Kamis, 07 Juni 2012

Seandainya saya kebagian satu milyar rupiah dari Hambalang


Seandainya saya kebagian satu milyar rupiah dari Hambalang, pikiran itu tiba-tiba mencuat di benak saya ketika menonton program Indonesia Lawyers Club yang temanya “Dalang-dalang Hambalang”. Dalam acara itu, Pak Karni Ilyas mengatakan, “Anda tahu seberapa banyak uang 1 triliun itu? Jika perbulannya diambil 1 milyar, maka perlu waktu 72 tahun untuk menghabiskannya”. Wow, it’s amazing, bahkan terlintas dipikiran pun tak pernah untuk menghabiskan uang 1 milyar perbulan. Terus terang, saya tak peduli dengan kasus itu, karena saya benar-benar sudah muak. Saya hanya berharap azab Allah datang kepada mereka ketika mereka masih hidup.

Kalimat Bapak pemilik suara serak itu masih menggelayuti pikiran saya hingga saya terlelap. Seandainya saya dapat uang satu milyar saja, pasti itu lebih dari cukup untuk saya. Saya bisa membeli rumah yang saat ini saya kontrak, membuat usaha kost-kostan, rumah makan dan lain-lain. Bahkan itupun masih sisa. Dan uang yang telah saya pakai itu pun bisa saya kembalikan lagi dari hasil usaha saya.

Kadang saya heran dengan orang-orang kaya, kenapa selalu merasa kurang, padahal harta mereka sudah banyak. Pelit untuk menambah gaji buruh, padahal keuntungan mereka masih sangat cukup jika hanya untuk menaikkan gaji pekerja mereka ke level yang lebih layak. Entahlah.. dan saya pun terlelap bersamaan dengan khyalan bercampur keprihatinan itu.
***

Siang ini saya masih sama seperti siang-siang sebelumnya, galau; sama seperti halnya cuaca yang masih galau di musim pancaroba seperti ini. Entah berapa kali saya mengalami masa-masa penggalauan seperti ini, yang jelas sudah tidak terhitung lagi. Yang saya ingat, masa galau saya tak jauh-jauh dari masalah kuliah yang masalahnya selalu beranak-pinak dan keuangan yang morat-marit. Pernah saking galau-nya saya karena masalah skripsi, akhirnya saya putuskan untuk menjauh dari kota tempat saya tinggal menuju kota kecil  yang letaknya hampir ujung timur Pulau Jawa, Pare.

Alasannya sih untuk belajar Bahasa Inggris, tapi selain itu saya ingin mencari ketenangan.
Di kota kecil yang sempat dicalonkan menjadi ibukota Kabupaten Kediri itu, saya mencoba menenangkan diri sambil sedikit mengasah kemampuan bahasa Inggris saya. Kalau ada pembaca yang bertanya-tanya kenapa saya pilih Pare sebagai tempat umtuk menghabiskan masa menggalau saya, saya sendiri tidak tahu.  Mungkin karena terkenal sebagai “Kampung Bahasa” atau “Kampung Inggris”-nya, maka saya pikir, masa-masa galau saya tidak akan sia-sia begitu saja selain dari sekadar melupakan sejenak masalah di Kampus. Alhamdulillah, selama satu setengah bulan di sana membuat pikiran saya mulai enak lagi. Hal ini mungkin karena saya benar-benar tidak peduli dengan masalah yang ada karena saya terlalu sibuk belajar bahasa inggris dan bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai daerah yang membuat saya makin excited.

Baru saja sampai setelah pulang dari Pare, masalah rupanya sudah tidak sabar untuk berpelukan dengan ku, sahabat karibnya. Kakak ku jatuh sakit tepat ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah kontrakan ku. Aku pun langsung mengantarkannya berobat ke Dokter. Sebenarnya kondisi badan ku sendiri kurang begitu fit karena perjalanan panjang, melelahkan dan tak tidur sama sekali.

Tidak tidur sama sekali. Ya benar. Keuangan yang (selalu) terbatas memaksa ku untuk harus pintar-pintar mengaturnya. Salah satunya adalah  pulang dengan berganti-ganti kendaraan yang serba ekonomis. Mulai naik kereta kelas ekonomi, bis ekonomi, dan kapal laut kelas ekonomi. Konsekuensinya, aku harus awas setiap saat untuk menjaga barang bawaan saya. Usaha penghematan ku setidaknya tidak sia-sia, karena uanganya bisa ku pakai buat biaya berobat kakak ku ke Dokter.

Singkat cerita, kakak ku ternyata terserang demam berdarah, penyakit yang ketika itu sedang menjadi trending di kota ku. Kondisi yang mengkhawatirkan itu mengharuskan kami untuk menginapkannya di rumah sakit Ssasta yang cukup mahal untuk ukuran keluarga kami selama lebih dari seminggu. Sebenarnya keluarga ingin membawanya ke rumah sakit umum atau rumah sakit swasta yang ada layanan Askes-nya. Tapi sayang, semuanya sudah penuh karena penyakit yang menyebabkan trombosit korbannya berkurang dengan sangat drastis ini. 

Ujung-ujungnya biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tapi tak masalah bagi kami semua, yang penting orang yang kami cintai bisa kembali sehat seperti sedia kala. Salah satu cara untuk menutupi kekurangan pembiayaan rumah sakit adalah aku harus mengeluakan uang tabungan hasil beasiswa ku. Sungguh, baru pertama kali itu rekening yang sengaja ku buat untuk transfer beasiswa itu  meranggas seperti pohun jati di musim kemarau. Tapi sekali lagi, bagiku sama sekali tidak apa-apa, daripada orangtuaku harus meminjam kepada orang lain.

Hari-hari berikutnya aku, otakku tidak hanya  disibukkan dengan bagaimana harus mengatur uang yang tidak seberapa itu agar cukup, tapi juga bagaimana agar uang yang akan dikelola itu bisa ada. Karena tidak mungkin mengatur uang yang uangnya tidak ada. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena saat itu ada lowongan mengajar privat bahasa inggris.

Benar kata orang, dalam keadaan terdesak, orang bisa melakukan sesuatu yang menurutnya di luar kemampuan dia. Dalam hal ini, aku yang sama sekali tidak pernah mengajar tiba-tiba punya keinginan untuk mengajar. Dan (menurutku) aku bisa mengajar. One problem's solved, Sekarang tinggal bagaimana agar aku bisa mengatur penghasilan yang tak seberapa itu supaya cukup untuk makan, cetak draft, dan kebutuhan skripsi lainnya. Jujur, sangat jauh dari cukup, tapi mau bagaimana lagi. Mau minta uang kepada orang tua tak tega rasanya.

Mengajar privat sudah selesai, uang honor pun sudah hampir selesai riwayatnya, tapi permasalahan tak pernah ada surutnya. Kali ini, adikku yang baru lulus SMA tinggal bersamaku untuk bimbel SNMPTN dan akupun disibukkan untuk pendaftaran wisuda. Kalian tahu sendiri, keduanya perlu biaya yang tak sedikit. Biaya makan pun otomatis menjadi dua kali lipat.

Sebenarnya aku yang memaksa adikku untuk  ikut Bimbel. Daripada dia luntang-lantung tak jelas di kampung, pikirku ketika itu. Setidakknya disini, dia akan mendapatkan banyak referensi sehingga pikirannya akan lebih terbuka untuk menentukan masa depannya sendiri. Uang Bimbel yang ku pikir hanya 300ribu rupiah ternyata sangat jauh dari perkiraan ku.

Aku tak pernah menyangka bahwa bimbel yang goal-nya hanya untuk lulus SNMPTN itu bisa mencapai 1,5 juta. Mahal sekali!. Lalu akupun pindah ke lembaga bimbel yang lain. Akhirnya dapatlah yang biayanya 1 juta, yang sesungguhnya masih mahal menurut ukuran ku. Kepalaku asli berkunang-kunang. Untung aku masih bisa mengendalikan diri di depan front officer bimbel itu. Mau ku batalkan, tidak enak dengan adikku. Akhirnya aku melakukan nego dengan petugas itu, dan pembayaran pun bisa di angsur setengahnya, ditambah biaya registrasi 100ribu.  Sekali lagi, uang 100ribu itu fuckin' out of my expectation.

Besar pasak daripada tiang, dan aku harus mengatur agar pasak bisa membesar dan tiang bisa mengecil. Caranya, ya aku  harus mencari uang sebanyak-banyaknya dan mengatur pengeluaran semininimum mungkin. Alhamdulillah, Akupun mengajar lagi. Kali ini aku mengajar anak-anak pintar dari sekolah swasta ternama di kota ku. Aku membimbing mereka ilmu kebumian sesuai dengan bidang kuliah ku, hal ini karena mereka akan menghadapi olimpiade sains tingkat propinsi  setelah sebelumnya ketiganya lolos dan mewakili kota.

Waktu kembali berputar, pekerjaanku sebagai pengajar pun lagi-lagi selesai dan urusan pendaftaran wisuda juga sudah selesai. Uang honor sebagai pengajar pun lumayan; lumayan pas-pasan. Guru pembimbing anak-anak itu pun meminta maaf karena menurutnya memberi kurang layak.  Aku sendiri memaklumi, toh tidak ada kontrak dalam bentuk apapun mengenai berapa jumlah honor yang mesti aku terima.

Well, Sekarang adalah waktu kosong yang sama sekali tidak pernah ku sukai. Tinggal menunggu wisuda yang tidak lama lagi. Sembari menuggu waktu yang bersejarah itu, akupun mengajukkan aplikasi kerja ke beberapa perusahaan. Harapanku, aku bisa bekerja di perusahaan minyak atau geothermal seperti yang aku impikan ketika aku masih kuliah dulu. Tapi rasanya sulit sekali, mungkin karena tidak ada orang dalam yang merekomendasikan, atau tidak ada alumni yang bekerja  di dalamnya, entahlah. Tapi aku mencoba tetap optimis dan masih berharap banyak kepada Tuhan. Selain perusahaan minyak, aku juga memasukkan lamaran ke beberapa bank sebagai officer development program dan sejenisnya.

Terus terang, batinku rasanya mau menangis saat memasukkan aplikasi itu ke bank. Bagaimana tidak, bank bukanlah minat ku. Bahkan bekerja di bank sama sekali tidak masuk dalam list ku. Dalam list yang ku buat, jika tidak bekerja di perusahaan minyak, aku ingin menjadi dosen. Dan jika keduanya tidak bisa, aku akan menjadi entrepreneur.

Tapi mau bagaimana lagi. Banyak temanku yang sudah melamar di perbankan dan berkecimpung di dalamnya. Melihat mereka, mau tidak mau  idealisme ku pun runtuh karena takut dicap sebagai pengangguran. Akupun mulai belajar tentang perbankan dan segala hal tentang  tes yang akan dilalui melalui buku yang sengaja ku beli. Aku memang hanya coba-coba, tapi bukan berarti aku tidak serius. Bukankah sebelum melakukan percobaan harus belajar mengenai teorinya dahulu.

Wisuda tinggal beberapa hari lagi, dan sampai sekarang belum ada panggilan dari banyak aplikasi yang ku sebar. Yah, mungkin aku perlu sedikit bersabar dan banyak-banyak berdoa.
Aku  kembali Galau dalam waktu lengang yang pada dasarnya merupakan saat-saat yang ku benci seperti saat ini. Menurutku, waktu lengang itu berpotensi melahirkan banyak maksiat. Dan entah sudah berapa banyak maksiat yang ku lakukan. Ku coba untuk tidak menyia-nyiakan waktu lengang ini dengan menulis artikel blog ataupun mengotak-atik photoshop. Hobi yang sudah lama aku tinggalkan dengan alasan sibuk.
Sampai saat ini, khayalan seandainya “kejatuhan uang secara tiba-tiba” masih sering exist.. ukh..


Update:

Saya berhasil lulus di bank dengan mengalahkan ratusan pelamar. Namun saya putuskan tidak mengambil lamaran itu karena saya tidak minat sama sekali. Saya melamar di beberapa perusahaan minyak tapi karena kesalahan teknis yang saya lakukan, saya pun gagal. Saya pernah mencoba bekerja sama dengan teman sendiri. Dan hasilnya, saya sarankan untuk pembaca agar membuat perjanjian se-profesional mungkin meskipun dengan sahabat dekat sekalipun. Kejadian itu membuat saya mesti jaga jarak dengan dia terutama jika terkait bisnis. Pada akhirnya, saya mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar jika dirasa perlu

Adi Yuza