![]() |
| Dari dokumentasi pribadi Bang Deddy |
Kamis, 18 Februari 2016
Tentang Pengabdian
Kamis, 22 Oktober 2015
Menghadiri Resepsi Pernikahan Mbak Titik
![]() |
| Lendah, Kulonprogo. Bukit latar belakang adalah bukit kapur. |
![]() |
| Jadi Orang Jawa, Hehehehe |
Selasa, 21 Oktober 2014
Harus Pakai Kacamata
Sudah lama saya merasakan gangguan di penglihatan mata saya. Namun belakangan rasanya makin parah. Selain benda yang terlihat membayang, saya juga sering mengalami sakit kepala. Apalagi saat sedang berada di Ciwalk Mall, lantainya yang bergaris makin membuat kepala saya nyut-nyutan. Oya sebelumnya saya juga merasa pusing setiap menyetrika kemeja yang berstrip garis.
![]() |
| Lantai Ciwalk. Setiap kali berjalan di sini kepala saya pening dan garis-garisnya seperti berdenyut. |
Besar curiga saya bahwa mata saya sedang bermasalah. Sebenarnya saya ingin memeriksakan mata saya sejak saya duduk di bangku kuliah S1 dulu. Namun karena alasan biaya membuat kacamata yang cukup mahal untuk ukuran saya saat itu, maka niat tersebut saya urungkan. Mitos yang saya percayai bahwa orang yang berkacamata itu pintar membuat saya makin enggan mengenakan kacamata. Saya tidak pintar, jadi saya pikir, saya tidak perlu mengenakan kacamata. Kacamata hanya untuk orang-orang pintar, untuk orang-orang yang sering baca buku, dan orang-orang yang sering berkutat mengerjakan rumus-rumus Hehehe.. mitos yang benar-benar menyesatkan.
Akhirnya suatu pagi ketika bangun tidur, entah dapat ilham dari mana yang jelas saya harus periksa mata. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat browsing-browsing mengenai tempat periksa mata dan harga kacamata. Dan seperti yang saya katakan di awal, Saya pun memutuskan untuk periksa mata di RS Mata Cicendo. Alasannya sederhana, pertama murah, dan yang kedua ditangani langsung oleh dokter mata. Saya belum berani periksa mata di optik. Karena yang memeriksa adalah pelayan toko yang belum tentu hasil diagnosisnya bagus. Bagi saya urusan mata bukanlah hal yang sepele.
Saya berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Karena berdasarkan artikel-artikel yang saya baca di internet, antriannya akan sangat mebludak. Bahkan beberapa orang sampai membatalkan pemeriksaannya gara-gara tidak tahan menunggu berjam-jam.
Saya tiba di rumah sakit pukul 07.14 dan langsung mengambil nomor antrian. Dan Huffftt... saya dapat nomor antrian 109. Yah, akhirnya saya memang perlu menyiapkan kesabaran ekstra. Lagi pula saya sadar diri, tempat yang murah dan bagus pasti dikerubungi banyak orang. Jika ingin antriannya cepat ya harus daftar antrian VIP yang bayarannya lebih dari Rp 100ribu. -___- Saya hanya berdoa mudah-mudahan semuanya selesai sebelum Jumatan.
![]() |
| Nomor antrian. |
Dua jam kemudian nama saya dipanggil. Setelah membayar uang pendaftaran sebesar Rp 25rb, saya pun diarahkan untuk ke ruang refraksi. Sesampainya di sana, saya pun harus kembali menunggu kurang lebih setengah jam.
Dan ini dia, nama saya akhirnya dipanggil. Untuk pemeriksaan awal, mata saya diperiksa dengan alat yang biasa terdapat ada di optik. Karena mbak-mbak yang periksa mata saya itu masih newbie, akhirnya pemeriksaan dilakukan dua kali. Dan untuk yang kedua, pemeriksaan diawasi oleh perawat yang senior.
Setelah itu, saya pindah ke tempat lain. Di sana saya disuruh mengenakan kacamata yang lensanya dapat diganti-ganti. Selain itu, kacamatanya juga diberi lubang yang kecil untuk melihat. Dan astaghfirulloh.. saat yang mata kanan saya yang di tes, mata kanan saya sama sekali tak dapat membaca huruf-huruf yang ada di tembok. Huruf-huruf itu menjadi berbayang dan bayangannya tumpang tindih satu sama lain. Sehingga menciptakan bentuk baru yang tidak bisa dikenali.
Perlahan-lahan satu demi satu lensa pun diganti. Cukup sulit mencari lensa yang cocok. Dan setelah didapat lensa yang dirasa cocok, saya pun disuruh untuk berjalan dengan mengenakan kacamata ujicoba tersebut.
Setelah itu, saya pindah ke tempat dokter. Ada dua Dokter.Dokternya cowok dan masih muda. Mungkin mereka dokter internship atau semacamnya. Yah, tak apalah, yang penting dokter.Tapi entah menapa, saya kok tiba-tiba merasa hilang antusias. Tampang dokter laki-laki itu bikin saya kesal, bete dan eghhh.. sok ganteng. Hahahaha.. Sebenarnya saya cukup kecewa, karena saat di ruang tunggu pendaftaran, yang berseliweran adalah dokter-dokter wanita yang kurang lebih sebaya sama saya. Hehehe.. Tapi mengapa saat di ruangan malah jauh beda dari yang saya harapkan. Hmmm.. Ok.. Bagaimanapun pemeriksaan harus terus berlanjut.
Dokter memeriksa saya denga menyalakan semacam senter. Selain itu, dokter menggunakan semacam penggaris dan alat satu lagi yang saya tidak tahu namanya.
Setelah pemeriksaan selesai, acara pun dilanjutkan dengan sesi konsultasi. Dari pemeriksaan yang dilakukan, akhirnya didapatkan hasil bahwa semua mata saya minus 1/4 dan mata kanan terdapat silinder 0.5 axis 170 derajat. Saya bertanya pada dokter apakah saya harus menggunakan kacamata. Si dokter menjawab, jika saya merasa terganggu dengan kondisi ini sebaiknya saya menggunakan kacamata. Kemudian saya bertanya lagi apakah jika tidak menggunakan kacamata minus dan silindernya akan bertambah. Dokter menjawab bahwa dengan mengenakan kacamata setidaknya akan memperlambat kenaikan minus atau silinder yang kita alami. Dan ada banyak pertanyaan lainnya yang saya tanyakan ke sang dokter.
Yah, akhirnya saya putuskan untuk membuat kacamata. Pertimbangannya, kelainan mata ini membuat saya terganggu. Selain sakit kepala yang sering muncul, saya juga sering dibilang sombong gara-gara setiap bertemu di jalan saya tak pernah menyapa dan cenderung cuek padahal melihat orang itu duluan. Padahal, saya memang benar-benar tak lihat. :'(
![]() |
| Mata normal |
![]() |
| Mata silinder. Seperti inilah penglihatan saya dengan mata kanan tanpa kacamata. Objek tidak jelas karena berbayang |
Alasan berikutnya, saya tak mau silinder saya bertambah-tambah. Apalagi dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Oya, terakhir saya periksa mata di optik saat kuliah S1 dulu adalah mata kanan minus 0.25 dan mata kiri normal. Itu artinya, ada perubahan yang cukup signifikan. Dengan silinder dan minus segini saja sudah membuat saya menderita. Apalagi kalau lebih tinggi lagi.. :'(
Dokter kemudian membuat resep yang kemudian akan saya serahkan di optik rumah sakit. Lensa dan frame nya cukup murah lho. Selain itu kualitasnya cukup bagus. (Setidaknya itu pendapat teman saya yang berkacamata saat melihat kacamata saya). Selain itu, kacamatanya jadi dalam waktu satu jam.
Well, sejak saat itu saya putuskan untuk mengenakan kacamata. Tiga hari saya pakai tanpa bongkar pasang. Hasilnya tidak ada gangguan. kecuali memang kepala yang terasa aneh gara-gara ada benda asing yang menempel. Dan penglihatan saya pun jernih. Saya benar-benar baru merasakan bahwa dunia ternyata lebih indah dari apa yang saya lihat selama ini.
Namun di hari ke empat, saya bongkar pasang kacamata terutama tiap bertemu orang-orang tertentu. Alasannya sih karena saya malu ketahuan berkacamata. Hasilnya, kepala saya benar benar sakit pada hari itu.
Yah, mungkin sudah jalannya harus pakai kacamata. Mudah-mudahan tak terlihat aneh atau semacamnya.
**
Update: Ternyata minusnya 1 untuk mata kiri-kanan.
![]() |
| Belajar PD pakai kacamata. |
Rabu, 06 November 2013
Kematian itu...
Mereka yang telah menjalaninya adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang yang biasa berbuat hal-hal baik. Artinya, butuh proses dan pembiasaan hingga akhirnya bisa timbul sifat yang selalu ingin berkorban untuk orang lain. Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan rahmat, kasih sayang, serta balasan yang jauh lebih baik kepada mereka yang rela berkorban demi orang lain.
**
Kamis, 22 Agustus 2013
Nurani

Orang mengatakan bahwa sulit membedakan antara yang haq dan yang batil. Tentu saja sulit jika menggunakan kacamata kerongkongan, perut, selangkangan, dan kacamata jasmani lainnya.
Tuhan menganugrahkan kita nurani. Yang dengannya kita bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Seperti halnya indera kita yang bisa membedakan antara manisnya siklamat dan gula aren, serta kuningnya tartrazin dengan kunyit.
Nurani kita selalu bicara setiap kita melakukan sesuatu yang batil. Ketika kita mencoba berbohong, bergosip, menipu, mencuri, memakan harta yang haram, korupsi dll, ia akan membuat dada kita berdebar kencang, terkadang kita berkeringat dingin. Nurani merespon dengan membuat kita merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuh kita sendiri. Tapi sayang, tak sedikit orang yang mengabaikan jeritan nurani atau malah mematikannya.
Seiring dengan berjalannya waktu, perbuatan-perbuatan itu pun dianggap wajar, tubuh dipaksa membiasakan diri dengan perbuatan buruk ataupun menyerap zat-zat dari harta-harta haram. Sebagaimana tubuh beradaptasi terhadap benda-benda asing yang masuk kedalam tubuh. Efeknya memang bukan sekarang, tapi pasti akan terjadi. Tahukah kita bahwa sebenarnya perlu bertahun-tahun untuk terjadi serangan jantung, stroke, diabetes, ginjal, kanker dan penyakit-penyakit orang kaya lainnya. Penyakit-penyakit itu memang datang seperti mendadak, namun tanpa disadari, kita sendirilah yang memelihara mereka selama bertahun-tahun.
Semua ada prosesnya. Mau ke surga ada prosesnya, mau ke neraka pun juga ada prosesnya. Jadi orang baik penuh resiko, tapi jadi orang jahat pun tak kalah banyak resikonya. Bedanya, hal-hal baik mengandalkan nurani dan akal sehat. Sedangkan hal-hal buruk mengandalkan nafsu.
Orang bilang, untuk jadi sehat itu mahal, tapi mereka lupa berpikir bahwa untuk jadi orang penyakitan jauh lebih mahal. Sebagai contoh, air putih itu baik untuk kesehatan bahkan seringkali kita mendapatkannya secara gratis. Namun kenyataannya lebih banyak orang yang memilih Jus kemasan, Soda, atau pun minuman beralkohol yang tentunya jauh lebih mahal.
Dengan alasan agar terlihat modern, kita abaikan kesehatan kita. Dengan alasan supaya terlihat seperti manusia beradab, kita paksakan otak kita menerima ideologi dan teori antah barantah dengan mengabaikan nurani.
Kita memaksa diri kita untuk menerima teori mengenai inflasi. Lalu dengan gampangnya kita menghina seseorang dengan kata-kata bodoh karena orang itu protes mengenai kenaikan harga dan membanding-bandingkan harga 15 tahun yang lalu dengan harga-harga sekarang. Padahal Sebenarnya hati kita juga ikut menjerit memikirkan pengaturan keuangan ke depan. Sedangkan kita sendiri tidak berbuat apa-apa ketika tetangga kita kelaparan ataupun cuek bebek ketika makin banyak janda2 tua renta yang menjadi pengemis. Kita tidak berbuat apa-apa karena kita meyakini bahwa menurut teori ekonomi yang kita yakini, hal ini wajar terjadi.
Contoh lain adalah ketika kita anti dengan homoseksual, namun supaya terlihat modern dan berpendidikan, kita paksakan diri kita memaklumkan tindakan-tindakan kaum luth tersebut.
===
Perbuatan buruk yang dipropagandakan sebagai hal yang baik, dimaklumkan sebagai hal yang biasa, dan dianggap wajar oleh masyarakat banyak, tetap saja merupakan perbuatan buruk.
Seringkali orang yang melakukan perbuatan2 buruk nasibnya "lebih baik" dari orang selalu menjaga dirinya. Tak perlu risau, bisa jadi itu adalah Istijrad (siksa yang ditunda). Ditunda sampai kapan? entahlah. Yang pasti, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan saat itulah pengadilan yang sesungguhnya akan digelar. Semua akan diadili dengan seadil-adilnya Termasuk Koruptor yang lolos dari hukuman dunia, Petugas KPK, Hakim Agung, Tukang begal, Polisi, Politisi, Pegawai Bank, Wartawan, Karyawan Oil Company, Dosen, Mahasiswa, Petani, Ibu rumah tangga, PNS, Kyai, Ustadz, Yang menulis tulisan ini, dan semua makhluk hidup sejagad.
Seperti halnya kampanye back to nature yang digadang oleh para praktisi diet, mungkin kita juga perlu merestorasi diri dan sikap untuk kembali kepada fitrah kita sesungguhnya. Membuka mata hati, melihat ke sekitar, dan melakukan apa yang nurani kita katakan.
==
Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
(QS Fathir:8)
Bdg, 23-8-13
Senin, 29 Oktober 2012
Konflik di Lampung, Sampai kapan akan berakhir?
Rabu, 18 Januari 2012
Pasar Tradisional, dalam ingatan dan realita
Rabu, 12 Januari 2011
Cahaya langit Harapan
'
Akhir-akhir ini semua terasa begitu kelabu.
Semua terasa, seakan-akan sekeras apapun ikhtiar yang saya lakukan, hari-hari kelam akan selalu melingkupi.
Saya bukannya apriori. Tapi kali ini, bukan lagi sekadar hidup dengan optimis atau pesimis, bukan lagi sekedar dua hal itu. Ini tentang kenyataan yang ada. Realitas yang saya harus hadapi. Dan Mendung ditambah cuaca ektstrim beberapa hari ini membuat perasaan makin dramatis.
Di saat seperti inilah saya butuh hangatnya cahaya semangat. Sehangat cahaya matahari di pagi yang cerah. Yang sejak bertahun-tahun lalu membuat saya optimis memandang masa depan. Semangat yang menjadi penambah energi saya untuk berjalan kaki ke kampus hingga kini, tanpa komplain.
Dimana Semangat itu?, Semangat yang saya butuhkan untuk tetap bertahan di tengah situasi ini. Sekeras apapun, Sesulit apapun, Sesakit apapun, Sesedih apapun, cahaya itu tak boleh padam.. Karena jika cahaya itu padam, maka semuanya akan menjadi benar-benar Gelap, Semua hitam.
Yah,, memang terdengar apa yang saya katakan seperti melantur. Tapi saya yakin, ini merupakan hal yang relevan. Dan saat ini saya perlu meng-Ekskresikan, meluapkan dan mengeluarkan apa-apa yang saya rasakan. Suasana kelam yang mencekam dan membuat berdiri bulu tengkuk ku akhir-akhir ini. Mereka datang secara diam-diam. Menelusup ke dalam tubuh dan berkembangbiak di tiap sel yang ada. Sehingga pikiran saya makin gelap.
Bahkan ketika saya merasa semuanya akan baik-baik saja. Dan saya katakan pada diri saya, bahwa "semua akan baik-baik saja dan semua akan berakhir baik". Saya merasa bahwa semua tidak akan sebaik yang saya harapkan.
Bahkan saya tidak bisa lagi berpikir optimis, tidak juga pesimis. Saat ini semuanya terasa samar, tak terbaca, dan membuatnya makin menakutkan. Realitas yang paling nyata akan kehidupan yang sebenarnya.
Seperti halya Iman, Optimisme pun fluktuatif. Kadang Kurva ekspektasi melonjak begitu tajam, atau bahkan tren nya menurun seketika.
===
Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi.
Ungkapan imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan belakangan ini. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak "bertanya" mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.
Mungkin saya mesti menambah energi ekstra untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal. Dan yang perlu saya camkan barangkali, bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.
Dengan kata lain, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak saya, pastinya adalah yang menyenangkan dan baik untuk saya (dalam kacamata saya).
Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah "paksakan" bagi diri saya. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita? (dan mungkin kalimat inilah yang perlu saya camkan).
Pokoknya, hidup adalah pilihan. Dan Saya telah mengambil keputusan, dari banyak pilihan yang ada. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang saya bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana saya memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.
Ada ikhtiar ada Tawakkal.. setelah iktiar maksimal terserah Dia mau seperti apa saya pada akhirnya.
Saya selalu berdoa agar saya tidak salah memilih dalam mementaskan hidup. Semoga saya Tetap Optimis dengan Keputusan yang pernah saya ambil. Dan konsisten dengan bara semangat yang saya genggam, yang dulu sempat membakar dengan nyalanya.
Untuk mereka yang saya cinta.
>> Kampung Baru, 12-1-2011 pkl 24.00
+ Untuk harapan orangtua thd saya
+ Untuk tanggung jawab saya thd masa depan saya
+ Untuk keputusan saya yang saya ambil beberapa tahun lalu.
+ Dan untuk perasaan saya thd seseorang.
,









