Tampilkan postingan dengan label aku dan sekitar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku dan sekitar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Tentang Pengabdian

Ada doa yang selalu saya panjatkan setiap kali saya berdoa pada Sang Khalik. Doanya sederhana, "Ya Allah, jadikanlah saya orang yang dapat bermanfaat bagi orang banyak". Terdengar sederhana, klise, dan bagi sebagian orang mungkin terlihat bullshit. Tapi ini sangat penting bagi saya. Mengapa ini penting? Karena hingga kini, saya percaya bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Cerita kali ini bukan tentang saya, melainkan cerita mengenai orang yang saya temui ketika saya mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK) 55 LPDP beberapa waktu lalu. Sangat inspiratif! Cerita mereka semakin membuat saya yakin bahwa masih banyak orang-orang yang bekerja tanpa pamrih demi orang lain. 

Namanya Deddy Riangga Simanjuntak, Orang Batak kelahiran Jakarta. Karena sukunya, Saya memanggilnya Bang Deddy, seperti halnya panggilan yang saya sematkan kepada orang lain begitu saya mengtahui bahwa yang bersangkutan adalah orang dari Sumatera. Bang Deddy adalah seorang dokter lulusan Universitas Indonesia. Pertama kali saya berinteraksi dengan bang Deddy adalah melalui aplikasi obrolan Telegram. Ketika itu, saya terlibat dalam tugas PK di Bidang Pelayanan Kesehatan sebagai asisten dokter yang tugasnya adalah memastikan perlengkapan tersedia saat hari H.    

Orangnya baik dan ramah. Sikap yang meruntuhkan persepsi saya tentang orang-orang lulusan kedokteran. Sebenarnya bukan hanya karena bang Deddy, ada juga dr. Adit, dr. Levana, dan dokter-dokter lain penerima beasiswa dokter spesialis LPDP yang seangkatan dengan saya. Stereotipe bahwa semua lulusan kedokteran itu kaku, hedon, dan angkuh, langsung pupus seketika saat bertemu mereka. Cerita tentang teman inspiratif lainnya insyaaAllah akan saya tulis di kesempatan yang berbeda.

Saat saya menulis ini, bang Deddy tengah tugas di Papua, tepatnya Kabupaten Mamberamo Tengah. Sebuah daerah terpencil di ujung timur Indonesia. Ada cerita menarik dari beliau ketika sedang mengerjakan tugas Pra-PK. Tugas Pra-PK sendiri adalah tugas bejibun yang harus diselesaikan sebelum mengikuti PK. Tugasnya ada banyak, terlalu banyak bagi saya pribadi. Terlebih bagi yang sedang bekerja. Yang harus curi-curi waktu di sela jam kerja, atau terpaksa mengurangi waktu istirahat di rumah demi selesainya tugas Pra-PK. Namun demikian, pada akhirnya kami sadar bahwa ternyata tugas Pra-PK itu akan sangat berguna ketika kelak mengikuti PK dan Pasca PK -salah satunya adalah untuk membuka rekening tabungan-. Tugas-tugas tersebut harus diselesaikan dengan tenggat waktu tertentu dan harus dikirim via surel.

Bang Deddy bertugas di salah satu puskesmas terpencil yang ditempuh kira-kira 2 jam perjalanan dari kantor Pemkab. Dengan kondisi demikian, bisa ditebak seperti apa keterbatasan akses terhadap dunia luar terutama internet. Selama mengerjakan tugas Pra-PK, Bang Deddy harus ke kantor Pemkab untuk mengunduh daftar tugas, lalu pulang ke mess untuk mengerjakan tugas, dan kembali lagi ke Kantor Pemkab untuk mengirim tugas. Ribet? tentu saja iya. Tapi jujur, saya merasa bersalah terhadap diri sendiri yang sering mengeluh ketika mengerjakan tugas Pra-PK, sementara dari segi aksesibilitas dan fasilitas, keadaan saya jauh lebih baik dari bang Deddy.

Suatu hal yang saya salut dari bang Deddy adalah niat dan tekadnya untuk mengabdi di Papua. Bayangkan, betapa mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan untuk lulus menjadi seorang dokter. Tapi setelah lulus, lantas pergi begitu saja. Pergi ke suatu tempat yang jika tujuan utamanya adalah untuk balik modal dalam waktu singkat merupakan sesuatu yang agak mustahil. Yang jelas, persepsi Saya sebelumnya mengenai orang-orang dengan profesi mulia ini terlalu berlebihan, karena Saya hanya membandingkan sedikit sampel yang sikap mereka sangat bertolak belakang dengan dokter-dokter baik yang saya temui. Sedikit sampel yang membuat saya mengeneralisasi secara keseluruhan, dan terbukti salah.

Saya bertanya kepada bang Deddy tentang alasan dia memilih jalan tersebut. Jawabannya sederhana, dia ingin mengabdi kepada orang-orang yang memang sangat membutuhkan tenaga kesehatan. Selain itu, jiwa petualang-nya mungkin ikut andil ketika dia mengambil keputusan tersebut. Saya kemudian bertanya tentang banyak hal; mengenai suka-duka, dan tanggapan keluarga. Perbincangan dengan dokter yang akan melanjutkan studi master di Johns Hopkins University di hari penutupan PK itu kemudian membuka pikiran saya mengenai arti pengabdian secara lebih luas. Kehidupan modern yang cenderung materialistis mungkin telah membutakan mata hati kita untuk melihat bahwa pada dasarnya masyarakat masih membutuhkan karya kita untuk membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik di bidang apapun sesuai dengan bidang keahlian kita. Sekecil apapun andil Kita terhadap masyarakat, tentu lebih baik ketimbang sekadar melakukan pencitraan di media sosial.

Masyarakat membutuhkan kerja nyata dari kita, kerja konkret yang manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka. Tidak banyak orang-orang yang mampu menempuh pendidikan hingga level universitas apalagi hingga lulus S2. Jika setelah lulus kuliah kita lebih memilih bekerja di perusahaan asing atau perusahaan apapun yang menawarkan gaji besar dan fasilitas yang serba wah, lantas kemana lagi saudara-saudara kita yang membutuhkan berharap? Mereka yang tidak bisa membayar kecuali dengan ucapan terima kasih dan doa yang tulus. Saya sama sekali tidak mempersalahkan apakah lebih baik bekerja di bidang A atau bekerja di bidang B, untuk C atau untuk D. Karena bagaimanapun hal tersebut adalah ranah pribadi. Semua orang pasti memiliki preferensi tersendiri terhadap pilihan mereka. Dan kembali lagi, semua pekerjaan itu baik selama tidak melanggar hukum agama dan negara. Namun yang jelas, di mana pun kita bekerja, pastikan karya kita dapat bermanfaat bagi orang banyak.


Bandung, 18 Februari 2016

Dari dokumentasi pribadi Bang Deddy





Kamis, 22 Oktober 2015

Menghadiri Resepsi Pernikahan Mbak Titik

Lendah, Kulon Progo. Sebuah daerah yang berada pada jalur Pengunungan Menoreh yang dikenal sebagai daerah karst. Lapisan tanah di sini sangat tipis, yang melapisi kapur tebal di bawahnya.
Di beberapa lokasi, lapisan kapur tesingkap. Beberapa anak (mungkin) jurusan geologi terlihat sedang melakukan penelitian.

Dengan kondisi demikian, maka dapat dipastikan bahwa daerah ini adalah daerah kering, apalagi di musim kemarau. Wajar jika di sini penduduknya sedikit dan aktivitas ekonomi tidak begitu menggeliat. Plang dan marka jalan di sini memperlihatkan bahwa tempat ini juga beberapa kali menjadi lokasi KKN mahasiswa UGM.

Namun demikian, orang-orang di sini ternyata punya optimisme tinggi. Meskipun di musim kemarau seperti sekarang, orang-orang di sini tetap bercocok tanam. Air yang digunakan untuk menyiram tanaman berasal dari sumur di tengah kebun/sawah. Di permukaan memang kering kerontang, tapi di kedalaman tertentu terdapat sungai bawah tanah yang mengalir.

Optimisme dan sikap pantang menyerah yang sama juga dimiliki oleh mbak yang akan saya temui di hari itu. Meskipun berasal dari daerah pelosok, jarak rumah tetangga sangat jauh dan sulit dijangkau oleh kendaraan umum, Mbak Titik, begitu saya memanggilnya, berhasil lulus dari Geofisika UGM, bekerja di BMKG, Cum laude S2 ITB, dan yang paling membahagiakan adalah menikah setelah lika-liku perjalanan cinta yang rumit.

Yogyakarta, 13 September 2015
Lendah, Kulonprogo. Bukit latar belakang adalah bukit kapur.

Jadi Orang Jawa, Hehehehe

Selasa, 21 Oktober 2014

Harus Pakai Kacamata

Hari itu akhirnya saya putuskan untuk periksa mata di Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo.

Sudah lama saya merasakan gangguan di penglihatan mata saya. Namun belakangan rasanya makin parah.  Selain benda yang terlihat membayang, saya juga sering mengalami sakit kepala. Apalagi saat sedang berada di Ciwalk Mall, lantainya yang bergaris makin membuat kepala saya nyut-nyutan. Oya sebelumnya saya juga merasa pusing setiap menyetrika kemeja yang berstrip garis.

Lantai Ciwalk. Setiap kali berjalan di sini kepala saya pening dan garis-garisnya seperti berdenyut.


Besar curiga saya bahwa mata saya sedang bermasalah. Sebenarnya saya ingin memeriksakan mata saya sejak saya duduk di bangku kuliah S1 dulu. Namun karena alasan biaya membuat kacamata yang cukup mahal untuk ukuran saya saat itu, maka niat tersebut saya urungkan. Mitos yang saya percayai bahwa orang yang berkacamata itu pintar membuat saya makin enggan mengenakan kacamata. Saya tidak pintar, jadi saya pikir, saya tidak perlu mengenakan kacamata. Kacamata hanya untuk orang-orang pintar, untuk orang-orang yang sering baca buku, dan orang-orang yang sering berkutat mengerjakan rumus-rumus  Hehehe.. mitos yang benar-benar menyesatkan.
Akhirnya suatu pagi ketika bangun tidur, entah dapat ilham dari mana yang jelas saya harus periksa mata. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat browsing-browsing mengenai tempat periksa mata dan harga kacamata. Dan seperti yang saya katakan di awal, Saya pun memutuskan untuk periksa mata di RS Mata Cicendo. Alasannya sederhana, pertama murah, dan yang kedua ditangani langsung oleh dokter mata. Saya belum berani periksa mata di optik. Karena yang memeriksa adalah pelayan toko yang belum tentu hasil diagnosisnya bagus. Bagi saya urusan mata bukanlah hal yang sepele.

Saya berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Karena berdasarkan artikel-artikel yang saya baca di internet, antriannya akan sangat mebludak. Bahkan beberapa orang sampai membatalkan pemeriksaannya gara-gara tidak tahan menunggu berjam-jam.

Saya tiba di rumah sakit pukul 07.14 dan langsung mengambil nomor antrian.  Dan Huffftt... saya dapat nomor antrian 109. Yah, akhirnya saya memang perlu menyiapkan kesabaran ekstra. Lagi pula saya sadar diri, tempat yang murah dan bagus pasti dikerubungi banyak orang. Jika ingin antriannya cepat ya harus daftar antrian VIP yang bayarannya lebih dari Rp 100ribu. -___- Saya hanya berdoa mudah-mudahan semuanya selesai sebelum Jumatan.

Nomor antrian.


Dua jam kemudian nama saya dipanggil. Setelah membayar uang pendaftaran sebesar Rp 25rb, saya pun diarahkan untuk ke ruang refraksi. Sesampainya di sana, saya pun  harus kembali menunggu kurang lebih setengah jam.

Dan ini dia, nama saya akhirnya dipanggil. Untuk pemeriksaan awal, mata saya diperiksa dengan alat yang biasa terdapat ada di optik. Karena mbak-mbak yang periksa mata saya itu masih newbie, akhirnya pemeriksaan dilakukan dua kali. Dan untuk yang kedua, pemeriksaan diawasi oleh perawat yang senior.

Setelah itu, saya pindah ke tempat lain. Di sana saya disuruh mengenakan kacamata yang lensanya dapat diganti-ganti. Selain itu, kacamatanya juga diberi lubang yang kecil untuk melihat. Dan astaghfirulloh.. saat yang mata kanan saya yang di tes, mata kanan saya sama sekali tak dapat membaca huruf-huruf yang ada di tembok. Huruf-huruf itu menjadi berbayang dan bayangannya tumpang tindih satu sama lain. Sehingga menciptakan bentuk baru yang tidak bisa dikenali.

Perlahan-lahan satu demi satu lensa pun diganti. Cukup sulit mencari lensa yang cocok. Dan setelah didapat lensa yang dirasa cocok, saya pun disuruh untuk berjalan dengan mengenakan kacamata ujicoba tersebut.

Setelah itu, saya pindah ke tempat dokter. Ada dua Dokter.Dokternya cowok dan masih muda. Mungkin mereka dokter internship atau semacamnya. Yah, tak apalah, yang penting dokter.Tapi entah menapa, saya kok tiba-tiba merasa hilang antusias. Tampang dokter laki-laki itu bikin saya kesal, bete dan eghhh.. sok ganteng. Hahahaha.. Sebenarnya saya cukup kecewa, karena saat di ruang tunggu pendaftaran, yang berseliweran adalah dokter-dokter wanita yang kurang lebih sebaya sama saya. Hehehe.. Tapi mengapa saat di ruangan malah jauh beda dari yang saya harapkan. Hmmm.. Ok.. Bagaimanapun pemeriksaan harus terus berlanjut.

Dokter memeriksa saya denga menyalakan semacam senter. Selain itu, dokter menggunakan semacam penggaris dan  alat satu lagi yang saya tidak tahu namanya.

Setelah pemeriksaan selesai, acara pun dilanjutkan dengan sesi konsultasi. Dari pemeriksaan yang dilakukan, akhirnya didapatkan hasil bahwa semua mata saya minus 1/4 dan mata kanan terdapat silinder 0.5 axis 170 derajat. Saya bertanya pada dokter apakah saya harus menggunakan kacamata. Si dokter menjawab, jika saya merasa terganggu dengan kondisi ini sebaiknya saya menggunakan kacamata. Kemudian saya bertanya lagi apakah jika tidak menggunakan kacamata minus dan silindernya akan bertambah. Dokter menjawab bahwa dengan mengenakan kacamata setidaknya akan memperlambat kenaikan minus atau silinder yang kita alami. Dan ada banyak pertanyaan lainnya yang saya tanyakan ke sang dokter.

Yah, akhirnya saya putuskan untuk membuat kacamata. Pertimbangannya, kelainan mata ini membuat saya terganggu. Selain sakit kepala yang sering muncul, saya juga sering dibilang sombong gara-gara setiap bertemu di jalan saya tak pernah menyapa  dan cenderung cuek padahal melihat orang itu duluan. Padahal, saya memang benar-benar tak lihat. :'(



Mata normal
Mata silinder.
Seperti inilah penglihatan saya dengan mata kanan tanpa kacamata. Objek tidak jelas karena berbayang


Alasan berikutnya, saya tak mau silinder saya bertambah-tambah. Apalagi dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Oya, terakhir saya periksa mata di optik saat kuliah S1 dulu adalah mata kanan minus 0.25 dan mata kiri normal. Itu artinya, ada perubahan yang cukup signifikan. Dengan silinder dan minus segini saja sudah membuat saya menderita. Apalagi kalau lebih tinggi lagi.. :'(

Dokter kemudian membuat resep yang kemudian akan saya serahkan di optik rumah sakit. Lensa dan frame nya cukup murah lho. Selain itu kualitasnya cukup bagus. (Setidaknya itu pendapat teman saya yang berkacamata saat melihat kacamata saya). Selain itu, kacamatanya jadi dalam waktu satu jam.

Well, sejak saat itu saya putuskan untuk mengenakan kacamata. Tiga hari saya pakai tanpa bongkar pasang. Hasilnya tidak ada gangguan. kecuali memang kepala yang terasa aneh gara-gara ada benda asing yang menempel. Dan penglihatan saya pun jernih. Saya benar-benar baru merasakan bahwa dunia ternyata lebih indah dari apa yang saya lihat selama ini.

Namun di hari ke empat, saya bongkar pasang kacamata terutama tiap bertemu orang-orang tertentu. Alasannya sih karena saya malu ketahuan berkacamata. Hasilnya, kepala saya benar benar sakit pada hari itu.

Yah, mungkin sudah jalannya harus pakai kacamata. Mudah-mudahan tak terlihat aneh atau semacamnya.

**
Update: Ternyata minusnya 1 untuk mata kiri-kanan.


Belajar PD pakai kacamata.



Rabu, 06 November 2013

Kematian itu...


Hari ini, saya dapat kabar duka lagi. Dan lagi-lagi dari orang yang usianya tak jauh berbeda, sama-sama angkatan 2007 saat kami masuk kuliah.  Padahal, baru seminggu kemarin, saya dapat kabar bahwa adik tingkat saya yang satu jurusan di S1 meninggal dunia. Dan beberapa minggu sebelumnya, saya juga mendapat kabar bahwa adik tingkat  saya di almamater  yang sama meninggal dunia. Penyebabnya pun beragam. Ada yang tenggelam, sakit, dan meninggal begitu saja ketika tidur.

Kejadian yang beruntun ini, kembali mengingatkan saya bahwa kematian itu memang sangat dekat.  Sedekat udara yang kita hirup dan yang kita hembuskan. Ia selalu bersama dengan kita dengan mengikuti ritme aliran darah yang dipompa jantung. Kematian baru akan berhenti mengikuti di saat kita telah mati dan menjadi bagian dari kematian itu sendiri. Bersamaan dengan berhentinya hembusan nafas dan sirkulasi darah.

Saya sempat berpikir bahwa  mungkin kematian itu sederhana. Nafas berhenti dan detak jantung berhenti. Setelah itu kita tidak akan merasakan apa-apa lagi, dikubur, dan kita tidak memiliki urusan lagi dengan apapun itu di dunia ini. Mungkin rasanya akan sama seperti sebelum kita lahir ke dunia ini. Tidak merasakan apa-apa, hampa dan kosong. Sederhana bukan? Bukankah kita baru tahu bahwa kita ini manusia hidup setelah setahun atau dua tahun setelah kita dilahirkan?. 

Tapi ternyata, kematian tidaklah sesederhana itu. Ia begitu kompleks, dan begitu sulit dipahami terutama mengenai kapan ia akan datang. Dan ketika ia datang, apakah kita sudah siap? Sayangnya, entah siap atau tidak, kita tidak bisa mengelak. Kita tidak bisa memajukan ataupun memudurkan meskipun satu detik.

Kematian melibatkan masa lalu, masa ketika mengalami proses kematian, dan pasca kematian.  Kematian adalah perkara ghaib dan misterius. Meskipun ilmu pengetahuan telah dapat mengetahui dan menjelaskan penyebab kematian, entah karena penyakit atau kecelakaan, namun ada banyak hal dari kematian yang hingga kini masih misteri –ini menurut saya-. Sebagai orang yang beragama, saya percaya sepenuhnya dengan apa yang diajarkan agama saya mengenai kematian dan kehidupan setelah kematian. Saya tidak mau menerka-nerka lebih jauh lagi mengenai hal-hal ghaib seputar kematian karena saya memang tidak tahu apa-apa. Cukup agama menjadi pegangan saya ketika menyinggung kematian dan kehidupan pasca kematian.

Kematian di usia muda yang beruntun dalam beberapa minggu ini, kembali mencuatkan rasa kepo saya. Jika seandainya malaikat maut menjemput saya hari ini, apakah ada ilmu yang telah saya tinggalkan? Adakah hal yang membuat orang bisa ingat bahwa saya pernah hidup? Apakah hidup saya sudah bermanfaat untuk orang lain? Apakah dengan lahirnya saya ke dunia ini telah memberikan pengaruh baik terhadap kehidupan? paling tidak terhadap orang-orang di lingkungan saya?  Adakah amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir  hingga saya meninggal dunia?

Sejenak saya terdiam dan bermuhasabah diri, sambil mencari-cari jawaban atas pertanyaan rasa kepo saya.  Saya buka file-file yang tersimpan dalam server otak saya, berharap segera mendapatkan jawabannya. Dan hasilnya, saya tidak menemukan apa-apa. Sungguh, airmata ini tanpa diperintah,langsung meyembul dari sudut mata dan perlahan merembes. Ternyata hingga saat ini saya memang belum menjadi apa-apa dan belum berbuat apa-apa. Saya jadi makin malu pada diri sendiri.

Saya selalu kagum dengan Nabi Muhammad, hingga 14 abad semenjak wafatnya, ajarannya masih dipeluk oleh > 1,4 Miliar manusia, Alkhawarizmi yang ilmu algoritmanya masih dipakai hingga sekarang, Isaac Newton yang hukum-hukumnya masih dipelajari, Thomas Alva Edison yang penemuannya masih bisa menerangi rumah di malam hari, serta masih banyak lagi orang—orang  yang telah tiada, namun karya mereka masih bermanfaat untuk umat manusia. Dan hingga kini saya masih menjadi pengagum mereka namun saya belum bisa menjadi seperti mereka. Mudah-mudahan nama saya kelak bisa berdampingan dengan nama-nama orang yang telah memberikan manfaatnya kepada dunia.

Saya terkadang iri dengan mereka yang rela mengorbankan diri mereka demi orang lain. Ada banyak kisah nyata yang terjadi di sekitar saya. Ada seorang ibu yang rela mengorban dirinya untuk melindungi bayinya dari reruntuhan bangunan ketika gempa. Seorang pemimpin organisasi kemahasiswaan yang akhirnya meninggal karena berusaha menyelamatkan anggotanya. Seorang sahabat yang lapar namun lebih memilih memberikan makanan yang ia miliki kepada temannya. Seorang guru yang ikhlas mengajar meski dihimpit oleh berbagai keterbatasan. Dan seorang ayah yang selalu berkata “kamu jangan pikirkan mengenai uangnya, ayah akan selalu berusaha demi kamu”.

Terkadang, kita dihadapkan pada suatu pilihan yang benar-benar sulit. Pilihan yang sampai mempertaruhkan nyawa dan kepentingan kita sendiri bila kita jalani atau penyesalan seumur hidup jika kita abaikan. Mengenai pilihan mana yang akan kita ambil, itu kembali pada pribadi masing-masing.

Mereka yang telah menjalaninya adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang yang biasa berbuat hal-hal baik. Artinya, butuh proses dan pembiasaan hingga akhirnya bisa timbul sifat yang selalu ingin berkorban untuk orang lain. Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan rahmat, kasih sayang, serta balasan yang jauh lebih baik kepada mereka yang rela berkorban demi orang lain.


**

Kembali ke masalah kematian. Sungguh saya selalu berharap ketika kematian itu datang, ada kontribusi positif yang telah saya lakukan. Entah itu kepada masyarakat luas, ataupun orang-orang di sekitar saya. Meskipun itu bukanlah hal yang besar, paling tidak ada saya telah melakukan sesuatu demi orang lain dan hadirnya saya di dunia ini bukan sekadar omong kosong.

Tak penting seberapa panjang usia kita, yang penting adalah seberapa besar hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Orang yang paling sial adalah orang yang umurnya pendek, tapi sama sekali tak ada manfaatnya untuk orang lain.


 Bandung, 5 November 2013








Kamis, 22 Agustus 2013

Nurani


Zaman sekarang, antara haq dan yang batil telah berbaur dan tercampur aduk. Seperti adonan roti yang dicampur dengan pemanis, pengawet dan pewarna buatan. Memang rotinya enak, sedap dipandang, dan aromanya menggugah. Tetapi tetap saja berbahaya bagi tubuh.

Orang mengatakan bahwa sulit membedakan antara yang haq dan yang batil. Tentu saja sulit jika menggunakan kacamata kerongkongan, perut, selangkangan, dan kacamata jasmani lainnya.

Tuhan menganugrahkan kita nurani. Yang dengannya kita bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Seperti halnya indera  kita yang bisa membedakan antara manisnya siklamat dan gula aren, serta kuningnya tartrazin dengan kunyit.

Nurani kita selalu bicara setiap kita melakukan sesuatu yang batil. Ketika kita mencoba berbohong, bergosip, menipu, mencuri, memakan harta yang haram, korupsi dll, ia akan membuat dada kita berdebar kencang, terkadang kita berkeringat dingin. Nurani merespon dengan membuat kita merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuh kita sendiri. Tapi sayang, tak sedikit orang yang mengabaikan jeritan nurani atau malah mematikannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perbuatan-perbuatan itu pun dianggap wajar, tubuh dipaksa membiasakan diri dengan perbuatan buruk ataupun menyerap zat-zat dari harta-harta haram. Sebagaimana tubuh beradaptasi  terhadap benda-benda asing yang masuk kedalam tubuh. Efeknya memang bukan sekarang, tapi pasti akan terjadi. Tahukah kita bahwa  sebenarnya perlu bertahun-tahun untuk terjadi serangan jantung, stroke, diabetes, ginjal, kanker dan penyakit-penyakit orang kaya lainnya. Penyakit-penyakit itu memang datang seperti mendadak, namun tanpa disadari, kita sendirilah yang memelihara mereka selama bertahun-tahun.

Semua ada prosesnya. Mau ke surga ada prosesnya, mau ke neraka pun juga ada prosesnya. Jadi orang baik penuh resiko, tapi jadi orang jahat pun tak kalah banyak resikonya. Bedanya, hal-hal baik mengandalkan nurani dan akal sehat. Sedangkan hal-hal buruk mengandalkan nafsu.

Orang bilang, untuk jadi sehat itu mahal, tapi mereka lupa berpikir bahwa untuk jadi orang penyakitan jauh lebih mahal. Sebagai contoh, air putih itu baik untuk kesehatan bahkan seringkali kita mendapatkannya secara gratis. Namun kenyataannya lebih banyak orang yang memilih Jus kemasan, Soda, atau pun minuman beralkohol yang tentunya jauh lebih mahal.

Dengan alasan agar terlihat modern, kita abaikan kesehatan kita. Dengan alasan supaya terlihat seperti manusia beradab, kita paksakan otak kita menerima ideologi dan teori antah barantah dengan mengabaikan nurani.

Kita memaksa diri kita untuk menerima teori mengenai inflasi. Lalu dengan gampangnya kita menghina seseorang dengan kata-kata bodoh karena orang itu protes mengenai kenaikan harga dan membanding-bandingkan harga 15 tahun yang lalu dengan harga-harga sekarang. Padahal Sebenarnya hati kita juga ikut menjerit memikirkan pengaturan keuangan ke depan. Sedangkan kita sendiri tidak berbuat apa-apa ketika tetangga kita kelaparan ataupun cuek bebek ketika makin banyak janda2 tua renta yang menjadi pengemis. Kita tidak berbuat apa-apa karena kita meyakini bahwa menurut teori ekonomi yang kita yakini, hal ini wajar terjadi.

Contoh lain adalah ketika kita anti dengan homoseksual, namun supaya terlihat modern dan berpendidikan, kita paksakan diri kita memaklumkan tindakan-tindakan kaum luth tersebut.

===
Perbuatan buruk yang dipropagandakan sebagai hal yang baik, dimaklumkan sebagai hal yang biasa, dan dianggap wajar oleh masyarakat banyak, tetap saja merupakan perbuatan buruk.

Seringkali orang yang melakukan perbuatan2 buruk nasibnya "lebih baik" dari orang selalu menjaga dirinya. Tak perlu risau, bisa jadi itu adalah Istijrad (siksa yang ditunda). Ditunda sampai kapan? entahlah. Yang pasti, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan saat itulah pengadilan yang sesungguhnya akan digelar. Semua akan diadili dengan seadil-adilnya Termasuk Koruptor yang lolos dari hukuman dunia, Petugas KPK, Hakim Agung, Tukang begal, Polisi, Politisi, Pegawai Bank, Wartawan, Karyawan Oil Company, Dosen, Mahasiswa, Petani, Ibu rumah tangga, PNS, Kyai, Ustadz, Yang menulis tulisan ini, dan semua makhluk hidup sejagad.

Seperti halnya kampanye back to nature yang digadang oleh para praktisi diet, mungkin kita juga perlu merestorasi diri dan sikap untuk kembali kepada fitrah kita sesungguhnya. Membuka mata hati, melihat ke sekitar, dan melakukan apa yang nurani kita katakan.

==
Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
(QS Fathir:8)


Bdg, 23-8-13

Senin, 29 Oktober 2012

Konflik di Lampung, Sampai kapan akan berakhir?



Mencari spirit sumpah pemuda
Sabtu, 27 Oktober kemarin Bentrokan kembali pecah di Lampung. Kali ini, bentrok terjadi antara Etnis Lampung dari Desa Way Anom dan Etnis Bali di Desa Balinuraga. Bentrokan dipicu oleh pelecehan seksual yang dilakukan sekelompok  pemuda dari Desa Balinuraga. Awalnya, Dua gadis dari Etnis Lampung terjatuh dari motor. Namun bukannya membantu, pemuda-pemuda itu malah melakukan pelecehan. Kerusuhan ini terus berlanjut hingga tulisan ini dibuat.suatu ironi di tengah peringatan sumpah pemuda.

Kerusuhan di Lampung bukan kali ini saja terjadi. Sudah sangat sering kita mendengar  berita di media nasional mengenai kerusuhan yang terjadi.   Jika kita lihat, maka hampir seluruhnya adalah kerusuhan antar etnis. Biasanya kerusuhan antara etnis Lampung-Jawa, Lampung-Sunda, Lampung-Bali ataupun Lampung-Jawa+Bali.

Akar permasalahan di Lampung dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Terutama ketika dimulainya Kolonisasi Jawa di Lampung pada zaman Belanda.  Kemudian program kolonisasi ini terus dilanjutkan hingga zaman kemerdekaan, kali ini istilahnya diganti dengan nama transmigrasi. Hingga kini arus pendatang pun terus mengalir deras baik karena alasan pekerjaan,  pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus, atau bahkan lewat penyerobotan tanah. Sayangnya, program kolonisasi/migrasi penduduk ini dilakukan tanpa adanya pemahaman budaya lokal oleh pendatang. Akhirnya, perbedaan-perbedaan ini menimbulkan gesekan-gesekan yang terkadang menimbulkan percikan api, bahkan sampai membara antara penduduk lokal dan pendatang.

Kerusuhan di Lampung akan selalu ada jika benih-benih kecurigaan masih tertanam antara Etnis-etnis tersebut. Apalagi sikap primodial yang makin mengkristal di masing-asing etnik. Sayangnya, hingga kini tidak ada usaha yang serius dari pemerintah untuk menghentikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan mungkin mengancam integrasi bangsa. Pemerintah hanya bisa memasang spanduk-spanduk bertuliskan DAMAI ITU INDAH di semua sudut tempat. Bahkan Spanduk-spanduk itu sebenarnya bukan dibuat oleh pemda/pemkab, melainkan oleh seorang petinggi TNI di Lampung yang katanya sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur.

Terdiskriminasi di tanah sendiri
Hingga kini, Bom waktu itu masih terus aktif. Itulah yang saya rasakan ketika saya masuk ke salah satu komunitas etnis. Saya orang Lampung, dan saya tahu apa yang orang Lampung pikirkan terhadap pendatang. Diskriminasi dan Labeling yang buruk selalu diarahkan terhadap orang Lampung. Di SMA saya dulu, kami sering  diperlakuan yang buruk secara psikis. Hanya karena kami orang Lampung dan berasal dari desa yang mayoritasnya orang Lampung.

Saya sangat ingat ketika itu kami sedang menunggu angkot untuk pulang. Lalu datang guru dan menayakan asal kami. Begitu kami menyebutkan nama desa kami, bukannya ngobrol/basa-basi selayaknya guru & murid, tapi guru itu langsung mengata-ngatai kami dengan sangat kasarnya (tak perlu saya sebutkan kata-kata yang mengerikan itu) bukan hanya guru itu,melainkan beberapa oknum guru juga berlaku demikian. Padahal ketika itu ,anak dari daerah kami lah yang selalu mendapat juara umum di sekolah. Perilaku Rasis itu saya rasakan dari saya SD  sampai saya lulus kuliah. Parahnya, pelaku-pelaku rasis itu tak pernah sadar bahwa mereka telah melakukan tindakan rasisme. Dan yang sangat disayangkan, kebanyakan pelaku-pelaku rasis itu adalah oknum pendidik, pejabat dan mahasiswa yang seharusnya bisa berpikir lebih rasional dan objektif. Ketika terjadi konflik, maka orang Lampung selalu disalahkan oleh orang-orang intelek ini, tanpa pernah mereka melihat pemicu konflik. Kalaupun mencari tahu, mereka hanya mencari tahu hanya dari sisi etnis nonLampung.

Adik-adik saya juga pernah mengalami hal yang sangat rasis seperti itu. Saat itu, di tempat mengaji mereka, terjadi perselisihan antara anak-anak. Kebetulan yang berselisih itu adalah anak Lampung dan anak dari etnis lain. Sayangnya, sang ustad bukannya melerai, tapi malah ikut menghina orang Lampung dengan kata yang tak sepantasnya diucapkan oleh sang guru mengaji. Adik-adik sayapun diberhentikan dari tempat mengaji itu.

Dicitrakan dengan sangat buruk
Teman saya dari Medan bercerita pada saya, bahwa ketika dia baru sampai Lampung,  pamannya berpesan “Jangan bergaul dengan orang Lampung karena orang Lampung itu Barbar.” Tapi apa yang pamannya katakan itu langsung pupus dari pikirannya ketika ia kenal saya yang notebane orang Lampung. Cerita-cerita tentang betapa Barbarnya orang Lampung semakin terdengar ketika saya tinggal di Kampung yang mayoritas penduduknya adalah Etnis yang kini paling dominan di Indonesia.  Cerita-cerita bahwa orang Lampung adalah Begal, penjarah, pencuri, pembunuh, preman, tukang palak, dan segala pelaku kejahatan lainnya sampai hampir muntah saya dengar. Saya orang Orang Lampung dan tinggal di kampung yang mayoritasnya orang Lampung, tapi saya tidak pernah menemukan apa yang membuat mereka paranoid di kampung saya.

Orang-orang pendatang menyebut perkampungan orang Lampung sebagai daerah Texas. Saya tidak tahu mengapa. Tapi mungkin karena mereka mengidentikkannya dengan daerah kekerasan. Ketika saya kuliah dulu, teman-teman di organisasi kemahasiswaan dimana saya bergabung tidak pernah mau mengadakan kegiatan di daerah-daerah orang  Lampung.  Alasannya satu, karena daerah itu masih banyak orang pribumi. Sungguh, saat itu dada saya sangat sesak rasanya. Jika anda ingin membuktikannya, tanyakanlah dengan orang yang selama ini berasal dari  salah satu etnis yang sering berkonflik dengan orang Lampung tentang orang Lampung, maka jawaban-jawabannya pasti sangat memojokkan orang Lampung. Saat anda menanyakan arah/jalan, Jika anda beruntung, maka anda akan mendapat jawaban, “Jangan ke sana di sana banyak orang pribumi” atau “jangan kesana, di sana daerah orang pribumi”.

Yang lebih ironis, pernyataan tidak mengenakkan dengan gamblangnya ditulis oleh salah seorang mahasiswa yang merupakan petinggi di komisariat organisasi kemahasiswaan yang bebasiskan agama di akun  facebooknya.  Intinya dia mempertanyakan kenapa daerah-daerah yang mayoritasnya orang Lampung merupakan daerah rawan dan berbahaya. Bahasa yang ia gunakan sangat tendensius dan menyakitkan mata saya.  sehingga membuat jari-jemari saya gatal untuk mengetikkan komentar seperti di bawah ini:

###
Pertanyaan yang sama yang diajukkan oleh orang BARAT terhadap Islam: Kenapa Islam selalu identik dengan Kekerasan, Pelanggaran HAM, Terorisme, Poligami, Keterbelakangan? Kenapa orang Palestina bisa sedemikian gila mau menjadi BOM hidup untuk meneror orang yahudi? Benarkah Islam demikian? sekejam itu? Teroris? Sebagai Muslim, tentulah kita tidak terima dikatakan seperti itu karena kenyataannya tidak demikian. Sebagai Aktivis, kita semua tahu, apa yang membuat oknum islam bisa menempuh jalan kekerasan. Salah satunya karena ketidakadilan. Tapi apa iya, semua Muslim demikian? Pastinya tidak. Selama ini, Manusia Modern tidak pernah mendapatkan Informasi yg berimbang. Hal ini mungkin karena tergantung siapa penguasa informasi/media, dan si penerima informasi tidak pernah mau tabayyun/cek dan ricek terhadap pihak lain yang selama ini bersemayam dalam pikirannya sebagai tokoh jahat dan barbar.
Saya berusaha untuk tidak memihak (walau saya orang Lampung). Ada yang bilang bahwa Transmigrasi adalah Kolonisasi/penjajahan model baru. Bahkan, kata teman saya, Salah seorang dosen di universitas tempatnya kuliahmengatakan bahwa Salah satu suku dominan di Indonesia tak lebih dari Zionis Israel. Kenyataannya, contoh nyata ini terjadi di Lampung (ini masih kata dosen itu). Saat ini, Suku Lampung Hanya 25 % dari total peduduk prov Lampung (Wikipedia). Bagaimana dengan Pendatang? hingga saat ini masih orang luar masih terus berdatangan, merambah dan mematok lahan-lahan baru. Contohnya masih terjadi di hutan register 45 Mesuji & Hutan Way kambas. Ribuan orang datang dan mengkavling-kavling lahan seenakknya.

Hal yang sama terjadi dengan keluarga Kakek saya. Kakek saya punya Tanah yang sangat luas, bahkan sangat luas dari yang pernah saya bayangkan. Tapi semua itu hilang ketika program transmigrasi terjadi -kayak cerita Avatar ya, hehehe- . ketika itu Pemerintah yang otoriter memaksakan program kolonisasinya di Ke-marga-an kami. Hasilnya, datanglah orang-orang baru, dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda, bahkan terkadang agama yg berbeda. Tapi karena orang Lampung memiliki prinsip Nemui Nyimah, maka mereka sangat welcome dengan pendatang. Meskipun tanahnya diambil paksa oleh pemerintah dan diserahkan kepada koloni. Hasilnya, Hingga kakek saya meninggal, tak ada sejengkal tanahpun yang tersisa yang bisa diwariskan kepada anak cucu. Tanah-tanah kakek saya sekarang telah menjadi kampung-kampung Koloni. (catatan: Hingga kini, Istilah "koloni" masih sering kami gunakan untuk menyebut daerah transmigrasi). Well, untuk kalian yang selalu teriak membela Palestina, coba berhenti sebentar, dan tengok ke dalam diri sendiri. Kalau kalian masih menganggap orang Lampung, Barbar, bahaya, Jahat, dll, apa bedanya kalian dengan Barat, Amerika dan Israel yang selalu menganggap Palestina (dan Islam) Barbar, Jahat dan menakutkan. selalu menganggap Koloni lebih beradab daripada pribumi.
###

Menurut saya, akar dari kerusuhan yang selama ini terjadi adalah ketidakadilan dan kesalahan sistem yang diterapkan pemerintah pada masa lampau ketika menerapkan program transmigrasi. Pemerintah terlalu mengistimewakan pendatang tanpa memikirkan kesejahteraan penduduk lokal sebagai pemilik tanah ulayat. Selain itu, pemerintah tidak pernah melakukan penelitian secara sosiologis  terhadap budaya lokal. Seharusnya sebelum dilakukan transmigrasi, terlebih dahulu dilakukan kajian sosiokultural terhadap penduduk lokal, untuk kemudian disampaikan kepada calon transmigran. Paling tidak, dengan pemahaman budaya, maka gap antara etnis yang berbeda ini bisa diperkecil. Sehingga gesekan-gesekan penyebab kerusuhan bisa diminimalkan.




Salam Damai
Adi yuza

Rabu, 18 Januari 2012

Pasar Tradisional, dalam ingatan dan realita

Pagi ini ibuku pulang dari pasar. Rasanya sudah lama momen seperti ini tidak kurasakan, rabu pagi menunggu ibu pulang dari pasar dengan keranjang belanjaannya. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menunggu ibu pulang dari pasar, mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu. Namun ada hal yang tak pernah hilang rasanya. Rasa senang ku ketika ibu pulang dari pasar. Rasa antusias ku menyambut ibu dan membawakan barang-barang belanjaannya ke dapur. Rasa yang sama ketika aku masih kecil dulu menyambut ibuku, sambil mencari-cari kue jajanan pasar. Rasa kue-nya masih sama, masih enak. Sama seperti bertahun-tahun yang lalu ketika aku belum mengenal Pizza, Burger, dan makanan Junk lainnya.

Di kampungku, ada dua pasar tradisional, Pasar Rabu dan Pasar Minggu. Seperti namanya, kedua pasar ini hanya buka pada hari Rabu dan Minggu. Kondisinya masih sama, becek dan agak kumuh (mungkin sekarang kondisinya makin parah). Dulu, aku begitu senang ketika hari pasaran tiba, terutama Pasar Rabu karena lokasinya yang cukup dekat dengan rumahku. Menapaki tiap jalan becek di dalam pasar. Menyempil di kerumunan orang orang yang punya kepentingan masing-masing di pasar. dan mencari-cari jajanan pasar yang aku suka. Momen yang paling aku suka adalah, ketika aku menang dalam proses tawar-menawar barang yang aku saat berbelanja di pasar. Yah, proses tawar menawar, hal yang lumrah dan sudah menjadi kebiasaan dalam budaya pasar kita. Sama-sama puas, Sama-sama untung.

Pasar tradisional adalah sebuah metafora bangsa Indonesia. Ketika hari pasaran di tempatku, orang-orang Lampung, Jawa, Ogan, Sunda, Bali, Batak, Padang, akan berkumpul mencari penghidupan. Mulai dari yang bermodal besar, seperti Tukang emas & Penjual pakaian atau yang tanpa modal seperti mereka yang menjual ayam peliharaan atau cabai hasil dari panen di halaman rumah. Ibuku sendiri kadang-kadang menjual kakao hasil panen di halaman belakang. kebetulan di rumahku tumbuh beberapa pohon Kakao.

Di sana aku melihat orang-orang bertransaksi, berkumpul, tawar-menawar. Terkadang aku mendengarkan perbincangan mengenai masalah politik & ekonomi dari kacamata mereka. Yang dalam hal ini, menurutku kami lah sebenarnya objek (atau mungkin korban) dari kebijakan politik pemerintah dan gerakan ekonomi neoliberal, yang mungkin kami sendiri tidak pernah menyadarinya. Meski kami merasakan dampaknya dengan kondisi ekonomi kami yang semakin mencekik


Aku sudah lupa kapan aku memasuki pasar di kampung ku. Kalau pun mengantar, aku hanya mengantar, tidak sampai menjelajah pasar seperti aku kecil dulu. Itupun aku lakukan saat pulang kampung seperti saat ini. Mungkin aku yang terlalu angkuh, yang terlalu terhipnotis oleh Mall, Supermarket, Department Store dan minimarket retail yang sudah menjamur seperti panu yang tak diobati. Aku tak bisa bayangkan, jika semua orang berpikiran sama sepertiku. Bahkan orang kampung sepertiku enggan pergi ke pasar tradisional.

Saat ini pun warung-warung kecil di kampungku hampir punah, termasuk warung yang dikelola ibuku, semenjak Indomaret dan Alfamart menancapkan kuku kapitalisnya beberapa tahun yang lalu. Mungkin hal yang sama akan terjadi dengan pasar tradisional, entahlah.

Seandainya pemerintah concern dengan hal seperti ini, mungkin akan beda ceritanya. Mungkin kita akan melihat pasar tradisional kita yang nyaman, paling tidak untuk dimasuki. Bahkan mungkin bisa jadi tempat wisata yang menarik seperti di Thailand yang juga terkenal dengan wisata pasar tradisionalnya. Tapi sayang, pemerintah tidak membuat suatu regulasi yang berpihak pada pedagang kecil. Kebijakan pemerintah selama ini seolah membiarkan pedagang kecil bertarung dengan Kapitalis dalam arena neolib. Kebijakan yang seperti membiarkan kambing bertarung denga macan di kandang macan.

Aku sendiri tidak tahu mengapa pemerintah lebih mementingkan pengusaha kapitalis, padahal lebih warga negara di repubilik ini yang butuh diayomi pemerintah. Walau tidak diberi modal, paling tidak buatlah kebijakan yang pro rakyat. Mengapa lebih mementingkan ekonomi Makro, padahal sebagian besar dapur masyrakat bangsa ini mengepul karena aktivitas ekonomi mikro. Bukankah yang menyelamatkan Indonesia dari krisis moneter karena geliat UKM.

Mengapa pemerintah kita lebih mementingkan Pencitraan dengan membuat angka-angka seolah-olah kemiskinan turun drastis, padahal nenek-nenek sekarat juga tahu, kalau ekonomi saat ini makin mencekik. BBM naik, dibatasi pula. Harga bahan kebutuhan pokok naik, harga barang naik, bahkan Rok pun naik (mungkin karena bahan kain yg semakin mahal). Sedangkan gaji yang diterima segitu-gitu aja.
Uuhh.. kepala ku pening memikirnya. Kenapa aku jadi sok tau begini.. kenapa malah bahas-bahas kapitalis Neolib? Ya sudah lah, minum kopi saja. Slrrrrrrp...

Rabu, 12 Januari 2011

Cahaya langit Harapan

'

Akhir-akhir ini semua terasa begitu kelabu.

Semua terasa, seakan-akan sekeras apapun ikhtiar yang saya lakukan, hari-hari kelam akan selalu melingkupi.


Saya bukannya apriori. Tapi kali ini, bukan lagi sekadar hidup dengan optimis atau pesimis, bukan lagi sekedar dua hal itu. Ini tentang kenyataan yang ada. Realitas yang saya harus hadapi. Dan Mendung ditambah cuaca ektstrim beberapa hari ini membuat perasaan makin dramatis.


Di saat seperti inilah saya butuh hangatnya cahaya semangat. Sehangat cahaya matahari di pagi yang cerah. Yang sejak bertahun-tahun lalu membuat saya optimis memandang masa depan. Semangat yang menjadi penambah energi saya untuk berjalan kaki ke kampus hingga kini, tanpa komplain.


Dimana Semangat itu?, Semangat yang saya butuhkan untuk tetap bertahan di tengah situasi ini. Sekeras apapun, Sesulit apapun, Sesakit apapun, Sesedih apapun, cahaya itu tak boleh padam.. Karena jika cahaya itu padam, maka semuanya akan menjadi benar-benar Gelap, Semua hitam.


Yah,, memang terdengar apa yang saya katakan seperti melantur. Tapi saya yakin, ini merupakan hal yang relevan. Dan saat ini saya perlu meng-Ekskresikan, meluapkan dan mengeluarkan apa-apa yang saya rasakan. Suasana kelam yang mencekam dan membuat berdiri bulu tengkuk ku akhir-akhir ini. Mereka datang secara diam-diam. Menelusup ke dalam tubuh dan berkembangbiak di tiap sel yang ada. Sehingga pikiran saya makin gelap.


Bahkan ketika saya merasa semuanya akan baik-baik saja. Dan saya katakan pada diri saya, bahwa "semua akan baik-baik saja dan semua akan berakhir baik". Saya merasa bahwa semua tidak akan sebaik yang saya harapkan.


Bahkan saya tidak bisa lagi berpikir optimis, tidak juga pesimis. Saat ini semuanya terasa samar, tak terbaca, dan membuatnya makin menakutkan. Realitas yang paling nyata akan kehidupan yang sebenarnya.


Seperti halya Iman, Optimisme pun fluktuatif. Kadang Kurva ekspektasi melonjak begitu tajam, atau bahkan tren nya menurun seketika.

===


Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi.


Ungkapan imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan belakangan ini. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak "bertanya" mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.

Mungkin saya mesti menambah energi ekstra untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal. Dan yang perlu saya camkan barangkali, bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.


Dengan kata lain, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak saya, pastinya adalah yang menyenangkan dan baik untuk saya (dalam kacamata saya).


Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah "paksakan" bagi diri saya. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita? (dan mungkin kalimat inilah yang perlu saya camkan).


Pokoknya, hidup adalah pilihan. Dan Saya telah mengambil keputusan, dari banyak pilihan yang ada. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang saya bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana saya memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.


Ada ikhtiar ada Tawakkal.. setelah iktiar maksimal terserah Dia mau seperti apa saya pada akhirnya.


Saya selalu berdoa agar saya tidak salah memilih dalam mementaskan hidup. Semoga saya Tetap Optimis dengan Keputusan yang pernah saya ambil. Dan konsisten dengan bara semangat yang saya genggam, yang dulu sempat membakar dengan nyalanya.


Untuk mereka yang saya cinta.


>> Kampung Baru, 12-1-2011 pkl 24.00


+ Untuk harapan orangtua thd saya

+ Untuk tanggung jawab saya thd masa depan saya

+ Untuk keputusan saya yang saya ambil beberapa tahun lalu.

+ Dan untuk perasaan saya thd seseorang.

,