekanisme yang digunakan untuk mengulang kembali pembahasan/ putusan yang telah ditetapkan

Interupsi : memotong/menyela pembicaraan dikarenakan ada hal-hal yang sagat penting untuk diungkapkan.

Macam-macam Interupsi

Macam-macam interupsi sbb :

  1. Point of clarification : interupsi untuk menjernihkan/meluruskan permasalahan atau isi pembahasan.
  2. Point of view : interupsi yang digunakan untuk menyampaikan pendapat, tanggapan, usulan, saran
  3. Point of order : interupsi yang digunakan untuk meminta pimpinan sidang meluruskan jalannya sidang apabila keluar dari konteks, atau sidang dianggap janggal.
  4. Point of solution : interupsi untuk memberikan solusi atas permasalahan yang dibahas.
  5. Point of information : interupsi untuk memberikan informasi, baik tentang pembicaraan yang tidak sesuai atau informasi yang berkaitan dengan kondisi yang menjadi pokok pembahasan atau hal-hal yang dipandang urgen untuk diinformasikan.
  6. Point of privilege (rehabilitation) : interupsi yang berfungsi untuk membersihkan nama baik atau kehormatan seseorang/kelompok karena dipandang pembicaraan tersebut menyimpang dari etika atau menyinggung perasaan.

Persiapan Menghadapi Sidang

  1. Fisik
  2. materi
  3. persiapan materi yang akan dibahas
  4. persiapan strategi