Minggu, 12 Oktober 2008

Krisis Global 2008

Sepuluh tahun yang lalu badai krisis menerjang Negeri kita tercinta Indonesia. Menghempas fondasi-fondasi perekonomian negara kita yang notebene arsiteknya adalah IMF. yaah.. bisa kita lihat langsung dampaknya, Kehancuran negeri kita paling parah daripada negara lain. Entah itu dari segi ekonomi, sosial, politik, dan semuanya. Pokoknya tidak ada yang luput dari badai yang mengerikan itu. Para ahli ekonomi banyak yang berkomentar dan mengeluarkan teori ekonomi yang hanya mereka sendiri yang mengerti apa maksudnya tanpa ada tindakan yang berarti. Dan akhirnya tetap rakyatlah yang merasakan betapa pedihnya jadi rakyat (Indonesia) pada saat itu. Itulah cerita kira-kira sepuluh tahun yang lalu yang hingga sekarang tetap akrab ditelinga kita. Selama sepuluh tahun itu pula, negeri kita berusaha bangkit dengan segala kecacatannya. dan Selama sepuluh tahun itu pula, masalah-masalah yang lebih kompleks menggerayangi negeri kita. Belum selesai dampak dari krisis tahun 98, kini muncul kembali babak baru krisis global yang dimulai dengan ketidakmampuan rakyat Amerika untuk membayar cicilan rumah. Dan ternyata, masalah itu merembet dan terus meluas hingga akhirnya mendunia. Saya sendiri memang kurang paham bagaimana itu bisa terjadi. Tapi begitulah kira-kira yang bisa saya tangkap dari berita-berita MetroTV dan televisi swasta lainnya. Seluruh negara di dunia mulai kalang kabut terutama negara-negara kaya, karena jelas mereka paling banyak dirugikan. Indeks harga saham di seluruh dunia merosot tajam. Namun yang paling menyedihkan adalah mengapa mesti Indonesia yang paling parah. Jika negara lain indeks saham mereka melorot antara 1% hingga 7%, indeks saham Indonesia malah melorot hingga kisaran 11% pada awal pembukaan libur lebaran. Akhirnya, dengan alasan untuk menenangkan investor, perdagangan di Bursa Efek Indonesia ditutup hingga satu pekan lamanya. Apakah ini awal babak baru krisis berkepanjangan di Indonesia? saya harap bukan, dan jangan sampai terjadi.
Seperti biasa, para ahli ekonomi memberikan tanggapan mereka setiap masalah ini datang. dan kebanyakan mereka mengatakan bahwa Indonesia tidak siap menghadapi krisis ini.

Namun hingar-bingar krisis baru ini ternyata belum begitu banyak diketahui oleh rakyat jelata di Indonesia. Entah karena mereka malas memikirkan kesulitan yang akan mereka hadapi kedepan karena selama ini kehidupan mereka sudah sulit, atau mereka kurang mengerti akan hal yang seserius ini, atau apalah. Yang jelas hingga saat ini, sebagian besar Rakyat Indonesia tetap tenang-tenang saja. Saya pikir, rakyat Indonesia akan tetap tenang asal pemerintah Indonesia mampu menjaga ketenangan mereka. Yaitu dengan menjaga agar harga-harga kebutuhan pokok tidak meroket. Karena bagi mereka krisis adalah naiknya harga kebutuhan sehari-hari, bukan soal saham atau suku bunga.

2 komentar:

  1. ini bukan babak awal krisis ekonomi Indonesia, Perekonomian tidak hanya diukur dari indeks saja.

    Nice post

    BalasHapus
  2. andreas iswinarto13 Oktober 2008 08.48

    Salam pembebasan,
    Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

    It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

    Silah kunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar jika dirasa perlu

Adi Yuza